Titik   Leave a comment

Ruang kelas sudah sepi. Anak-anak meninggalkan ruangan setelah pelajaran menggambar selesai. Tetapi, satu anak perempuan masih di sana, duduk membelakangi meja dengan wajah murung, meletakkan dagu pada lengannya yang bertopang di sandaran kursi. Kertas gambarnya ada di atas meja. Kertas itu kosong sama sekali.
Guru pelajaran menggambar mendatangi dia dan memperhatikan sungguh-sungguh kertas di atas meja, “Ah, aku tahu ini gambar beruang kutub yang tertimbun salju”, katanya.
“Aku memang tidak bisa melukis,”kata Vashti.
Si guru tersenyum.
“Buat saja sebuah titik,”katanya. “Kita akan melihat sejauh mana ia bisa membawamu.”
Vashti meraih spidolnya, mengangkat tangannya dan menancapkan spidol itu kuat-kuat ke kertasnya. “Ini,” katanya.
Bu Guru mengambil kertas itu dan agak lama memandangi titik hitam di tengah-tengahnya, kemudian menyodorkan kertas itu kepada Vashti: “Berikan tanda tangamu di sini.”
“Oke, aku mungkin tidak bisa melukis. Tetapi kalau hanya tanda tangan, aku bisa,” kata Vashti. Dan, ia membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjukkan oleh Bu Guru.

untitled

Itu adegan beberapa halaman awal buku “The Dot” karya Peter Reynolds – sebuah buku bergambar untuk anak-anak usia lima tahun. Saya menyukainya.
Peter menunjukkan bahwa hal sepele yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak, guru kepada murid dalam cerita itu, bisa mendorong terjadinya perubahan yang menakjubkan pada diri si anak. Melalui cerita itu, ia menyampaikan makna pendidikan, pembelajaran dan kreatifitas dalam cara yang setiap orang, termasuk anak-anak, akan mudah memahaminya.
Lebih dari itu, Peter menghidupkan arti belas kasih melalui ceritanya.

Sepekan kemudian, ketika masuk kelas lagi untuk kelas menggambar, Vashti melihat titik kecilnya terpajang di dinding kelas, tepat di belakang meja guru, diberi bingkai berukir warna emas. Dia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti itu. “Sebetulnya aku bisa membuat titik yang lebih bagus ketimbang itu,” pikirnya.
Begitu tiba di rumah, ia segera mengeluarkan cat air yang selama ini tidak pernah ia sentuh. Vashti melukis banyak titik, dalam berbagai ukuran, dalam berbagai warna, dan bersemangat melakukan percobaan-percobaan dengan mencampur-campurkan warna. Ia mencoba berbagai cara untuk menghasilkan titik. Ia juga menggunakan kuas berbagai ukuran.

Apa yang dilakukan bu Guru ini mengingatkan saya pada cerita lain tentang kuda yang tersesat di sebuah ladang pertanian. Binatang itu sudah setengah hari berjalan berputar-putar saja di ladang. Petani pemilik ladang kemudian mendekatinya dan membawanya ke jalanan. Setelah itu, mereka berdua melangkah menyusuri jalanan dan beberapa waktu kemudian keduanya tiba di rumah pemilik kuda. Si pemilik kuda mengucapkan terima kasih dan menanyakan bagaimana si petani tahu bahwa itu kudanya.
“Saya tidak tahu,”kata petani itu.
“Tetapi, Anda mengembalikannya ke saya,” kata pemilik kuda. “Dan kita tidak saling kenal, bagaimana Anda tahu rumah saya?”
“Saya tidak tahu,”kata petani itu.
“Ah, Anda bergurau,” kata pemilik kuda.
“Betul saya tidak tahu,” kata petani itu. “Kuda ini yang memberi tahu saya di mana rumah Anda. Ia tersesat di ladang saya dan tidak bisa menemukan jalan. Jadi, yang saya lakukan hanya membawanya ke jalan. Setelah berada di jalan, ia tahu ke mana harus melangkah untuk tiba ke kandangnya.”

