BAB III PEMBAHASAN   Leave a comment

Gambaran Permasalahan

Pengurus Rumah Sakit “X” mengetahui bahwa tingkat keakutan pasien ditentukan oleh keseriusan dalam menangani penyakit pasien dan jumlah perawat rumah sakit yang dibutuhkan. Sebagai contoh, studi mereka terhadap kegiatannya menunjukkan bahwa pasien di Ruang Rawat Penyakit Jantung memerlukan lima kali lebih banyak perawat dibanding ibu baru melahirkan di Kebidanan. Selain itu, peralatan yang dibutuhkan dalam penanganan pasien penyakit jantung juga empat kali lipat lebih banyak daripada yang dibutuhkan di Departemen Kebidanan. Secara tradisional, rumah sakit telah mengalokasikan total biaya perawat dan biaya peralatan dengan jumlah tempat tidur pasien yang ditempati. Beberapa pengurus rumah sakit tidak memercayai ABC karena banyak dari biaya yang dikeluarkan, seperti penginapan dan makanan, sama untuk seluruh pasien, dihitung berdasarkan banyaknya jumlah tempat tidur pasien per bulan. Pengurus lainnya tidak setuju dan mengusulkan pembebanan biaya yang sebanding dengan tingkat keakutan dan banyaknya peralatan yang diperlukan pasien, baik di Departemen Penyakit Jantung maupun di Departemen Kebidanan. Total biaya gaji perawat per bulan adalah Rp450.000,00; total biaya penyediaan peralatan adalah Rp600.000,00; dan total 1.000 hari yang ditempati oleh seluruh departemen per bulan. Untuk menyederhanakan, hanya dua departemen yang dirinci; sementara data untuk departemen lainnya dijumlahkan dan dimisalkan rata-rata keakutan pasien adalah 4 untuk departemen lainnya tersebut, dan 2 untuk tingkat banyaknya peralatan yang dibutuhkan. Data penempatan tempat tidur, tingkat keakutan pasien dan tingkat banyaknya peralatan yang diperlukan adalah sebagai berikut:

Penempatan Tempat Tidur Pasien per Bulan Tingkat Keakutan Pasien Tingkat Banyaknya Peralatan yang Dibutuhkan
Departemen Rawat Penyakit Jantung 100 hari 5 4
Departemen Kebidanan 300 hari 1 1
Departemen lainnya 600 hari 4 2

3.2. Pembahasan

3.2.1.   Analisa Permasalahan

Dari ilustrasi permasalahan di atas, dapat diidentifikasi hal-hal sebagai berikut:

  1. Biaya sumber daya (resource) rumah sakit adalah berupa biaya gaji perawat dan biaya penyediaan peralatan.
  2. Tempat penampungan biaya (cost pool) pada perhitungan biaya dengan menggunakan sistem ABC adalah aktivitas pelayanan pasien oleh perawat yang ditunjukkan oleh tingkat keakutan pasien dan aktivitas penyediaan peralatan yang dibutuhkan untuk melayani pasien, sedangkan pada sistem tradisional dengan menampung biaya pada level Departemen.
  3. Penggerak biaya (cost driver) pada sistem ABC adalah tingkat keakutan pasien dan perbandingan jumlah peralatan yang diperlukan untuk melayani pasien, sedangkan pada sistem tradisional hanya menggunakan penggerak biaya tunggal yaitu biaya tingkat unit (jumlah pemakaian tempat tidur).
  4. Objek biaya dari rumah sakit ini adalah pelayanan yang dilakukan keseluruhan pihak dalam rumah sakit kepada pasien, yang akan mempengaruhi tingkat pembebanan biaya yang berbeda kepada pasien yang berbeda perlakuan pelayanannya.
  5. Pembebanan biaya sumber daya ke aktivitas dilakukan oleh manajemen rumah sakit dengan cara estimasi (tidak secara langsung). Penelusuran secara langsung membutuhkan pengukuran pemakaian sumber daya actual oleh aktivitas, dan hal ini tidak dilakukan oleh manajemen rumah sakit “X”.

3.2.2 Perhitungan biaya menurut sistem tradisional (volume-based)

Pada perhitungan ini, maka rumah sakit “X” hanya memperhitungan biaya perawat dan biaya penyediaan peralatan pada satu penggerak biaya yaitu jumlah tempat tidur yang diisi pasien.

Departemen Kebidanan akan membebani biaya perawatan lebih besar dari Departemen Rawat Penyakit Jantung. Departemen Kebidanan menerima uang jasa perawat sebesar Rp135.000,00 (300 / 1000 hari x Rp450.000,00) dan Departemen Rawat Penyakit Jantung akan menerima uang jasa sebesar Rp45.000,00 (100 / 1000 hari x Rp450.000,00).

Untuk biaya peralatan, Departemen Kebidanan memperoleh alokasi biaya sebesar Rp180.000,00 (300 / 1000 hari x Rp600.000,00) dan Departemen Rawat Penyakit Jantung akan menerima uang jasa sebesar Rp60.000,00 (100 / 1000 hari x Rp600.000,00).

3.2.3 Perhitungan biaya menurut sistem ABC

Jika menggunakan metode ABC, atau dengan kata lain memperhitungkan tingkat keakutan pasien dan penyediaan peralatan yang sebanding dengan jumlah perawat dan jumlah peralatan yang dibutuhkan, maka Departemen Rawat Penyakit Jantung akan membebani biaya perawatan dan peralatan lebih banyak dari Departemen Kebidanan. Rincian perhitungannya sebagai berikut:

  1. Menghitung kembali dasar alokasi pembayaran biaya perawatan
Departemen Rawat Penyakit Jantung    = 100 hari x 5  =   500
Departemen Kebidanan                         = 300 hari x 1  =   300
Departemen lainnya                               = 600 hari x 4  = 2400

3200

  1. Membebankan biaya perawatan

Departemen Rawat Penyakit Jantung

: 500 / 3200 hari x Rp450.000,00 = Rp70.312,50

Departemen Kebidanan

: 300 / 3200 hari x Rp450.000,00 = Rp42.187,50

Departemen Lainnya

: 2400 / 3200 hari x Rp450.000,00 = Rp337.500,00

  1. Menghitung kembali dasar alokasi pembayaran biaya peralatan
Departemen Rawat Penyakit Jantung    = 100 hari x 4  =  400
Departemen Kebidanan                         = 300 hari x 1  =   300
Departemen lainnya                               = 600 hari x 2  = 1200

2100

  1. Membebankan biaya peralatan

Departemen Rawat Penyakit Jantung

: 400 / 2100 hari x Rp600.000,00 = Rp114.285,70

Departemen Kebidanan

: 300 / 2100 hari x Rp600.000,00 = Rp85.714,30

Departemen Lainnya

: 1200 / 2100 hari x Rp600.000,00 = Rp342.857,50

Posted Desember 10, 2009 by 4n1ef in college, cost manajement

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s