Dengan Apa Merubah Kehidupan ini?   2 comments

“Arrahman” (Tuhan) Yang Maha Pemurah. “Allamal qur’an” (Yang telah mengajarkan al-Qur’an). “Khalaqal insan” (Dia menciptakan manusia). (QS : ar-Rahman : 1-3)

Allah Rabbul Alamin, Yang Maha Rahman dan Rahim, sebelum menciptakan manusia dan alam semesta ini, terlebih dahulu memberikan “minhajul hayah” (methode kehidupan), memberikan aturan dan hukum-hukum-Nya, memberikan “mabda” (prinsip-prinsip bagi kehidupan). Allah Rabbul Alamin memerintahkan kepada manusia “bertahkim” dengan hukum-hukum-Nya bagi kehidupannya. (QS : al-Maidah : 44, 454, 47).

Allah Rabbul Alamin sesudah membuat “minhaju hayah” (methode kehidupan), barulah menciptakan manusia. Manusia diberikan “minhajul hayah” bagi meniti kehidupannya di dunia ini, agar mereka menjadi manusia yang dalam terminologi al-Qur’an sebagai manusia “muttaqin” (bertaqwa). Manusia yang bertaqwa itulah dalam al-Qur’an surah al-Bayyinnah disebutkan sebagai : “khairul bariyyah”. (sebaik-baik makhluk).

Sedikit kita melihat kehidupan ke belakang, sejarah kehidupan para salafush shalih, yang sepatutnya menjadi “ibrah” (pelajaran)  bagi kita. Pelajaran yang akan sangat berharga, bagi siapa mau mengambil “ibrah” itu.

Lihatlah. Shahabat Umar ibn Khaththab, sebelum masuk Islam. Laki-laki jahiliyah, yang belum ada bandingannya. Laki-laki jahiliyah itu, belum pernah dikenal sosoknya dalam sejarah kehidupan manusia sebelum masuk Islam.

Umar ibn Khaththab adalah laki-laki yang sangat kejam. Laki-laki yang menganiaya budak perempuan tanpa belas kasihan. Umar ibn Khaththab meninggal berumur 63 tahun, dan baru masuk masuk Islam menjelang umur 30 tahun. Laki-laki yang separuh umurnya digunakan memuja kemusyrikan dan berhala.

Laki-laki yang kehidupannya penuh dengan kejahiliyahan, maksiat, dan durhaka kepada Allah Rabbul Alamin. Laki-laki yang sangat membenci Rasulullah Shallahu alaihi wassalam. Laki-laki yang sangat membenci agama Tauhid. Laki-laki yang melakukan permusuhan dengan segenap jiwa dan raganya terhadap agama yang dibawa Rasulullah Shallahu alaihi wassalam.

Umar ibn Khaththab masuk Islam, ketika itu laki-laki jahiliyah itu mendengar alunan suara surah al-Qur’an, surat Thaha 1-9.

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di Arsy. Kepunyaan-Nyalah semua ada di langit, semuanya yang di bumi, dan semua yang ada di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna (nama-nama yang baik). Apakah telah sampai kepadamu?”.

Saat itu, adiknya Fatimah sedang membaca surah Thaha, dan Umar ibn Khaththab sedang melintas, serta mendengar alunan suara itu. Umar berhenti mendengarkan alunan suara.  Umar ingin membacanya, tetapi Fatimah melarangnya, karena Umar masih “najis”. Umar ibn Khaththab sangat marah, menampar adiknya Fatimah, sampai jatuh, dan berdarah. “Engkau harus membersihkan dirimu, sebelum membaca al-Qur’anul karim ini”, cetus Fatimah.

Umar mandi, berthaharoh dan membersihkan dirinya, dan diizinkan Fatimah membaca al-Qur’an. Sesudah itu Umar ibn Khaththab menyatakan dirinya masuk Islam. Umar yang nyaris membunuh adiknya Fatimah dengan pedang, seketika itu luluh, dan pedangnya terjatuh.

Saat, Umar ibn Khaththab, sudah masuk Islam, menjadi pembela Islam secara total, dan menyerahkan segenap jiwa raganya kepada agama Tauhid, menyerahkan segenap jiwa dan raganya bagi Rasulullah Shallahu alaihi wassalam. Tidak ada lagi ambisi pribadinya kepada kehidupan dunuiawi.

Umar ibn Khaththab menjadi penegak Islam dan pembela Islam. Umar membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan-tangan kafir Salibis. Umar ibn Khaththab, ketika masuk Islam menjadi “cahaya”, karena sifat-sifatnya. Umar yang dahulunya sangat kasar, bahkan terhadap perempuan, sesudah masuk Islam menjadi laki-laki yang sangat lembut.

Umar meninggal dibunuh saat menunaikan shalat  shubuh oleh seorang munafik. Saat itulah Umar ditikam di mihrab dan mati syahid, di tempat paling bagus dan sedang melaksanakan kewajiban yang paling mulia. Karena shalat shubuh berjamaah di masjid itu, disaksikan para Malaikat.

Orang-orang pun menggotongnya. Umar bertanya, “Sudah selesaikah aku shalat shubuh?”, tanyanya. “Belum”, jawab yang menggotongnya. Lalu, pingsan. Tatkala pipinya diletakkan diatas bantal, Umar malah berkata, “Angkatlah ini dari bawah kepalaku! Letakkan kepalaku diatas tanah, semoga Allah merahmatiku”, ucapnya lirih.

Semoga Allah Rabbul Alamin merahmatimu, memuliakan jasadmu, mengangkat derajadmu. Engkah telah bertindak sebagai “shadiq”, ungkap Ibnu Mas’ud ra. “Masuknya engkau ke dalam Islam adalah kemenangan, hijrahmu adalah penaklukan, dan pemerintahanmu adalah rahmat”, tambah Ibnu Mas’ud ra.

Laki-laki jahiliyah yang sudah  masuk Islam itu, Umar ibn Khaththab dalam sebuah hadist, disebutkan, “Seluruh amal kebaikan umat Muhammad Shallahu alaihi wassalam, bila dikumpulkan, di timbang dalam timbangan, dibandingkan dengan amal kebajikan yang dilakukan Umar ibn Khaththab, masih lebih berat amal kebijakan yang dikerjakan oleh Umar ibn Khaththab”.

Umar ibn Khaththab adalah manusia biasa, sama halnya dengan manusia hari ini. Tidak ada yang membedakan. Perbedaannya, hanya Umar ibn Khaththab, ketika sesudah masuk Islam, masuk Islam secara total (kaffah). Menyerahkan diri seluruhnya untuk diatur dengan aturan yang bersumber dari minhaj Allah Rabbul Alamin, yaitu Al-Qur’an.

Islam, mempunyai makna berserah diri. Berserah diri kepada Allah Rabbul Alamin. Berserah diri dengan aturan, hukum-hukum-Nya, dan hanya beribadah dan taat kepada Allah Rabbul Alamin semata. Al-Qur’an menjadi pedoman hidupnya. Al-Qur’an menjadi sumber bagi kehidupannya.

Marilah kita kembali masuk Islam. Marilah kita pedomani al-Qur’an bagi kehidupan ini. Marilah kita tinggalkan kehidupan, yang tidak sesuai dengan aturan-aturan dan hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an, agar kita mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Bukan kehinaan.

Wallahu’alam.

sumber

Posted April 7, 2012 by 4n1ef in ReNunGan

2 responses to “Dengan Apa Merubah Kehidupan ini?

Subscribe to comments with RSS.

  1. mari bertaubat sebelum terlambat ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s