Jappa-jappa   Leave a comment

Tiga hari yang lalu, saya cuti kerja. Alasannya, bukan wisuda. Kebahagiaan saya pun, selain karena sudah sarjana, lebih dari itu adalah kedatangan orang tua saya ke kota Daeng, Makassar.

Hari pertama saya dan Fandi Firmansyah menjemput kedua orang tua saya di Sultan Hasanuddin International Airport, langsung menuju hotel Amaris, sebelahnya Mall Panakkukang. Lanjut sholat di masjid Al-Fadli RS.Faisal, lalu ke Marem. Malamnya kita makan malam di Bakso Lapangan Tembak cabang mall Panakkukang.

Hari kedua, setelah wisuda, sholat dzuhur di masjid Agung kota Makassar, lalu istirahat sebentar di hotel. Setelah ashar, jalan-jalan ke Pantai Akkarena dan Pantai Losari, lanjut makan malam di Sop Konro Karebosi.

Hari ketiga, mengejar tiket pesawat agar bisa sampai Solo besok pagi karena tiket Merpati ke Joga keberangkatan sore nanti di-cancel. Akhirnya dapet tiket Lion Air tujuan Surabaya. Setelah sholat Jum’at di RS. Faisal, kita makan coto makassar di kantin rumah sakit, lanjut ke benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) – ternyata lagi dipugar- lalu ke  Pantai Losari makan pisang epe. Setelah maghrib di Masjid Raya kota Makassar, kita ke bandara.

Memang, kita tak akan pernah sempat melakukan sesuatu kecuali kita menyempatkan diri untuk melakukan sesuatu itu. Diantara banyak kesibukan ayahanda dan ibunda tercinta, mereka masih bersungguh-sungguh untuk mau datang menengok anaknya ini yang hidup di negeri orang. Dan apalah artinya jamuan tiga hari dibanding hari-hari yang tak terhitung jumlahnya saat ayah dan ibu terbangun di malam hari ketika kita masih kecil dulu..

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).

“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”(Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apakah Ibumu masih hidup?”, berkata dia : “Tidak”. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Kalau bibimu masih ada?”, dia berkata : “Ya” . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Berbuat baiklah padanya”. (Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada Anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia : “Ya”. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”. (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia: Janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil” [Al-Isra : 23-24]

 

copas dari Multiply yang sudah mau tutup

Nov 5, ’11 9:48 AM
for everyone

Posted Maret 16, 2013 by 4n1ef in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s