Sesepele itu yang dilakukan oleh si petani terhadap kuda yang tersesat. Sesepele itu juga yang dilakukan Bu Guru terhadap Vashti yang merasa tidak bisa apa-apa dalam pelajaran melukis.
Sering memang hanya diperlukan tindakan sesepele itu – hanya “membawa ke jalan”, dan setelah itu memberikan kepercayaan penuh pada kreativitas dan pengetahuan setiap individu. Si kuda bagaimanapun menyimpan ingatan tentang jalan menuju kandangnya. Vashti bergerak untuk membuat titik-titik lain dan melakukannya dengan penuh percaya diri karena ia menyimpan pengetahuan: Ia tahu bahwa ia bisa melukis titik yang lebih bagus ketimbang titik pertama yang ia buat di depan gurunya. Tanpa ia sadari, Bu Guru telah menyalakan semangat kreativitasnya.

Pada pekan berikutnya, dalam pameran lukisan yang diadakan di sekolah, Vashti memajang banyak lukisan titik yang sudah ia buat. Seorang anak lelaki yang datang ke pameran itu memandangi Vashti dengan perasaan kagum. “Kau pelukis hebat,” kata anak lelaki itu. “Sebetulnya aku ingin melukis juga.”
“Aku yakin kau akan bisa,” kata Vashti.
“Aku? Tidak sama sekali,” kata anak itu. “Aku bahkan tidak bisa membuat garis lurus meskipun menggunakan penggaris.”
Vashti tersenyum. Ia memberikan kertas kosong dan pensil kepada anak itu. “Aku ingin melihat garismu,” katanya.
Pensil di tangan anak itu terus bergetar, garis buatannya tampak mata gergaji. Vashti menerima kertas itu dan mengamatinya dengan sikap sungguh-sungguh, kemudian menyodorkan kembali kepada si anak: “Berikan tanda tanganmu di sini.”

Ya, kita tahu anak-anak adalah peniru yang hebat. Ia meneladani tindakan orang-orang dewasa di sekitarnya. Ia akan melakukan kepada anak lain sebagaimana ia pernah diperlakukan oleh orang dewasa terhadapnya.

Oleh: A.S. Laksana
Jawa Pos Minggu, 25 Februari 2018

Iklan

Posted Februari 28, 2018 by 4n1ef in News

Tagged with , ,

Muffler aka Knalpot   Leave a comment

Setelah beberapa bulan lalu ganti kopling dan cek rem, kali ini Karlo butuh perawatan di bagian pembuangan gas. Memang tidak berpengaruh ke performa mobil, namun karena suara knalpot bocor yang menggerung, jadilah perlu ganti knalpot ini.

Penggantian dilakukan di bengkel CS Knalpot, depan Patung Kuda Tembalang. Ada dua bahan knalpot yang dijual di sini, bahan Stainless dan Galvanis. Karena galvanis lebih murah (kanker broooo)… jadilah pake yang galvanis saja. 🙂

Berikut penampakan knalpot dan gantinya:

Posted November 20, 2017 by 4n1ef in mana ceritamu? - Indomie

Pembantu Rumah Tangga, Bagaimana baiknya…   Leave a comment

Copas dari artikel KonsultasiSyariah.com

Pertanyaan:

Bolehkah saya punya khadimat ya ustadz masalahnya jadi ada non-mahram di rumah kami. Jazaakumullah Khair wa Barakallahu fikum, Wassallam

Neneng
Alamat: Jakarta Selatan
Email: nenengtxxxxx@yahoo.com

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc. menjawab:

Ada dua pendapat yang sekilas berbeda dalam masalah ini:

(1) Tidak membolehkan sama sekali, ini adalah pendapat mayoritas ulama madzhab (yakni: Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah)

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : أَكْرَهُ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الرَّجُلُ امْرَأَةً حُرَّةً يَسْتَخْدِمُهَا وَيَخْلُو بِهَا وَكَذَلِكَ الْأَمَةُ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ أَمَّا الْخَلْوَةُ فَلِأَنَّ الْخَلْوَةَ بِالْمَرْأَةِ الْأَجْنَبِيَّةِ مَعْصِيَةٌ . وَأَمَّا الِاسْتِخْدَامُ فَلِأَنَّهُ لَا يُؤْمَنُ مَعَهُ الِاطِّلَاعُ عَلَيْهَا وَالْوُقُوعُ فِي الْمَعْصِيَةِ (بدائع الصنائع 4/189)

