Suami Shalih: Kekasih bagi Istrinya   Leave a comment

Laki-laki (Suami) itu pelindung bagi perempuan (Istri),karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan) ,dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dar hartanya. Maka perempuan yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka” (Al- Quran, Surat An Nisa:34)

Perempuan shalihah adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi seorang suami dalam kehidupan di dunia. Setelah ketaqwaan, tidak ada kebaikan yang lebih besar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba mukmin, kecuali istri yang shalihah. Mereka jika dipandang menarik hati. Senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Tutur katanya lembut menawan penuh ketaatan karena Allah semata. Penuh kesabaran menghadapi ujian kehidupan. Mereka pelipur lara dikala duka. Kawan menyenangkan dalam keceriaan. Ketajaman jiwanya dapat merasakan kapan suami mereka berbahagia dan kapan dalam keadaan gundah gulana. Dan mereka menjadi penyemangat selalu dalam menjunjung kebenaran.

Berbahagialah seorang suami yang mendapatkan istri shalihah. Ia adalah kekasih sejati. Akan sempurna kebahagiaan ini jika perannya sebagai suami semakin mengokohkan peran istri sebagai kekasih sejati.

Siapakah istri yang menjadi kekasih sejati? Kekasih sejati itu ada pada ketaatannya kepada Allah dan sikapnya memelihara cinta kepada suami baik ketika berdekatan ataupun ketika berjauhan. Ini adalah cinta murni yang tak berkurang karena ruang memisahkan dan tak surut seiring berjalannya waktu. Cinta sejati hanya tumbuh jika disemai di atas ladang subur kecintaan kepada Allah Ar-Rahman. Cinta yang tumbuh di atas iman. Dua orang yang saling mencinta karena Allah semata akan mendapatkan kelezatan iman. Pastilah ketentuan ini berlaku bagi pasangan suami-istri.

Seorang suami memiliki peran penting dalam membantu menumbuhkan peran istri sebagai kekasih. Ia pun mesti menjadi kekasih sejati. Senantiasa memelihara hatinya untuk mencinta karena Allah semata. Secara kejiwaan, ia mesti memelihara sikap lembut dan kasih sayang. Karenanya memelihara dzikrullah menjadi prasyarat utama dalam memelihara cinta dan kasih sayang. Mengingat Allah membuat hati tentram. Dan tentramnya hati akan melahirkan sikap lembut dan kasih.

Senyum adalah shadaqah, maka istrinya menjadi orang yang paling berhak memperoleh senyum termanis yang ia miliki. Aisyah ra, istri yang manja, cerdas dan paling disayangi Nabi Shalalaahu’alaihi wassalam, ketika ditanya bagaimanakah keadaan suaminya di rumah mengungkapkan,” … senantiasa terpancar senyuman di wajahnya …” Ini sebuah rahasia besar bagi para suami, untuk terus memelihara kestabilan jiwa dan kelembutan hati dalam kondisi apapun. Sungguh senyuman itu tak bisa dibuat-buat. Senyum bukanlah produk imitasi. Senyum adalah cermin ketenangan jiwa dan lembutnya hati.

Membantu orang lain adalah perbuatan mulia; Allah akan membantu seorang hamba, manakala ia membantu saudaranya. Maka bagi seorang suami, istri adalah orang yang paling patut mendapatkan uluran tangannya dalam mengerjakan berbagai tugasnya, termasuk dalam mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mendengarkan dengan seksama adalah sikap komunikatif terpuji dan didambakan siapapun; Maka mendengarkan cerita suka dan atau kisah gundah istri adalah realisasi kebaikan terindah dalam akhlak muslim. Sebaik-baik muslim adalah yang paling baik perilakunya kepada istri mereka.

Memberikan fasilitas bagi istri untuk merawat tubuh dan kecantikannya adalah bagian dari nafkah yang patut diberikan suami. Sebagaimana ia menyukai istrinya berpenampilan cantik, ia pun mesti berpenampilan menarik. Menariknya penampilan adalah bagian dari shadaqah seorang muslim buat saudaranya yang lain, maka berpenampilan menarik dihadapan istri adalah bagian dari shadaqah yang diutamakan. Telitilah, pakaian seperti apa dan warna apa yang paling disukainya. Sebaliknya sampaikanlah penampilan mana yang paling disukai padanya.

