Puji Ale, Ujub dan Narsisme   Leave a comment

Puji Ale, istilah Bugis, artinya memuji diri sendiri. Sama dengan ujub dalam bahasa Arab yang artinya kagum atau takjub pada diri sendiri. Sama juga dengan narsisisme dalam bahasa Inggris atau narsisme dalam bahasa Belanda yaitu cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan. Ketiga istilah ini tampaknya kurang lebih sama maknanya. Tentu masih banyak istilah lainnya dari berbagai bahasa untuk menyebutkan hal yang sama.

Makhluk pertama yang mengidap penyakit kejiwaan ini adalah iblis. Iblis punya semboyan kebanggaan diri yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu ana khairun minhu, saya lebih baik dari dia. Lalu iblis pantang mengakui kelebihan orang lain (Nabi Adam).

Dalam khazanah sekarang ini, tampaknya istilah narsis yang lebih dikenal. Istilah yang digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos yang dikutuk sehingga mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh menjadi bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis (liat di sini). Michelangelo Caravaggio membuat sebuah lukisan terkenal tentang Narkissos atau Narsisus yang jatuh cinta dengan dirinya sendiri ini.

Narsis ternyata tidak hanya merusak kepribadian seseorang. Dalam ajaran Islam, ujub dikatakan merusak nilai amal, sebab ia berbuat baik hanya agar ia dipuji dan dikagumi. Semakin ia dipuji dan dikagumi maka semakin sombonglah ia. Lebih-lebih lagi jika ia seorang pemimpin, maka berkumpullah di sekelilingnya para tukang puji, penjilat, yang terus-menerus melambungkan citranya tinggi-tinggi. Orang-orang di sekitarnya itu tentu saja juga kecipratan berbagai macam fasilitas yang menyenangkan.

Pemimpin yang narsis sudah pasti tidak bisa jujur menilai hasil kepemimpinannya. Ia tidak pernah melihat kekurangannya sebab ia yakin dirinya adalah yang terbaik. Padahal yang terjadi adalah kerusakan dan kesengsaraan rakyat yang dipimpinnya.

Menyadari potensi diri dan kelebihan yang dipunyai, jika dikelola dengan baik dan dimanfaatkan untuk memberi manfaat pada sebanyak mungkin orang, sebenarnya adalah suatu hal yang positif. Tapi ketika potensi itu membuat seseorang menjadi sombong, memuji diri sendiri, membangun citra diri dengan diiringi sikap merendahkan orang lain, maka itu menjadi negatif.

Sikap yang paling bijak mempunyai berbagai kelebihan adalah berkarya dalam bentuk benda atau pemikiran. Karya-karya itu cepat atau lambat pasti akan diketahui orang dan pasti akan mendapat apresiasi atau pujian. Tanpa harus memuji diri sendiri.

Pandai-pandailah memuji anak sejak kecil, jangan sampai kelebihan dan berlebihan, sehingga tanpa sadar ia tumbuh menjadi sosok yang haus pujian. lalu, untuk memehuni hasratnya, pujian itu dia alirkan dari dirinya sendiri. Jadilah ia sosok narsis atau ujub alias puji ale itu.

Gelitik Fuad Rumi, harian Fajar tanggal 23 Desember 2011.

Posted Desember 24, 2011 by 4n1ef in Kolom Fuad Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s