Kejujuran   1 comment

ujur ya jujur tapi jangan polos begitu…., mungkin Anda dan saya pernah mendengar kata-kata demikian. Atau mungkin, di jaman sekarang, susah menjadi orang jujur (itu sih kata2 orang pesimis). Atau barangkali, sampai saat ini belum ada sosok yang bisa menjadi contoh bagi kita untuk bersikap jujur. Begitukah?

Memang saat ini sudah langka yang namanya kejujuran, tapi bukan berarti tidak ada. Susah tapi bisa lebih bermakna daripada ungkapan orang pesimis bisa tapi susah. Orangtua yang mengajarkan anaknya menjawab telepon, mama sedang tidak ada dirumah padahal ibunya ada di rumah adalah kebohongan. Kepala sekolah dan guru yang mengajarkan anak didiknya saling membantu saat ujian juga kebohongan. Pedagang mangga pinggir jalan yang menipu pembeli dengan mengatakan, dicoba dulu Bu, ini manis, padahal setelah kita beli dan bawa pulang ternyata masam semua, itu juga bohong. Pun, calon anggota legislative yang sedang masa kampanye, sering menjanjikan kesejahteraan rakyat padahal menyejahterakan diri mereka sendiri, itu juga bohong.

Jadi kemana lagi kita cari sosok yang bisa menjadi teladan?
Sahabat, adalah uswah hasanah kita, Rasulullah SAW mendapat julukan Al-Amin, yang dapat dipercaya. Mengapa demikian? Karena beliau adalah orang yang sangat dipercaya oleh suku Quraisy pada saat itu. Mengutip dari kisah dakwah di atas bukit Shafa, ketika beliau pertama kali menyampaikan Islam kepada kaumnya dengan mengumpulkan seluruh suku-suku Quraisy, beliau berkata, “Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beritahukan bahwa ada segerombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”. Mereka menjawab, “Ya! Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran”. (Rakhiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury).

Ada kisah yang sangat menarik tentang kejujuran yang membawa berkah. Adalah Mubarak, seorang budak hitam penjaga kebun yang diminta tuannya untuk mengambil anggur yang manis dari kebunnya.
”Mubarak, petikkan aku anggur yang manis,” perintahnya. Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa dan menyerahkan anggur sesuai permintaan majikan.

”Mubarak, anggur ini rasanya masam, carikan yang manis!” pinta tuannya setelah mencicipi anggur itu. Tak lama pergi, Mubarak lalu kembali dengan anggur lain dan memberikannya kepada tuannya. Ketika memakan anggur itu, lagi-lagi Mubarak memberikannya anggur yang masam. Kembali tuannya menyuruhnya pergi ketiga kalinya, tetap saja Mubarak memberikannya anggur yang masam.
Betapa marahnya si majikan karena ia merasa dihina dan kemudian ia bertanya,

”Bagaimana ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur masam. Bukankah kamu sudah dua tahun bekerja di kebun ini?”
Mubarak tidak bisa berbuat apa-apa atas kekecewaan majikannya itu. Ia berkata,

”Demi Allah, sejak saya berada disini, saya belum pernah merasakan sebutir anggur pun. Saya tidak bisa membedakan anggur yang manis dan yang masam, karena anda memperkerjakan saya di kebun ini hanya sebagai penjaga saja.”

Lalu, majikannya menyuruhnya pulang ke rumah. Setelah itu, tuannya bertanya kepada temannya apakah benar yang dikatakan oleh budaknya itu. Temannya menjawab, ‘’Demi Allah, pernah suatu hari kami memetik anggur di kebun tuan, lalu aku melihat ada anggur yang jatuh ke tanah. Aku berkata padanya, wahai Mubarak, jika engkau tidak berani mengambil yang ada di tangkai, ambillah yang jatuh itu. Ia menjawab, aku tidak akan memakannya sebelum ada ijin dari pemiliknya (tuannya)”.
Sang majikan tertegun mendengar kepolosan dan kejujuran hambanya itu. Ia tahu, tidak mudah mendapatkan seseorang seperti Mubarak. Karena sikapnya tersebut, lantas sang majikan menikahkan putrinya dengan Mubarak. Sungguh pemandangan yang tidak lazim dalam tradisi masyarakat umum, ada orang tua ningrat konglomerat yang menikahkan putrinya dengan pekerja rendahan dengan gaji yang sangat kecil. Dari pernikahan penuh berkah tersebut, lahirlah seorang ‘ulama besar yaitu Abdullah bin Mubarak. Kejujuran Mubarak, meski pertama ia di-PHK, namun akhirnya ia menjadi bagian dari keluarga sang majikan.

