Cerpen : Hal Kecil   Leave a comment

Disuatu hari , di musim semi di Indonesia ( ceritanya Indonesia ada 4 musim ) , seorang anak laki-laki berjalan bersama ayahnya . Berdua saja , menenteng ember dan alat pancing. Sepanjang jalan anak itu bertanya banyak hal kepada ayahnya . Beruntungnya , ayahnya tidak bosan menjawab

Tiba-tiba , sang ayah berhenti ketika berjalan , melihat seorang anak kecil yang membeli es krim , kemudian membuang uang kembalian berupa sekeping Rp 50,- . Uang itu dibiarkan begitu saja , bahkan mas2 yang jual eskrim juga tidak peduli . Memperhatikan , anaknya ikut berhenti tidak mengerti . Ketika anak itu pergi , sang ayah kemudian mengambil uang lantas memasukkannya kedalam saku.

– – –

Ketika di pemancingan

Anak : Yah,kenapa tadi uangnya diambil , kan cuma Rp 50,- , mending kalo Rp 100.000,- . Lagian uang ayah udah banyak banget kan

Anak itu bertanya tidak mengerti kenapa ayahnya mengambil uang kecil itu dan menyimpannya.

Sang ayah tersenyum , menoleh kepada anaknya. Kemudian menjawab

Ayah : Nak , orang yang menyepelekan hal-hal kecil tidak pantas menerima hal-hal yang lebih besar lagi .

Anak : maksudnya yah ?

Ayah : kalo kamu dikasih kepercayaan uang sekedar Rp 50,- dan tidak menghargainya sama sekali , kamu tidak pantas sedikitpun untuk menerima uang yang lebih besar.

Anak : masih belum mengerti yah !

Ayah : hmmmm … bukankah kamu sering lihat nak , orang yang diberikan amanah yang sederhana,bahkan terlihat sepele , tapi tidak dilaksanakan dengan baik , tidak dikerjakan , atau justru meninggalkan amanah itu , maka orang seperti tidak pernah pantas untuk menerima amanah yang lebih besar.

Anak : masih bingung yah !

Ayah : kelak kamu akan mengerti , jangan pernah menganggap sederhana hal hal kecil , dosa kecil juga bukan hal sederhana nak , amanah sekecil apapun , juga bukan hal sederhana , Allah nanti akan menghitung bahkan yang sekecil zarah pun ada balasannya. Kelak kau akan mengerti ketika dewasa. Sekarang , ayo kita memancing !!!

– – – – 

Hari yang menyenangkan di musim semi , memancing entah menjadi hal aneh atau wajar di musim semi , tapi mereka memancing di kolam rumah eyang, jadi tidak masalah. Selalu ada air dan pasti ada ikannya . Nenek sedang memasakkan menu kesukaan menantunya dan cucunya itu di dapur.

Kurniawan Gunadi

sumber

Posted Desember 8, 2011 by 4n1ef in kisah berhikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s