“Shari’a Accounting in The Current Global Economic Trend”   Leave a comment

Hari sabtu yang lalu, saya dan teman-teman menghadiri seminar yang diadakan oleh Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Judulnya, “Shari’a Accounting in The Current Global Economic Trend”. Berikut ini adalah promosi yang diletakkan pada website http://www.ima-unhas.com/index.php/undangan.html

Ikatan Mahasiswa Akuntansi Unhas

Presents; “6th Hasanuddin Accounting Days”;

Seminar Internasional – 28 jan 2012 @Baruga A.P.Pettarani Unhas

“Shari’a Accounting in The Current Global Economic Trend” oleh:

-Prof.Dtauk DR. Syed Othman Alhabsi (Chief Academic Officer INCIEF Malaysia)

-Drs.M.Jusuf Wibisana, M.EC, Ak (Ketua Dewan Standar Akuntansi Syariah)

-Aji Dedi Mulawarman (Pakar Akuntansi Syaraiah-Dosen Univ.Brawijaya)

-Dr.H.Abd.Hamid Habbe, SE.M.Si (Ketua Jurusan Akuntansi Unhas)

Workshop – 29 jan 2012 @Gedung IPTEKS Unhas

“Implementation of Shari’a Accounting Standard for Financial Statement in Business Entity” oleh Praktisi Perbankan Syariah

Tiket;
Mhsiswa S1: seminar 35rb, workshop 35rb
Umum: seminar 50rb, workshop 65rb
(inc. Sertfkt, seminar kit, snack, lunch)

Alhamdulillah, saya bisa mengikuti seminar ini sampai selesai. Materi yang disampaikan oleh para pembicara sangatlah menarik. Bapak Profesor Datuk Syed Othman menyampaikan materi tentang perkembangan ekonomi syariah di dunia, terutama di Negara asal beliau yaitu Malasyia. Di sana ekonomi syariah berkembang dengan pesat, banyak muncul bank-bank syariah dan didukung dengan kepercayaan dari masyarakat. Beliau membahas secara global dalam bahasa melayu, dengan makalah yang berbahasa Inggris. Yang paling saya ingat dalam makalah beliau adalah tulisan yang kurang lebih artinya, “Jika kita ingin benar dalam melakukan ekonomi syariah, maka haruslah seluruh pelaku ekonomi itu memahami bahwa syariah itu hanyalah satu yaitu Islam, dan sudah jelas dalam Al-Qur’an dikatakan “Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan” artinya seluruh syariahnya  harus kita taati”. Dapat disimpulkan bahwa ekonomi syariah hanya akan terwujud jika masyarakatnya bertauhid dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Selanjutnya Bapak Jusuf Wibisana selaku Ketua DSAK dan salah satu dosen di Univ.Brawijaya Malang. Beliau menerangkan dasar-dasar, kerangka konseptual sampai kepada teknis transaksi dalam ekonomi syariah. Sayang sekali, karena presentasi beliau ‘nabrak’ waktu shalat dhuhur, saya tidak mengikuti presentasi beliau hingga tuntas.

Sesi terakhir dari seminar ini diisi oleh Bapak Hamid Habbe dan Bapak Aji Dedi Mulawarman. Bapak Hamid memberikan presentasi yang berjudul “Akuntansi Syariah, Sudah Syariahkah?”. Kesimpulan yang didapat dalam paparan beliau adalah Belum Sesuai Syariah. Selanjutnya, Bapak Aji Dedi Mulawarman melanjutkan pembahasan dengan kajian yang sangat menarik. Beliau berpendapat bahwa akuntansi sebenarnya fungsinya bukan hanya pada pencatatan, namun ia melegalkan sesuatu transaksi melalui sebuah kebijakan dan prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi syariah yang sekarang (apalagi yang konvensional) sama sekali tidak mengacu pada ekonomi syariah, bahkan masih pro Neoliberalism.

Sebagai contoh konkrit adalah tujuan dari berdirinya suatu entitas yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal dalam Islam, sebuah organisasi berdiri mempunyai dua tujuan, mencari ridha Allah dan memberi sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain. Jadi, seharusnya bukan keuntungan (net income) yang dikejar – sementara para buruh berdemonstrasi dan alam menjadi rusak – tapi organisasi dianggap berhasil jika karyawannya sejahtera dan memberi manfaat positif bagi lingkungan di sekitarnya.

Contoh yang lain lagi, misalnya perlakuan transaksi atas zakat. Kalau perusahaan mengeluarkan zakat (sebenarnya yang wajib zakat adalah orang-per-orang) atau infak katakanlah, maka perusahaan akan mencatat hal tersebut sebagai beban perusahaan. Padahal, rumus yang dipakai dalam perhitungan laba rugi perusahaan adalah Revenue – Expense = Income (Pendapatan – Beban = Laba/Keuntungan). Tidak ada unsur social dan ilahiah di dalamnya. Jadi, zakat/infaq (kalau pak Dedi menyebut beban Tuhan) harusnya diper-sedikit mungkin agar keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi lebih besar. Dan ini masih dipakai dalam PSAK Syariah. Biar lebih jelas, coba dibuka webnya pak Dedi.

Pandangan bahwa akuntansi yang diajarkan sekarang menjadikan kita berpikir materialistis dan Neoliberal, tentu masih bisa diperdebatkan. Dan apa yang saya dapat hari itu, memberikan saya kesadaran baru bahwa ilmu yang saya peroleh hari ini masih sangat sedikit. Saya harus lebih banyak belajar.

Tetap semangat untuk belajar! Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishawab.

.

Posted Januari 30, 2012 by 4n1ef in mana ceritamu? - Indomie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s