Di tempat ini aku bertahan…   Leave a comment

Siluet senja sore itu sangat indah. Awan bertumpuk coklat kemerahan. Angin bertiup sedang, tak terlalu kencang, tak terlalu lambat. Setelah melihat bangunan tua benteng Rotterdam bersejarah, berjalan menyusuri pesisir kota Makassar, ingin sekali menyaksikan keMaha-Sempurnaan Sang Pencipta, sunset di Pantai Losari.

Tak terasa, genap sudah sebulan aku di Makassar. Sebuah kota metropolis terbesar di kawasan Indonesia Timur. Dengan sebagian besar masyarakat asli yang bergengsi tinggi, namun banyak juga yang masih rendah hati. Tak semua kata orang dan kata media benar, bahwa di sini banyak tawuran, orang berwatak keras, dan setrusnya,, tapi tinggal diri kita yang memilih, akan bergaul dengan siapakah kita…

Lalu apa yang sudah dikerjakan? Pertama datang, tentu cari tempat tinggal. Setelah itu, cari makanan yang murah dan halal. Kemudian, mencari ma’isyah di kantor. Minggu pertama dilalui dengan perkenalan, fotokopi, membaca peraturan2, dan membuat kuitansi pembayaran untuk diklat. Selanjutnya bisa macam-macam, membuat laporan pertanggungjawaban, laporan evaluasi pelaksanaan, rekonsiliasi belanja UP dan LS ke KPPN, membayar tagihan pajak di KPP, revisi DIPA di Kanwil, dan membuat RKA-KL, dan seterusnya. Ya, aku di bagian keuangan. Melihat angka berderet-deret yang memang harus dicairkan, kalau tidak malah dianggap kinerjanya kurang. Sampai sekarang aku masih bingung, kenapa kinerja organisasi masih diukur dari tingkat penyerapan anggaran, bukan output dan outcomes yang dihasilkan. Mengenal betapa pentingnya uang bagi setiap orang, namun juga harus sadar bahwa dunia adalah tempat sementara. Semua harta akan dipertangggungjawabkan, dari mana asalnya dan kemanakah dibelanjakan.

Tanggal 21-23 april kebetulan ada diklat Arbutus di Balai. Malam ahad pertama, kutemukan labuhan hati, tempat mendengarkan petuah Alloh dan Rasul-Nya di masijd wihdatul ummah. Menyadari kembali bahwa apa yang kita pernah kata, apa yang kita pernah buat, perrnah salah, bahkan sering salah. Menuntut ilmu adalah sebuah proses yang takkan berhenti hingga maut menjemput. Minggu kedua, kasub pergi ke Jakarta, meninggalkan acara main bersama. Namun waktu tak akan berguna bila main tanpa ada tambahan ilmu yang berguna. Kebetulan ada sosialisasi P2, sehingga aku juga bisa memperdalam ilmu tentangnya. Kajian laqzis ada di hari sabtu masjid H.M Asyik di jalan A.P. Pettarani, ada juga kajian di UIN dan UNM, tapi hanya Dimaz yang bisa pergi kesana.

Belanja netbook, tas laptop, dan kacamata adalah belanja yang turut mendukung program percepatan ‘penipisan dompet’. Tapi mau gimana lagi, aku sudah bilang, aku akan hidup mandiri sejak magang dahulu. Dan Alhamdulillah, selalu ada sebagian rizqi-Nya yang dikaruniakan padaku. Dan memang harus begitu, lihatlah ke ‘atas’ dalam masalah akherat dan lihatlah ke ‘bawah’ bila melihat dunia.
Makassar memang punya banyak makanan khas. Ada coto Makassar, conro, palu basa, palu mara, dan pisang epe. Minumannya juga tak kalah banyak. Es palu butung, es pisang ijo, dan masih ada lagi…

Tempat wisatanya juga very beautiful, sementara ini yang paling membuatku takjub adalah sunset di Losari,, subhanalloh,, indahnya… Maha Suci Ia yang menciptakan langit tanpa tiang, bumi dihamparkan untuk didayagunakan oleh manusia.
Keluarga baru telah kutemukan di sini,, seorang pak sri haryoso yang bijak, ibu nurul yang dari gaya bicara, sikap dan bahkan tulisannya sangat mirip dengan ibuku, mbak ariyani yang wajahnya seperti kakakku, adikku fitro yang selalu ceria, kakakku dimaz dan aji, dan saudara-saudaraku yang sudah mau berbagi kursi dan meja padaku…

Segala puji bagi Alloh,, Alhamdulillah,, Ada yang mau ikut nyusul ke Makassar???

Posted Agustus 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s