Dinasti Tikus   Leave a comment

Drama pengungkapan berbagai kasus yang menimpa para pejabat sepertinya akan terus berlanjut, jika tak tertutup kasus lain. Seperti downline dalam MLM, satu orang ‘tertarik’, ia akan ‘menarik’ tiga atau bahkan lima orang yang lain. Satu orang diseret ke meja hijau, ia akan “bersiul” membeberkan nama yang terkait dan ikut menikmati hasilnya. Suatu sikap yang secara naluri memang ada pada setiap manusia. Barangkali Anda pernah menghardik anak Anda karena merusak mainan temannya, lalu tanpa Anda minta ia akan mengadukan teman-temannya yang berpartisipasi dalam perusakan tersebut dengan harapan mereka juga akan dimarahi. Karenanya, saat satu ‘gayus’ tertangkap, akan menyusul ‘gayus-gayus’ lain, kecuali jika ‘gegayus’ itu berhasil membungkam para pengincarnya.

Kian hari, kasus-kasus ini tidak menunjukkan tren positif. Positif dalam arti, oknum-oknum yang sudah terungkap saja yang melakukan korupsi, suap, jadi makelar kasus maupun terlibat jaringan mafia hukum yang diproses secara hukum. Kasus yang terungkap ibarat pucuk es yang terlihat hanya seperti bongkahan di permukaan tapi ada gunungan dibawahnya. Meski begitu, yang sedikit itu sudah mampu memberi gambaran, betapa korupsi, suap dan kecurangan seperti telah mengurat akar di negeri ini. Membayangkan saja, seorang akan pesimis bisa memberangus sarang tikus di negeri ini sampai bersih. Apalagi melihat realita, para pejuang pembasmi tikus banyak yang kewalahan menghadapi berbagai intrik dan jebakan dari tikus-tikus babon yang telah berpengalaman. Parahnya lagi, para tikus telah berhasil menggerogoti institusi penegak hukum. Sepertinya, dinasti tikus telah berdiri tegak di sini.

Ngomong-ngomong soal korupsi, suap dan kecurangan, telunjuk kita akan menuding pejabat dan level atas. Tapi benarkah cuma pejabat saja yang menjadi atau berpotensi menjadi tikus? Sedang rakyat kecil yang biasa berdemo antikorupsi, yang selalu mencibir saat mendengar kasus korupsi ditayangkan di tv, adalah manusia-manusia bersih dan murni tak memiliki nafsu korupsi maupun kolusi?

Semoga saja iya, dan semoga saja hal itu bukan cuma karena – maaf- kita tidak punya kesempatan saja. Andai saja ada kesempatan, wallohu ‘alam wa na’udzubillah, belum tentu kita tidak ikut-ikutan menjadi tikus. Dan, benarkah kita tidak sama sekali memiliki potensi korup, suap dan senang dengan kecurangan?
Coba kita lihat, setiap kita hampir pasti pernah berurusan dengan institusi hukum seperti polisi, pengadilan, atau pajak dan berbagai urusan perizinan. Apa yang kita lakukan saat kena tilang? ‘damai’ dengan berbagi sedikit rizqi dengan petugas atau sidang di pengadilan? Dan saat sidang, adakah kita benar-benar disidang atau minta tolong calo di lobi pengadilan untuk mengambilkan SIM atau STNK? Dan apa yang kita lakukan saat kesulitan mengurus berbagai surat atau perizinan di berbagai kantor instansi?

Wallohul musta’an. Kita memang masih bisa berdalih tak kuasa mengelak jeratan sistem korup yang seperti sudah mengurat – mengakar, mentradisi dan mengkultur di negeri ini. Tapi jujur, kita juga tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kasus, kadangkala kita melakukan itu karena tak ingin ribet alias cari mudahnya saja. Dimana dengan begitu, kita telah menjadi donator bagi kejayaan dinasti tikus di bumi pertiwi. Kalau begini, sampai kapanpun dinasti tikus takkan mungkin tergoyahkan. Karena ternyata, secara diam-diam kita –saya dan Anda – telah menjadi simpatisan dan menjadi akar serabutnya.

Sumber: Majalah Ar-Risalah No.107/Vol.IX/11 kolom Biah halaman 2-dgn sedikit perubahan. 22/06/2010

Posted April 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s