Aneka Cerita Wakil Rakyat   2 comments

Kiai Mustofa Bisri pernah punya pusi balsem tentang wakil rakyat. Tapi bukan wakil rakyat di negeri kita, melainkan di Tunisia. Katanya, entah bagaimana tiba-tiba saja ada seekor kambing nyelonong ruang sidang para wakil rakyat lalu mengembek, emmmbeeeekk. Spontan wakil rakyat di ruangan itu berteriak serempak, setujuuuuu.

Puisi tersebut merupakan kritik penyair Tunisia terhadap wakil rakyat mereka yang hanya selalu setuju saja terhadap program eksekutif. Mirip suara wakil rakyat kita di zaman orde baru, yang sering dikritik oleh penyanyi Iwan Fals dengan hanya menyanyikan lagu setuju.

Dulu, masih di zaman orba, pernah ada kritik 5D buat wakil rakyat. Datang, Duduk, Dengar, Diam, Duit. Ini kritik ketika wakil rakyat kita yang dinilai tidak berani menyuarakan aspirasi rakyat.

Sekarang wakil rakyat tidak begitu lagi. Bahkan sebaliknya, mereka sangat garang dan vokal sekali bicaranya. Namun kritiknya sudah berubah pula, bukan lagi dinilai diam, tapi sarat permainan uang alias korupsi. Wakil rakyat dinilai bukan sebagai wakil rakyat, tapi wakil partai. Lalu diantara mereka ada yang diduga korupsi untuk kepentingan pribadi atau juga partainya. Hanya saja, hingga saat ini demikian sulit dibuktikan di hadapan hukum dan belum ada yang divonis dengan alasan demikian.

Sekarang, setiap wakil rakyat disebut, ada kalangan yang langsung berasosiasi pada korupsi. Identik dengan korupsi.

Tapi anehnya, ada juga perorangan atau kelompok tertentu di masyarakat yang bersikap mendua. Pada satu pihak mengeritik wakil rakyat identik dengan korupsi, tapi rajin datang meminta sumbangan dan bantuan ini itu kepada wakil rakyat.

Di dalam benaknya, sang wakil rakyat pastilah banyak uang, karena itu wajar jika dimintai sumbangan atau bantuan. Padahal jika wakil rakyat hanya mengandalkan gaji dan tunjangan, apalagi yang ada di daerah, jumlahnya tetap tidak cukup  untuk melayani para peminta sumbangan yang jumlahnya cukup banyak.

Kebiasaan meminta sumbangan dan bantuan, -konstituen yang datang karena keluarganya sakit, anak butuh biaya sekolah, dsb-  dari kocek pribadi wakil rakyat tersebut, tanpa sadar mengondisikan sang wakil rakyat mencari sumber-sumber di luar take home pay yang harus diterimanya. (Tentu banyak juga yang bukan karena sumbangan, tapi karena ingin meraih kekayaan pribadi).  Ini bisa jadi cikal bakal korupsi.

Jadi, selain mengecam wakil rakyat yang melakukan korupsi, rakyat juga harus mengendalikan dirinya untuk tidak mengondisikan wakilnya untuk melakukan korupsi.

Menurut faktanya, memang ada wakil rakyat yang sudah melakukan korupsi dan divonis oleh pengadilan. Ada juga yang diduga korupsi namun sulit disentuh oleh hukum. Tentu banyak juga wakil rakyat yang lurus-lurus saja karena menjaga tangannya menjamah uang haram hasil korupsi. Paling tidak, untuk yang terakhir ini, janganlah digeneralisasi sebagai wakil rakyat yang korup, lalu dijadikan bagaikan mesin ATM yang sewaktu-waktu bisa ditarik uangnya, dengan asumsi mereka sama-sama wakil rakyat yang identik dengan korupsi.

Memberantas korupsi tidak bisa dilakukan hanya dengan menegakkan hukum negeri ini, bahkan yang terpenting adalah menghapus mental untuk korupsi, tidak hanya untuk wakil rakyat dan para pejabat, tapi juga rakyat.

(Seperti dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berikut ini..

Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian, setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.)

Sumber: Gelitik Kolumnis Harian Fajar Makassar.Fuad Rumi, 30 September 2011 dan artikel dari sini.

Posted Oktober 1, 2011 by 4n1ef in Kolom Fuad Rumi

Tagged with

2 responses to “Aneka Cerita Wakil Rakyat

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah, tulisannya bagus. Jd sadar diri, kdg menuntut org lain (pemerintah) baik n adil, tp tdk sadar bahwa kita jg hrs diperbaiki..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s