Imam Abu Hanifah mengatakan: “Aku benci (yakni mengharamkan) pria menyewa wanita merdeka, untuk dijadikan sebagai pembantu dan bisa menyendiri dengannya. Begitu pula jika yang disewa adalah wanita hamba sahaya”. Ini (juga) pendapatnya Abu Yusuf dan Muhammad. Alasan larangan menyendiri dengannya, karena menyendiri dengan wanita yang bukan mahrom adalah maksiat. Sedang alasan larangan menjadikannya pelayan, karena tidak akan selamat dari melihatnya dan terjatuh dalam kemaksiatan. (Bada’i’us Shana’i’, 4/189)

سَمِعْتُ مَالِكًا وَسُئِلَ عَنْ الْمَرْأَةِ تُعَادِلُ الرَّجُلَ فِي الْمَحْمَلِ لَيْسَ بَيْنَهُمَا مَحْرَمٌ فَكَرِهَ ذَلِكَ , فَاَلَّذِي يَسْتَأْجِرُ الْمَرْأَةَ تَخْدِمُهُ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا مَحْرَمٌ وَلَيْسَ لَهُ أَهْلٌ وَهُوَ يَخْلُو مَعَهَا أَشَدُّ عِنْدِي كَرَاهِيَةً.المدونة 3/443

Aku pernah mendengar Imam Malik ditanya tentang wanita yang mengambil pria (sebagai kusir) sekedupnya, padahal tidak ada mahrom diantara mereka, maka beliau membenci (mengharamkan)-nya. Karena itu, pria yang mengambil wanita sebagai pembantu padahal tidak ada mahram diantara mereka, sedang si pria tidak punya istri, dan dia bisa menyendiri dengannya, itu lebih haram bagiku. (Al-Mudawwanah, 3/443)

لَوْ اسْتَأْجَرَ أَجْنَبِيٌّ أَمَةً تَخْدُمُهُ فَوَجْهَانِ, وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْأَصَحُّ التَّحْرِيمَ; لِأَنَّهُ لَا يَنْفَكُّ عَنْ النَّظَرِ غَالِبًا .(حاشية قليوبي وعميرة 3/72)

Jika pria yang bukan mahram mengambil budak wanita sebagai pembantunya, maka ada dua pendapat (dalam madzhab syafi’i), dan yang layak dijadikan sebagai pendapat yang paling shahih adalah pendapat yang mengharamkannya, karena pada umumnya tidak mungkin lepas dari melihatnya (padahal melihatnya itu haram hukumnya). (Hasyiah Qalyubi dan Umairah, 3/72)

(2) Membolehkan dengan syarat selamat dari hal yang dilarang syariat. Ini pendapatnya Madzhab Hambali.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رضي الله عنه: يَجُوزُ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الْأَجْنَبِيُّ الْأَمَةَ وَالْحُرَّةَ لِلْخِدْمَةِ, وَلَكِنْ يَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْ النَّظَرِ لِلْحُرَّةِ. لَيْسَتْ الْأَمَةُ مِثْلَ الْحُرَّةِ, فَلَا يُبَاحُ لِلْمُسْتَأْجِرِ النَّظَرُ لِشَيْءٍ مِنْ الْحُرَّةِ, بِخِلَافِ الْأَمَةِ, فَيَنْظُرُ مِنْهَا إلَى الْأَعْضَاءِ السِّتَّةِ, أَوْ إلَى مَا عَدَّا عَوْرَةَ الصَّلَاةِ عَلَى مَا يَأْتِي فِي النِّكَاحِ, وَالْحَاصِلُ أَنَّ الْمُسْتَأْجِرَ لَهُمَا كَالْأَجْنَبِيِّ, فَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَخْلُوَ مَعَ إحْدَاهُمَا فِي بَيْتٍ, وَلَا يَنْظُرَ إلَى الْحُرَّةِ مُتَجَرِّدَةً, وَلَا إلَى شَعْرِهَا الْمُتَّصِلِ; لِأَنَّهُ عَوْرَةٌ مِنْهَا, بِخِلَافِ الْأَمَةِ.

