Mata najwa – korupsi perjalanan dinas   Leave a comment

Semalam saya sempat menonton acara Mata najwa di Metro TV. Pembicara pertama adalah pak Hasan Bisri selaku Wakil Ketua BPK yang memaparkan banyaknya temuan perjalanan dinas fiktif di berbagai Kementrian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Hal ini tentu didukung dengan prosedur audit berupa konfirmasi kepada pegawai yang melakukan perjalanan dinas untuk benar mengakui bahwa dirinya tidak berangkat. Pegawai tersebut diberikan sanksi berupa pengembalian uang perjalanan dinas ke kas Negara/daerah dan sanksi kepegawaian. Sanksi pengembalian uang, menurut pak Hasan, sangat cepat dilakukan, namun, sanksi kepegawaian kadang tidak sesuai dengan yang ada dalam sistem kepegawaian yang ada. Sanksi kepegawaian yang dilakukan hanya berupa surat teguran yang tidak mempengaruhi karir dan jabatan seseorang. Salah satu alasannya adalah memang perjalanan dinas fiktif tersebut dilakukan dengan persetujuan atasannya.

Pembicara kedua adalah salah satu PNS di Depkominfo (saya lupa namanya) yang diklarifikasi mengenai temuan tersebut. Dari pembicaraan beliau, kemungkinan beliau adalah Eselon I karena menyebutkan bahwa dalam perjalanan dinas dapat menggunakan pesawat kelas Bussiness. Beliau menuturkan bahwa di Depkominfo memang ada yang seperti itu (korupsi perjalanan dinas), namun hanya sedikit. Latar belakang terjadinya hal tersebut adalah ada banyak sekali kegiatan pemerintah yang tidak ada anggaranya. Contohnya peringatan hari 17 Agustus. Tidak boleh dianggarkan, namun dalam kenyataan dilaksanakan. Pertanyaannya, darimana duit tersebut didapat?

Sayang, pembicaraan dengan pembicara kedua ini diakhiri sampai di sini. Belum ada solusi real bagaimana sebuah acara yang tidak dianggarkan dapat dilaksanakan. Bukankah itu adalah sebuah penipuan? Kalau apa yang diatas kertas tidak sama dengan apa yang kita lakukan?

Masih bingung? Berikut contohnya..

  1. Pada setiap Kementrian ada hari ulang tahun kementrian tersebut. Perayaannya mewah sekali, bahkan ada yang family gathering ke tempat rekreasi (ke Puncak, Cibubur, atau Ancol).
  2. Di hari peringatan keagamaan, Maulid, Nuzulul Qur’an atau Halal bi Halal, adakah anggarannya? Yang lebih parah adalah peringatan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat.
  3. Pada setiap penyusunan anggaran, ada anggaran untuk lembur. Apakah lembur benar dilaksanakan? Tentu tanda tangan dalam Surat Perintah Kerja Lembur lengkap, administrasi oke, tapi apakah memang dilaksanakan sehingga pegawai perlu dibayar? Yang ini dianggarkan tapi dikorupsi berjamaah..
  4. Dalam sebuah proyek, Pejabat Pembuat Komitmen meminta jatah duit pada rekanan. Akibatnya, spek barang, misalnya pembangunan gedung menjadi tidak bagus. Kata PPK, uang itu untuk membiayai kegiatan yang tidak ada anggarannya misalnya peresmian gedung tersebut.

Bersyukur rasanya jika menemukan seorang pemimpin yang tidak doyan duit. Pun, bekerja dengan tim yang jujur luar dalam sangat menjadi impian. Tapi fakta mengatakan, mereka yang jujur seratus persen selamanya akan dikucilkan. Tuntutan terserapnya anggaran dan tuntutan kehidupan yang hedonis membuat banyak orang menghalalkan segala cara untuk melakukan korupsi.

Pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Apakah menerima konsekuensi untuk dikucilkan adalah sebuah pilihan? Seperti Siami yang dikucilkan saat anaknya membeberkan bahwa dirinya disuruh gurunya untuk memberi contekan pada teman-temannya… Kalau itu jalan keluarnya, maka itulah harga mati sebuah kebenaran..

Posted Juni 14, 2012 by 4n1ef in ReNunGan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s