Takkan Terulang Lagi   Leave a comment

Tidak semua pemeriksa pernah duduk di bangku penderita (objek) alias auditee. Apalah lagi, bagi instansi yang tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya adalah melakukan pemeriksaan. Tentu saja, kesempatan langka ini tidak boleh begitu saja dilewatkan.

Hari Kami tanggal 13 Mei 2010, Mas Erick, Mbak Cindi dan Mbak Novi  datang ke kantor kami untuk entry. Selanjutnya, kami menyerahkan dokumen-dokumen yang telah diminta KAP pada hari sebelumnya. Persiapan atas dokumen tersebut dapat kami lakukan jauh hari karena permintaan data tidak terlambat disampaikan dan kami merupakan satker yang kecil (bukan perusahaan yang punya banyak cabang atau Pemerintah daerah yang punya banyak SKPD). Penyerahan dokumen tersebut dicatat dan disimpan oleh pemeriksa dan kami setelah dibubuhi paraf dari pemeriksa.

Pemeriksa kami masih muda, dan lebih banyak sharing daripada menggurui dan menginterogasi kami. Meski begitu, tetap saja ada rasa kesal karena seolah-olah pekerjaan yang kami lakukan salah dan kami dicurigai. Tidak nyaman. Mungkin, seperti itulah juga perasaan auditee kami ketika kami melakukan pemeriksaan pada mereka.

Karena dokumen yang kami berikan adalah dokumen asli, maka kami tidak memperbolehkan mereka membawa pulang ke hotel dokumen tersebut. Ini masuk dalam kategori pengendalian. Hal ini tidak berlaku dalam pemeriksaan tertentu, yang sering membawa pulang – minjem – dokumen tanpa harus bertanya apakah dokumen ini boleh dibawa ke hotel atau tidak.

Pemeriksaan selama tiga hari – Kamis, Jum’at dan Senin – itu saja sudah cukup membuat perasaan kami deg-degan; apa ya yang nantinya akan menjadi temuan pemeriksaan. Apalah lagi pemeriksaan yang dilakukan lebih dari waktu tersebut, aku kira pasti mereka lebih gelisah – atau setidaknya lebih lama merasakan kegelisahan – dari kami.

Selasa kemarin, mereka menyampaikan konsep temuan dan permintaan tanggapan. Kami juga mengecek kembali dokumen yang kami serahkan. Prosedur pemeriksaan yang dianggap kurang penting namun dapat memberikan arti lebih bagi sebuah proses pemeriksaan. Dan setelah pertemuan terakhir, hffff, lega rasanya hati kami, dan kami- pada akhirnya- akan mengucap terimakasih bila terdapat koreksi pekerjaan kami tahun lalu yang mengalami kesalahan.

Ibu Elly, Kasubag Akuntansi I Kantor Pusat, dalam diklat Penyusunan Laporan Keuangan mengatakan, memang terdapat perbedaan yang cukup besar antara Auditor, Irtama maupun Pelaksana. Antara teori dan praktek kadang tidak sama penerapannya. Contoh paling mudah adalah anggaran, selain sifatnya yang rigid / kaku, anggaran diharapkan juga bersifat fleksibel, jadi disanalah kebijaksanaan diperlukan. Kami mengakui, sebagai organisasi yang sedang berkembang, kami sendiri harus siap diaudit demi terciptanya transparansi. Dan bila ada kekhilafan dalam pelaksanaan tugas kami, kami harap di tahun yang akan datang, kesalahan itu tidak terulang lagi. Semoga.

Posted Mei 26, 2010 by 4n1ef in Keuangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s