Imam Ahmad Rahimahullah mengatakan: “Pria yang bukan mahram boleh mengambil wanita -baik budak atau merdeka- untuk dijadikan sebagai pembantu, tapi ia harus memalingkan wajahnya dan tidak melihatnya, jika pembantunya itu wanita yang merdeka. Pembantu wanita yang budak tidak seperti yang merdeka.

Karena itu, Pria yang menjadikannya pembantu tidak boleh melihat bagian tubuh manapun dari wanita yang merdeka. Berbeda jika pembantunya itu wanita dari budak, maka ia boleh melihatnya pada bagian tubuhnya yang enam, atau bagian tubuh yang tidak menjadi auratnya ketika shalat, sebagaimana akan diterangkan pada bab nikah.

Intinya, Pria yang menjadikannya pembantu tidak boleh melihat keduanya, sebagaimana pria lain (yang bukan mahram). Karenanya ia tidak boleh menyendiri dengan kedua jenis pembantu ini dalam satu rumah, ia tidak boleh melihatnya terbuka, dan tidak boleh melihat rambutnya yang masih sambung, karena itu termasuk auratnya, berbeda jika pembantu wanitanya itu dari budak” (Mathalibu Ulin Nuha, 3/615, dan Kasysyaful Qona’, 3/548)

Dua pendapat ini, sebenarnya tidak bertentangan, karena ulama yang membolehkannya, melihat hukum asal akad tersebut, sedang ulama yang mengharamkannya, melihat hukum akhirnya setelah dipengaruhi situasi dan kondisi. Mereka semua sepakat bahwa hukum asal akad sewa tersebut dibolehkan, dan mereka juga sepakat jika akad sewa tersebut mengandung hal yang melanggar syariat maka dilarang. Wallahu a’lam.

Kesimpulannya, diharamkan mengambil pembantu, kecuali dalam dua keadaan:

(a) Jika keadaannya darurat atau sangat membutuhkan sekali.

(b) Jika bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat, seperti melihatnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya pria dan wanita yang bukan mahram, dll.

Syaikh Muhammad Al-Utsaimin mengatakan:

Pertama: Hendaklah kita tidak mendatangkan pembantu -wanita atau pria- kecuali jika keadaannya mendesak atau darurat, karena kedatangan pembantu itu akan menghabiskan banyak biaya yang sebenarnya tidak diperlukan dan bukan darurat, padahal Nabi -shallallohu’alaihi wasallam- telah melarang umatnya menyia-nyiakan harta.

Kedua: Sebagian mereka kurang amanah dalam menjalankan tugas yang kita percayakan kepadanya. Oleh karena itu, tidak seyogyanya mendatangkan pembantu -pria atau wanita- kecuali dengan beberapa syarat:

Untuk pembantu wanita: (Jika rumahnya jauh) Harus ada mahramnya. Jika tidak ada, maka tidak boleh mendatangkannya, karena sabda Nabi –shallallahu alaihi wasallam-: “Wanita tidak boleh safar kecuali dengan mahramnya”… Tidak ditakutkan menimbulkan fitnah (bahaya syahwat). Jika takut menimbulkan fitnah, baik terhadap dirinya maupun anak-anaknya, maka ia tidak boleh melakukannya. Harus selalu menjalankan kewajibannya menutup wajahnya. Tidak boleh menyendiri dengannya. Jika tak ada orang lain di rumahnya, maka ia tidak boleh mendatangkan pembantunya sama sekali, begitu pula, jika ada orang lain di rumahnya tapi mereka biasa pergi dari rumah dan ia tinggal sendiri di rumahnya bersama pembantu ini, maka ini juga tidak boleh, karena sabda Nabi –shallallahu’alaihi wasallam-: “Pria tidak boleh berduaan dengan wanita kecuali dengan mahramnya”. (Liqa’ul Babil Maftuh, no soal: 619)

Syeikh Abdullah Al-Faqih mengatakan: “Menyebarnya tren mendatangkan pembantu rumah tangga ini, banyak menyebabkan kerusakan, dan kenyataan adalah saksi paling baik untuknya, diantara kerusakan itu adalah:

Pertama: Dan ini yang paling bahaya, mendholimi putra dan putrinya ketika mereka dirumahnya, yaitu dengan menyerahkan pendidikan mereka kepada para pembantu wanita, sehingga anak kehilangan ikatan rasa dengan ortunya, padahal ikatan rasa itulah unsur utama dalam mendidik dan mengarahkan jiwa anak.

