Lomba yang Lucu   Leave a comment

Dulu, ada dongeng anak-anak, kancil dan siput berlomba lari. Siput menantang kancil lomba lari. Tentu saja kancil merasa geli. Siput yang jalannya cuma beringsut menantang kancil yang cepat larinya, apa tidak salah?

Ternyata siput tidak main-main. Maka perlombaan pun berlangsung. Rutenya di sepanjang dua tepi sungai yang tidak terlalu lebar. Masing-masing menempati tepi sungai berbeda. Keduanya berlari kencang. Kancil dengan optimis merasa menang.

Setiap jarak tertentu, kancil berteriak, “hei siput, dimana kau?”, “aku disini” jawab siput. Kancil heran, kok siput kencang juga larinya.

Demikianlah, setiap kali kancil memanggil siput, tiap itu pula siput menjawab ada di seberangnya. Akhirnya perlombaan berhasil seri, sama-sama tiba di garis finish.

Kancil pulang dengan merasa heran, siput pulang dengan gembira. Ternyata kancil kalah siasat dengan siput. Dalam perlombaan itu, siput bersepakat berjejer sepanjang sungai. Itu makanya setiap kali siput berteriak memanggil, siput selalu bisa menyahut. Ternyata kancil yang terkenal cerdik kalah oleh siput.

Lain lagi perlombaan antara manusia dengan jarum jam. Jarum jam, semua kita tahu jalannya pelan sekali. Tapi aneh dan lucunya, manusia selalu kalah cepat, terutama manusia negeri kita.

Jika ada rapat jam 09.00 pagi, jarum jam sudah tiba, orang yang mau rapat baru berdatangan ketika jarum jam sudah di angka setengah sepuluh. Jika ada pengajian jam 16.00, jamaahnya baru datang ketika jarum jam tiba di angka 17.00. Apalagi kalau ceramah Ramadhan jelang buka puasa, Undangan jam 17.00, jamaah datang lima menit jelang buka puasa.

Alhasil, berlomba dengan jarum jam yang jalannya amat pelan, manusia sering ketinggalan. Kalau ditanya kenapa, alasannya macam-macam. Lebih runyam lagi, yang memberi contoh terlambat adalah pejabat atau tokoh. Rata-rata mereka datangnya terlambat dalam suatu acara penting. Orang banyak sering menunggu lama, barulah pejabatnya datang. Padahal, itu adalah contoh yang tidak baik.

Kita dengan santai mengatakan bahwa budaya kita adalah budaya jam karet. Dengan budaya jam karet, walaupun orang memakai jam tangan paling akurat dan mahal harganya, tetap saja suka terlambat hadir di suatu acara. Semua orang berfikir, paling juga acaranya molor, ndak usah buru-buru deh. Bahkan acara paling penting dan sakral pun, jam karet tetap berlaku. Undangan akad nikah jam 9 pagi molor sampai jam 11. Lalu waktu shalat dhuhur jadi ikut molor.

Jadi, walau jarum jam bergerak amat pelan, manusia selalu terlambat. Ini khususnya manusia dari Indonesia. Tapi, ada juga di negeri ini, acara yang membuat orang menang terhadap jarum jam. Yaitu jika acaranya ada pembagian amplop. Di situ, banyak orang menang terhadap jarum jam.

🙂

Tulisan Fuad Rumi di Harian Fajar Makassar.

Posted Juni 2, 2012 by 4n1ef in Kolom Fuad Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s