Surga milik Arin   Leave a comment

‘aku mau masuk surga.’ teriak Arini keras dengan penuh keyakinan. Bu Nani hanya terdiam melihatnya.

‘maksud ibu cita-cita kamu apa, yang jelas Arin. kayak Bagas itu dia mau jadi pilot, atau Ruri yang mau jadi dokter.’ jelas Bu Nani panjang lebar.

teman-temannya terpana melihat Arini, berbisik-bisik sambil tersenyum cengengesan. Arini terdiam, sunyi. dia berfikir, apakah ada yang salah dengan jawabannya.

‘aku maunya cuman masuk surga, sama ummi, abi, dan billa, bu.’ jawabnya, tapi tidak semantap waktu pertama kali menjawab.

—-

sore itu hujan, Arini menikmati roti bakarnya bersama umminya yang sedang menidurkan adik satu-satunya, Billa, sambil menunggu abi pulang dari kerja. Arini, 6 tahun, baru satu minggu ini dia masuk sekolah, senang katanya. umminya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga penuh, rutin mendengarkan cerita-cerita anak sulungnya tentang apa saja yang dilakukannya saat di sekolah. lulusan sarjana elektro dari universitas ternama dengan predikat terbaik itu, memilih menjadi ibu rumah tangga yang total, karena dia merasa pertumbuhan anak-anaknya lebih penting dibandingkan karir pekerjaannya. walaupun sekali-kali dia merindukan kegiatannya seperti diskusi tentang kinerja pemerintah, mahalnya harga bahan pokok, atau sekedar mengingat masa silam perjuangan para pahlawan negaranya.

‘ummi, kenapa sih ada hujan?’ tanya Arini sambil mengunyah roti coklat di mulutnya, tampak menyembul satu-dua bulir meses di sudut bibirnya.

‘karena Allah sayang makhluk ciptaannya, dia turunkan hujan agar tanaman-tanaman dapat tumbuh dan hewan-hewan dapat minum. ummi, abi, arin, dan dek Billa juga kan butuh air. sumber air salah satunya dari hujan. makanya Allah baik kasih hujan ke kita.’ jawab umminya.

‘ooh, begitu yah. terus kenapa Arin sering liat di tivi hujan bikin banjir ummi? kok Allah jahat.’ tanyanya, masih dengan nada polos.

‘hemm.’ umminya berfikir sambil menghela nafas panjang, agar tidak salah menjawab.’begini, hujan itu bisa bermakna baik maupun buruk tergantung kitanya rin. bukan Allah yang jahat. banjir kan karena salah kita juga, sayang, coba kalo Arin buang sampah sembarangan di parit misalnya, kan paritnya jadi penuh sampah, terus air hujan yang jatuh di parit ga bisa ngalir. makanya jadi banjir, begitu.’ jawab umminya, sekali lagi panjang lebar.

‘ooh begituuu yahh.’ tampaknya dia terlalu malas untuk bertanya lagi tentang hujan, tiba-tiba saja dia terbayang adegan banjir yang tidak sengaja di tontonnya saat sarapan pagi bersama abinya, seram.

‘Arin mau jadi guru boleh ga ummi, kalo nanti gede?’

‘tentu saja boleh nak, kamu boleh apa saja yang kamu inginkan, guru, dokter, bahkan pilot.’ umminya tersenyum bangga.’kenapa gitu mau jadi guru?’

‘Arin tadi pagi liat ada anak kecil berdiri di depan pagar sekolah, ngliatin Arin sama teman-teman main. terus arin tanya, kenapa dia berdiri disitu, terus kata dia dia pengen sekolah, tapi ga bisa. Arin kasian sekali mi liatnya.’ jawabnya panjang kemudian memasukkan potongan terakhir roti bakarnya ke dalam mulut. penuh.

‘hubungannya sama Arin mau jadi guru apa?’ tanya umminya penasaran.

‘Arin bilang sama Bu Nani buat ngizinin anak itu ikut sekolah sama Arin, tapi Bu Nani ga ngizinin, katanya anak itu ga bayar sekolah kayak abi bayarin sekolah Arin, jadi anak itu ga boleh belajar sama Arin, kasian kan yah mi. makanya Arin mau jadi guru mi, biar anak kecil itu bisa belajar sama Arin ajah ga usah bayar deh.’ raut mukanya terpancar ketulusan dan kepolosan.

ummi tersentak, bagaimana mungkin bocah berumur 6 tahun bisa berfikir sejauh itu. ada rasa haru di dada hingga berwujud linangan air di pelupuk mata. sambil mengelus kepala anaknya, dia berkata,

‘Arin, Arin boleh jadi apa saja, asal Arin tulus, Allah pasti tambah sayang sama Arin. apalagi kalo Arin nurut sama Ummi dan Abi, rajin mengaji sama Uwak, ga nakal sama dek Billa. pasti nanti Allah kasih Arin, hadiah.’ jawab umminya.

‘hadiahnya apa mi?’

‘surga buat Arin, ummi, abi, dan adik billa.’

‘waah, kata guru agama Arin, surga itu bagus yah mi, Arin mau surga mi, Arin mau.’

‘tentu saja sayang.’ dicium kening putrinya. walau dia paham, Arin pasti belum mengerti benar surga apa yang dimaksud.

‘assalammualaikum, lagi pada ngapain nih?’ sahut abinya tiba-tiba di ruang tengah tempat Arin dan Umminya berkumpul.

‘waalaikumsalam abiii.’ sahut ummi dan Arin berbarengan.

‘Abi, Arin udah punya cita-cita sekarang yah.’ sahutnya sambil mencium tangan ayahnya. dan ayahnya memberikan hadiah kecupan di kening buah hatinya.

‘apa itu?’

‘cita-cita Arin mau masuk surga.’

‘wah, tentu saja boleh.’ sahut abinya sambil melirik ke istrinya yang masih menggendong putri keduanya, tak paham. biarlah nanti diselesaikan masalah surga dan cita-cita ini berdua saja.

—-

Bu Nani masih tak paham kenapa Arin menjawab surga sebagai cita-citanya, biarlah nanti sepulang sekolah dia akan langsung bilang pada ummi-nya Arin, bahwa anaknya tak paham yang dimaksud cita-cita.

mungkin bukan Arin yang tak paham maksudnya cita-cita, mungkin saja pemahaman Bu Nani tentang cita-cita terlalu sempit. karena kadang orang dewasa terlalu mengkerdilkan mimpi anak-anak kecil, anak-anak kita, hingga kelak nanti saat mereka dewasa, mereka tak tau apa yang harus mereka lakukan karena terlalu sempit pemahaman mereka tentang mimpi, cita-cita, atau apapun itu. biarkanlah mereka bermimpi besar, hingga suatu saat nanti mereka akan memutuskan mimpi mana yang ingin mereka jalani.

sumber

Posted November 19, 2011 by 4n1ef in kisah berhikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s