Kedua: Adanya pembantu wanita dalam rumah, merupakan penyebab utama yang mendorong para ibu keluar rumah, baik untuk kerja, atau belanja, atau pergi ke rumah orang lain. Dan ini jelas bertentangan dengan maksud dan tujuan Syariat Islam agar wanita menetap di rumahnya, Allah berfirman (yang artinya): “Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian!” (Al-Ahzab:33)

Ketiga: Menjadikan wanita (yakni istri dan putri majikan) merasa jenuh dan malas, dan ini merupakan penyebab utama terjangkitnya banyak penyakit pada wanita.

Keempat: Membiarkan pembantu wanita di dalam rumah bersama anak-anak usia puber, termasuk diantara penyebab jatuhnya mereka dalam perbuatan keji (zina)” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no fatwa: 18210).

Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan, sebaiknya kita tidak mengambil pembantu, karena banyaknya mafsadah yang ditimbulkan, dan sulitnya memenuhi syarat dari ulama yang membolehkannya. Kecuali bila keadaannya darurat atau sangat mendesak sekali. Wallahu a’lam.

https://konsultasisyariah.com/547-bolehkah-memiliki-pembantu-rumah-tangga.html

Lalu bagaimana solusinya?

Berikut artikel Wasiat sebelum Tidur dari Majdi As-Sayyid Ibrahim di https://almanhaj.or.id/232-wasiat-sebelum-tidur.html

قَالَ عَلِيٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ مَاتَلْقَى مِنْ أَثَرِالرَّحَى فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَاْنَطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِِئِ فَاطِمَةَ فَجَاءَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ اَخَذْنَا مَضَا جِعَنَا، فَذَ هَبْتُ لاِقُوْمَ، فَقَالَ : عَلَى مَكَا نِكُمَا، فَقَعَدَ بَيْنَنَا، حَتَّى وَجَدْتُ بُرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِى، وَقَالَ : أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِى؟! إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَ ثَلاَثِيْنَ، وَتُسَبِّحَاثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَتَحْمَدَا ثَلاَثَةً وَثَلاَثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.

“Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. [1]

Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa yang bermanfa’at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.

Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya, berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling. Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. “Tetaplah engkau di tempatmu”. “Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?”.

Fathimah menjawab.”Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku”.

Beliau berkata. “mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?”. Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. “Ali berkata, ‘Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu”.

Ada yang bertanya. “Tidak pula pada malam perang Shiffin ?”.
Ali menjawab. “Tidak pula pada malam perang Shiffin”. [2]

Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta Fathimah dan dzikir ?

Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah.

1. Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
2. Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
3. Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
4. Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.


Bagaimana jika memang keadaan mendesak? Misalnya ketika punya dua anak yang masih kecil dan salah satunya harus antar jemput sekolah? Misalnya A adalah anak nomer satu dan B anak nomer dua dan memang ibu tidak bekerja di luar rumah, sementara A harus ke sekolah….

Pendapat kami, dengan tetap berusaha mengamalkan hadist Fatimah di atas dan mengingat adanya kebolehan mengambil pembantu asal tidak melanggar syariat… sekali lagi ini kasuistis, maka boleh mengambil pembantu selama suami tidak ada di rumah, agar tidak terjadi ikhtilath. Carilah pembantu yang dekat dengan rumah sehingga ia bisa datang pagi pulang siang atau sore sehingga ia tidak dihitung safar tanpa mahram. Dengan begitu, yang antar jemput anak sekolah adalah pembantu, dan di rumah juga dapat membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, serta dengan tidak menginap dapat lebih menghemat biaya.