Ada catatan menarik dalam hal penampilan suami ini. Ibnu ‘Abbas ra yang menjadi referensi para ahli tafsir pernah mencukur janggutnya sedemikian, sehingga membuat beberapa sahabatnya bertanya-tanya tentang perbuatannya itu, karena dianggap tidak lazim bagi seorang fakih seperti dirinya. Ternyata Ibnu ‘Abbas melakukan hal ini sebagai upaya berhias bagi istrinya, seraya menyitir sebuah ayat Quran,” Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS 2:228). Tentulah Ibnu ‘Abbas mengingat salah satu arahan gurunya tercinta, Nabi Muhammad saw, agar para sahabatnya senantiasa berpakaian rapi dan juga merapikan rambut mereka. Beliau saw saat itu mengungkapkan salah satu fenomena sosial, yaitu banyaknya kaum perempuan Yahudi yang berselingkuh, karena kaum lelakinya yang tidak memelihara penampilan yang baik.

Dan sebagaimana suami menyukai istrinya merawat tubuhnya, ia pun patut menjaga kestabilan, kebugaran tubuh serta stamina yang prima, sehingga ia memiliki kemampuan yang baik dalam memberikan kepuasan dan memelihara hangat cinta bagi istrinya. Bahkan referensi iman memandu suami yang sholih menjadikan segenap usahanya memelihara hangat cinta sebagai shadaqah, sebagai bukti kebenaran imannya.

Ketajaman sensitifitas suami dalam membaca suasana jiwa istrinya amat diperlukan dalam interaksi suami-istri. Begitu kenalnya RasuluLlaah saw akan suasana jiwa istrinya, Aisyah ra, hingga beliau mengetahui kapan istrinya ini senang dan kapan marah, hanya dengan pilihan kata yang diucapkan sang istri. “Jika kau senang kau pasti berkata tidak demi Rabb Muhammad, tapi jika kau marah kau berkata tidak demi Rabbnya Ibrahim …” Aisyah hanya tersenyum dan menjawab,”Benar ya Rasulullah, aku hanya ingin menghindari menyebut namamu.”

Dalam bertutur kata, suami sholih akan memanggil istri dengan panggilan sayang yang disukainya. Istri tentu suka dirinya dipanggil, dan bukan selalu dipanggil sebagai ibu dari anak-anaknya. Saling memberi hadiah akan merekat persaudaraan, maka min baabil aulaa* untuk mempersembahkan hadiah-hadiah yang menyenangkan hati istri. Suami sholih akan menyatakan cinta kepada istri pada banyak kesempatan secara tulus dan jujur. Ini bagian dari sunnah dari Nabi saw, yang mengajarkan seseorang menyatakan cintanya karena Allah kepada saudaranya. Diantara cara mengungkapkan cinta tanpa ucapan ‘aku cinta kamu’ adalah dengan apresiasi dan pujian yang tulus. Rangkaian kalimat di bawah ini adalah contoh ungkapan verbal dalam memberitahu pasangan hidup kita akan kebaikannya. Beri tahukan keindahan yang patut disyukuri yang ada padanya. Ini akan meningkatkan rasa cinta kasih diantara suami-istri.

“Istriku tahukah kamu, semakin lama kita bersama semakin banyak aku menemukan butir-butir mutiara kebaikan pada dirimu. Ternyata kamu seorang yang lembut. Kamu mengerti kapan dan bagaimana cara mengingatkan aku saat semangat ini melemah. Dan caramu mendengarkan luapan rasa senangku, sungguh membuat diriku berarti. Aku tahu kamu begitu lelah memikul tugas di rumah dan di luar rumah. Namun kamu mengisahkan langkah-langkahmu menjalani segenap amanah da’wah ini dengan penuh suka cita. Istriku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang melimpah …”

sumber: http://kartino.wordpress.com/2008/09/11/suami-shalih-kekasih-bagi-istrinya/

Posted Desember 21, 2010 by 4n1ef in Islamic Parenting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s