Akhir Tahun   Leave a comment

Pada umumnya, setiap akhir tahun anggaran, pengeluaran/belanja Negara meningkat pesat. Banyak kontrak-kontrak yang dilaksanakan oleh pihak ketiga sudah rampung dan harus dibayar. Banyak honor-honor yang perlu dirapel karena Surat Tugas terlambat turun. Banyak hotel penuh karena dipakai ruangan dipakai untuk koordinasi dan evaluasi kegiatan setahun. Untuk hotel ini, kita sendiri sewaktu diklat PPAKP Angkatan X di Hotel Sahid Jaya Makassar sudah bertemu dengan setidaknya tiga instansi pemerintah, Depnakertrans, Askes dan TVRI.

Di akhir tahun juga, perusahaan mulai menggenjot rerata penjualannya agar semakin meningkat, entah dengan menggelar diskon besar-besaran atau menambah promosinya agar barang laku terjual. Keuntungan agak berkurang tak apa karena mereka mengejar besar penjualan (sales). Besarnya penjualan ini nantinya akan ditandingkan dengan biaya yang dikeluarkan (cost) sehingga perusahaan peroleh laba yang tinggi. Jika laba yang diraih sudah melebihi target, mereka biasanya hanya mengejar besarnya penjualan tersebut.

Pada berbagai jenis perusahaan, termasuk bank, akan menghitung persediaan dan keuntungan mereka di awal tahun. Cek fisik dilakukan pada persediaan yang masih mentah (raw inventory), persediaan dalam proses (work in process) dan persediaan yang sudah siap untuk dijual (finished goods). Dengan cara ini, perusahaan akan dapat menentukan berapa nilai persediaan yang harus dicantumkan di neraca (balance sheet). Selain itu, perusahaan juga melakukan kas opname (cash opname) yang ada di brankas, uang yang ada di bank (saldo bank) serta kas kecil (petty cash) untuk mengetahui saldo kas akhir tahun. Rekonsiliasi bank akhir tahun juga diperlukan agar tidak ada deposit in transit dan outstanding check yang belum dihitung.

Pada instansi pemerintah, Menteri Keuangan telah mengeluarkan peraturan tentang pedoman pelaksanaan pengeluaran dan penerimaan di akhir tahun. Ini terdapat pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 169 Tahun 2009 yang berlaku mulai 4 November 2009. PMK ini dirincikan lagi oleh Peraturan Direktur Jenderal (Perdirjen) Perbendaharaan Nomor 46/PB/2009 tentang Langkah-langkah dalam Menghadapi Akhir Tahun Anggaran ditambah dengan Surat Edaran yang menjelaskan tentang Perdirjen tersebut.

Dari sisi penerimaan Negara, dicantumkan dalam Pasal 3 ayat 4,5 dan 6 yang menerangkan bahwa jika Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi menerima uang dari hasil penerimaan Negara pukul 15.00-24.00, maka Bank diminta untuk membukukan sebagai penerimaan akhir tahun bersangkutan dan dilimpahkan pada hari kerja berikutnya (disetorkan). Selanjutnya diminta agar bank/pos persepsi memisahkan rekening koran penerimaan dengan transaksi tahun berikutnya. Kedua hal ini menarik, karena dalam hal ini, Pemerintah yang masih menggunakan cash basis dalam penerimaan Negara, telah mengupayakan sistem yang baik dalam rangka memisahkan penerimaan tahun berjalan dengan tahun anggaran berikutnya. Yang kedua, pemerintah telah berupaya melaksanakan Treasury Single Account (TSA) dengan mewajibkan bank/pos persepsi menyetorkan penerimaan Negara ke Bank Indonesia.

Selain mengatur penerimaan Negara, Perdirjen ini juga mengatur pengeluaran/belanja Negara. Belanja Negara dari SPM-UP dan GUP harus diterima 16 hari kerja sebelum akhir tahun, SPM-TUP 13 hari, LS 8 hari dan SPM-LS gaji 13 hari sebelum akhir tahun. Hal ini lebih dirasa lebih longgar dibandingkan peraturan sejenis yang terbit di tahun 2006 yaitu Perdirjen 55 tahun 2006. Di peraturan lama, SPM-UP dan GUP harus diterima selambat-lambatnya tanggal 6 Desember, SPM-TUP tanggal 8, LS tanggal 20 dan SPM-LS gaji tanggal 15 Desember. Bila ada sisa UP, maka Bendahara Pengeluaran harus menyetorkan ke Kas Negara pada bank/pos persepsi, dan jika masih ada UP yang belum disetor/dipertanggungjawabkan sampai waktu yang telah ditetapkan diperhitungkan dengan dana UP tahun anggaran berikutnya (Pasal 8 Perdirjen 46). Dengan aturan ini, maka berapa belanja Negara dapat diketahui dengan pasti.

Dari dua sektor di atas, baik sektor privat (perusahaan) dan public, keduanya melakukan langkah yang sama, menghitung besarnya sumber daya yang digunakan dan apa yang telah dihasilkan. Kalau langkahnya sama, seharusnya penilaian atas prestasi yang dicapai seharusnya juga sama. Bukan serupa, tapi tak sama.

Posted Desember 6, 2009 by 4n1ef in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s