Teknisnya? Pembantu bisa datang untuk menjemput anak A ke sekolah sesuai dengan jam masuk sekolah, kemudian mengantar ke sekolah. Setelah suami berangkat, pembantu tersebut bisa pulang ke rumah atau menunggu anak A (disesuaikan kondisi sudah berani ditinggal atau belum anaknya) dan sebelum suami pulang, pembantu tersebut telah kembali ke keluarganya/tidak bertemu dengan suami. Pertemuan antara suami dan pembantu hanya bisa terjadi jika ada janji yang disepakati terlebih dahulu dengan ditemani oleh istri.

Semoga bermanfaat dan menjadi solusi, wallahu a’lam.

 

Posted Oktober 27, 2017 by 4n1ef in Pengetahuan Umum, Uncategorized

Bismillah, merakit Pralon dan Plafon menjadi Home   Leave a comment

Sandang, pangan dan papan adalah tanggung jawab suami yang harus dipenuhi untuk keluarganya, meski boleh dibantu oleh istrinya. Dan karena tuntutan kerja yang nomaden, dengan mempertimbangkan wilayah yang paling dekat, maka semenjak kepindahan dari Sulawesi ke Jawa, mulailah mencari rumah untuk domisili. Banyak yang harus dipikirkan, mulai dari mana dananya, lokasi dan kriteria lainnya.

Beberapa rumah yang sudah disurvey misalnya:

Tiap rumah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dengan resiko yang bermacam-macam. Dan bismillah,, setelah memantapkan diri dan mendengar masukan dari keluarga, akhirnya memberanikan diri beli rumah yang seken, berlokasi bagus. Dengan renovasi sedikit, tidak perlu mewah, alhamdulillah yang penting punya rumah sendiri.

Begini penampakan rumah sebelum renovasi:

 

Renovasi, memilih keramik dan cat:

Rumah Jadi:

Tidak muluk-muluk, dan semoga Allah berkahi kami dengan rumah yang ada ini, bisa bermanfaat untuk lingkungan dan menambah bakti kami pada kedua orang tua kami. Aamiin.

Posted Oktober 20, 2017 by 4n1ef in Ini ceritaku, mana ceritamu? - Indomie, Uncategorized

Perawatan ‘gerobak’ demi keluarga   Leave a comment

Alhamdulillah, di tahun ketiga semenjak beli ‘gerobak’, Karimun Estilo yang biasanya jarang dipakai, menjadi sering dipakai karena LDR Solo-Semarang. Insya Allah, istri akan melahirkan anak kedua di Solo, dan saya jadi sering bolak-balik Solo-Semarang.

Di pertengahan April tahun ini, karena ada libur di hari Senin, saya dan keluarga pulang balik ke Solo. Di perjalanan, mobil terasa kurang kencang dan tidak kuat saat menanjak. Wah,,, perlu diperiksa ini. Setelah balik Semarang lagi, saya coba bawa ke bengkel resmi untuk cek. Oleh bengkel disarankan untuk mengganti kampas kopling, dan ganti nya harus satu set. Jasa ganti dan beli sparepartnya lumayan bikin nangis,, 2 juta. Setelah dipikir-pikir, ya udahlah daripada di jalan mobil ga bisa jalan. Pas di rumah, dibuka catetan penggantian, kampas diganti di Januari 2012, artinya ini kampas udah 5 tahun juga umurnya.

Setelah kampas, muncul masalah yang sama dengan di akhir tahun kedua (2016), yaitu radiator Karlo sering panas. Setelah dibawa ke bengkel langganan bapak di Solo (2016), penyakitnya sembuh. Namun, penyakit itu muncul lagi, dan dibawa lagi ke bengkel. Kata bengkelnya, motor radiator panas sampai ke kipas radiator, jadilah dua macam benda itu diganti yang original “G”.

Satu minggu setelah balik dari Solo, eh… radiator nya naik lagi. Kali ini, dibawa ke bengkel resmi Suzuki di Ungaran. Mekanik suzuki Cuma ganti relay nya (gratis) dan bilang ini dibawa ke korok radioator aja mas… Lanjutlah aku nyari bengkel spesialis radiator di Ungaran. Setelah nyari2, ketemulah tempat servis radiator Yoyok di belakang sekolah As-Salamah. Setelah dikorok radiator, saat penggantian dengan air yang baru dan mesin dihidupkan (agar air berputar), ternyata air tidak berputar seperti seharusnya.  Artinya, ada kemungkinan water pump (pompa air) untuk memutar air tidak bekerja. Disarankanlah saya, ke bengkel sebelah yaitu bengkel mobil punya pak Narto/Pak Trimo.