Sahabat, dalam sholat kita, kita selalu meminta jalan yang lurus. Ihdinasshirathalmustaqim. Di ayat itu tidak dilanjutkan dengan penjelasan sesiapa orang yang mendapat nikmat itu. Penjelasannya ada di surat An-Nisa ayat 69, yang artinya “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” Para shiddiqin yaitu orang-orang yang jujur berada pada jarak yang paling dekat dengan para Nabi.

Rasulullah SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ. وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا
“Kamu harus selalu bersifat jujur, maka sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Dan senantiasa seseorang bersifat jujur dan menjaqa kejujuran, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikian pula perkara pembohong yang terjatuh, sehingga ia dipatri dengan kebohongan.:
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ, وَمَايَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
“Jauhilah kebohongan, maka sesungguhnya kebohongan membawa kepada kefasikan, dan sesungguhnya kefasikan membawa ke neraka. Senantiasa seseorang berbohong, dan mencari-cari kebohongan, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.” (HR. Bukhari-Muslim)

Seorang salaf mengatakan sehubungan hadist di atas, “Wajib atasmu berlaku jujur meskipun engkau khawatir bahwa jujur itu akan memberikan madharat kepadamu, padahal sesungguhnya dia akan memberikan manfaat kepadamu. Dan tinggalkan dusta meskipun engkau melihat bahwa dusta itu memberimu manfaat, sebab ia jutru akan mendatangkan madharat kepadamu.”

Seorang murid yang sedang ujian, ia tahu bahwa jika ia mencontek ia akan mendapat nilai bagus. Tapi ia tidak mau mencontek, maka itulah kejujuran. Tapi jika ia mencontek, bahkan kepala sekolah dan gurunya ikut-ikutan mengajarkan teknik mencontek, maka itulah kebohongan. Seorang bendahara yang ia tahu bisa memanfaatkan uang yang dikelolanya untuk kepentingan pribadi namun ia tidak menggunakannya, maka itulah kejujuran. Sedang jika ia berkolusi dengan orang di sekitarnya dan mendapat dukungan dari atasannya, maka itulah kebohongan. Seorang pejabat Negara yang bisa mengambil kebijakan dan ia mengambil kebijakan untuk kepentingan masyarakat, maka itulah kejujuran. Tapi jika ia mengambil apa yang bukan haknya dan mementingkan kepentingan diri pribadi, maka itulah kebohongan sejati. Jangan sampai sebelum menjadi pejabat sering membaca ayat kursi, tapi setelah menjadi pejabat, ia hanya tahu bagaimana mempertahankan kursinya sendiri.
Seorang ulama di Indonesia ini pernah mengatakan bahwa orang jujur itu tidak pernah kehilangan pekerjaan. Meskipun semua orang menjadi penjahat, maka setidak-tidaknya seorang penjahat perlu seorang yang jujur untuk menjaga harta hasil kejahatannya.

Maka, peringatan buat saya yang belum bisa bersih dari sikap membohongi diri sendiri, dan juga buat Anda yang berkesempatan membaca bacaan ini, mari intropeksi!

Wallahu a’lam.

Disarikan dari khutbah Jum’at Masjid Al-Mushawwir, Faisal, Makassar, 24 Juni 2011, Ustadz Irwan Fitri.

Posted Mei 20, 2013 by 4n1ef in Uncategorized

One response to “Kejujuran

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jujur… sering kali sangat sulit untuk kita praktekkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s