Penguasa Na’udzubillah   Leave a comment

Rupanya di banyak tempat, jika manusia jadi penguasa, ia tidak hanya ingin berkuasa, menumpuk harta, dipenuhi fasilitas mewah, tapi juga ingin digelari dengan gelar yang dianggap menunjukkan keagungannya.

Demikian halnya, Raja Timur Lenk di Turki pada zaman dahulu kala. Raja terinspirasi dengan gelar-gelar yang pernah digunakan oleh raja-raja lain. Tapi Timur Lenk mau, gelar yang akan dia pakai ini adalah gelar yang ada hubungannya dengan nama Allah, seperti raja-raja lain. Misalnya ada raja yang menggunakan Al-Muwaffiq Billah untuk menunjukkan dirinya sebagai orang yang mendapat taufiq dari Allah.

Ada juga raja yang menggunakan gelar Al-Mutawakkil ‘Alallah. Ini raja yang ingin mengesankan rakyatnya bahwa dalam menjalankan kekuasaannya dia selalu menyandarkan dirinya bertawakkal kepada Allah. Dengan demikian, rakyat akan merasa tenang dan dia pun merasa tenang. Demikian seterusnya kebiasaan para penguasa menggunakan gelar yang berkaitan dengan Allah. Ada gelar Al-Mu’tashim Billah, Al Arif Billah, Al Watsiq Billah dan lain-lain.

Timur Lenk sudah berhari-hari memikirkan gelar apa yang paling cocok dengan dirinya yang juga berkaitan dengan nama Allah, tapi belum menemukan satu gelar yang cocok untuk dirinya dan belum pernah digunakan oleh raja lain. Akhirnya, seperti biasa jika ada masalah yang pelik, raja memanggil Mulla Nasruddin. Maka Nasruddin pun menghadap raja dan mendapat tugas untuk menemukan gelar yang tepat. Raja mengingatkan agar Nasruddin memberi nama yang memang sesuai untuknya sebagai seorang raja yang memerintah di kerajaannya. Tapi jangan lupa syarat utamanya terikat dengan nama Allah.

Mendapat tugas itu, Mulla Nasruddin tanpa lama-lama berpikir, tanpa sungkan dan takut, berkata spontan “Wahai raja, gelar yang cocok untuk paduka adalah Na’udzu Billah”.

Tentu saja raja Timur Lenk tidak terima gelar itu. Bahkan dia amat murka. Namun, walau raja marah, selalu saja Nasruddin bisa lolos dari hukuman raja. Raja berpikir jika saya menghukum Nasruddin, maka dia akan benarlah gelar itu. Na’udzu Billah adalah ungkapan mohon perlindungan kepada Allah atas kejahatan sesuatu hal. Jika gelar itu dipakai raja, artinya semua orang berlindung kepada Allah atas kejahatan raja.

Anekdot sufi Nasruddin yang sudah berusia ratusan tahun ini tampaknya relevan sampai sekarang. Ketika manusia berkuasa, ia membutuhkan terus untuk membangun citra diri dan kekuasaannya. Maka, tidak heran bila gelar-gelar kekuasaan dianggap salah satu hal penting untuk meneguhkan kekuasaan. Bahkan, untuk meyakinkan dan menguatkan, gelar-gelar itu dikaitkan dengan nama Tuhan, nama Allah.

Padahal, dalam banyak fakta sejarah, penguasa yang menggunakan gelar yang mengandung nama Allah tersebut, justru adalah penguasa yang tidak sesuai dengan kandungan makna dari gelar-gelar yang dia gunakan. Dalam berkuasa, justru dia menunjukkan perilaku kekuasaannya yang tidak adil, korup, pendusta, kejam, dan membiarkan rakyatnya banyak melarat. Dia senang disanjung oleh para ABS (Asal Bapak Senang) di sekitarnya dan membuat dia merasa persis seperti yang dikandung oleh gelar baik yang disandangnya. Benar-benar Na’udzubillah.

———- Tulisan Fuad Rumi pada Harian Fajar Makassar

Posted September 6, 2012 by 4n1ef in Kolom Fuad Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s