Setelah Jum’atan di masjid terdekat, dibongkarlah Karlo sampai ke plat-platnya untuk mengambil water pump. Ternyata… water pump nya memang sudah tak punya gigi sama sekali alias ompong…

Karlo10

Dan mumpung dibongkar, pak Trimo menyarankan untuk ganti timing belt dan tensiometer sekalian karena sudah aus.

Berangkatlah saya untuk mencari suku cadang dimaksud. Water pump, timing belt dan tensiometer. Pertama ke pasar Ungaran depan Blimbing Sari, ga nemu. Ke pasar Jati, ke Surya Motor, Kartika Motor Srondol, ga nemu juga. Akhirnya, ditemani rintik hujan dan saya ga bawa mantol (ini aja pake motor empunya bengkel), saya ke Mataram (Semarang bawah).

Alhamdulillah, setelah hampir putus asa karena udah jam lima lewat (toko udah pada tutup), akhirnya saya nemu Water pump karlo di toko Suzuki motor Mataram.

Setelah sampai bengkel, ternyata bengkel juga udah gelap dan saya diminta untuk mengantar motor ke rumah empunya bengkel. Dan mobil harus nginap di bengkel dan besok baru bisa diambil.

Satu kampas, dua radiator. Yang ketiga, shockbreaker depan. Sebenarnya udah kerasa dari lama, Cuma pas ganti kopling di beres kemarin, mekaniknya memang sudah bilang kalau ada rembesan oli di shockbreaker (SB), jadi memang harus diganti daripada kena sparepart yang lain. Ini juga lumayan nguras dompet karena harus beli satu set kanan-kiri (padahal yang rembes Cuma sebelah) 1,4 juta. Jasa pasangnya di bengel ondersteel Khamid Banyumanik 100ribu.

Satu dua tiga, sebenarnya yang keempat ini juga insiden ketika rumah di Solo diguyur hujan. Ketika hujan dan Karlo melintas di genangan air, tak terasa (tapi ini terjadi….. lho kok nyanyi) genangan air masuk ke karpet dasar mobil. Jadilah mobil bau apek yang susah banget ngilangin airnya. Sebab musabab nya, banyak pentil karet bawah yang lepas, atau mungkin ga ada semua 😦 .

Alhamdulillah, ada temen mas hadi driver, mas Agung yang bisa membantu. Lepas jok, ganti karpet dasar dan sekalian diselep/dibersihkan lampu depan nya. Meski cukup banyak biayanya, semoga setelah ini tidak banyak pengeluaran untuk Karlo karena mau dipake sama adiknya Lathif… amin…

Posted Mei 22, 2017 by 4n1ef in Uncategorized

Diklat Lama di Balai Diklat Baru   Leave a comment

Pertama kali Diklat di Balai Diklat BEPEKA yang BARU di Makassar.

Senin sampe Rabu pekan kemarin, kami berenam dari Perwakilan Jawa Tengah dipanggil diklat Penyusunan Laporan Keuangan di Makassar. Panggilan ini artinya saya akan bernostalgia kembali dengan Memorable Places di kota Makassar, the centre point of Indonesia. Kota Daeng, kota dimana untuk pertama kalinya saya bersama Herlambang Aji Kusuma dan Dimaz Okky Primandita ditugaskan (cuma beda kantor aja sih..)

So,, kami berenam, sepakat membentuk WAG baru bernama Diklat Hore MKS. Apa itu diklat Hore? ya Diklat, ilmunya dapat, juga hore2 alias Jappa-jappa atau jokka-Jokka di kota Makassar. Sayang sekali, waktu diklat dari jam setengah 8 sampai setengah 5 menyisakan waktu jalan yang tak banyak. Apalagi, sekarang Balai Diklat BPK Makassar letaknya tambah jauh dari kota, di jalan Tun Abdul Razak kalau di Gmap atau jalan Yasin Limpo, Rumangpolong Gowa Sulawesi Selatan. Anyway, tetap yang penting dijalani dengan happy dan enjoy. And, this is it..

 

 

 

 

cc: Mohamad Adnan, Riezkiana Kristina Nirmalawati, Sinta Mahardika, Kundri Astuti Wardani, Eni Sudiarti

 

Posted Maret 27, 2017 by 4n1ef in Ini ceritaku, mana ceritamu? - Indomie

Tagged with

Magang awal di BEPEKA   1 comment

Mengenal dunia kerja adalah salah satu tujuan magang sebelum ditempatkan. Dalam magang, seseorang akan mengetahui bagaimana kompleksnya dunia kerja; mengenal tanggung jawab dalam arti sebenarnya, melatih bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua, lebih pandai, atau yang lebih rendah daripada si pemagang itu sendiri.

Lebih lagi, prosesi magang tersebut berada di sebuah kantor pusat lembaga tinggi negara, Badan Pemeriksa Keuangan atau yang lazim disingkat dengan BPK. Kantornya pak Anwar Nasution di jalan Gatot Subroto no.31. pemagang dari STAN berjumlah 125 orang yang dtempatkan di berbagai biro dan auditorat.

Sebelum magang, pemberkasan CPNS lulusan yang berasal dari STAN penempatan BPK (selanjutnya disebut BPK-STAN) berlangsung dalam satu setenagah hari. Hari Ahad tanggal 2 November 2008, briefing awal, perkenalan serta persiapan pemberkasan yang akan dilaksanakan esok harinya di Kantor Pusat. Seninnya, BPK-STAN disambut oleh Pak Mossi selaku Kabiro SDM. Selama minimal sebulan, BPK-STAN akan menjalani penempatan sementara (magang) di kantor pusat. Selanjutnya, pengisian form DRH, surat pernyataan, dan Riwayat Penempaan yang sangat menegangkan karena akan menentukan wilayah mana yang akan diberikan pada lulusan STAN tersebut. Pada pertengahan hari kedua, lulusan STAN dibagi dan diantar menuju ruang masing-masing untuk magang.

Kantor pusat BPK terdiri dari dua gedung, gedung Arsip dan satu lagi gedung Utama (gedung Umar Wirahadikusumah). Gedug Utama terdiri dari 11 lantai, sedang gedung arsip terdiri dari 8 lantai.

Seratus dua puluh lima orang BPK-STAN dibagi menjadi beberapa bagian. Ada yang mendapat dalam satu ruang belasan orang, misalnya di Biro SDM, ada pula yang satu ruang hanya satu orang. Tupoksi masing-masing berbeda, dan pengalamannya-pun pasti berbeda-beda. Pada AKN (Auditorat Utama Keuangan Negara) I misalnya, terdapat lulusan STAN yang ikut Pemeriksaan Stempat (PS) ke BMG, meski tidak dimasukkan dalam Surat Tugas karena belum diklat. Di AKN II yang membidangi keuangan Negara (Depkeu dan BI); BPK-STAN diperkenankan ikut dalam peer review (peninjauan ulang) Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). AKN IV baru saja mengadakan konsinyering di hotel salama 3 hari. AKN V dilatih untuk Indexing (menyusun) KKP. Sedangakan di AKN VII yang memeriksa BUMN, BPK-STAN diminta untuk lebih memahami kondisi BUMN di Indonesia dengan membuat proyek Gambaran Umum BUMN (GU-BUMN).

Lembur di BPK paling banyak terjadi di Biro SDM, karena tahun ini terdapat proyek penerimaan pegawai S1 dan D3 di BPK. Lembur pertama menginput data pelamar dalam system konputer dan lembur kedua menempel foto pelamar ke KPU (Kartu Peserta Ujian). Uang lembur bisa digunakan sebagai tambahan uang saku.

Tanggal 1 Desember, BPK-STAN menerina uang tunjangan kegiatan (baca: uang saku) sebesar 1,9 juta untuk magang selam dua bulan (Nov-Des). Sedangkan TMT rencananya akan dimulai 1 Januari 2009. “Likuiditas Perusahaan” kembali terselamatkan. Semoga BPK-STAN diberi kelancaran dan kemudahan. Amin.

Posted November 14, 2016 by 4n1ef in Uncategorized