“Arrahman” (Tuhan) Yang Maha Pemurah. “Allamal qur’an” (Yang telah mengajarkan al-Qur’an). “Khalaqal insan” (Dia menciptakan manusia). (QS : ar-Rahman : 1-3)
Allah Rabbul Alamin, Yang Maha Rahman dan Rahim, sebelum menciptakan manusia dan alam semesta ini, terlebih dahulu memberikan “minhajul hayah” (methode kehidupan), memberikan aturan dan hukum-hukum-Nya, memberikan “mabda” (prinsip-prinsip bagi kehidupan). Allah Rabbul Alamin memerintahkan kepada manusia “bertahkim” dengan hukum-hukum-Nya bagi kehidupannya. (QS : al-Maidah : 44, 454, 47).
Allah Rabbul Alamin sesudah membuat “minhaju hayah” (methode kehidupan), barulah menciptakan manusia. Manusia diberikan “minhajul hayah” bagi meniti kehidupannya di dunia ini, agar mereka menjadi manusia yang dalam terminologi al-Qur’an sebagai manusia “muttaqin” (bertaqwa). Manusia yang bertaqwa itulah dalam al-Qur’an surah al-Bayyinnah disebutkan sebagai : “khairul bariyyah”. (sebaik-baik makhluk).
Sedikit kita melihat kehidupan ke belakang, sejarah kehidupan para salafush shalih, yang sepatutnya menjadi “ibrah” (pelajaran) bagi kita. Pelajaran yang akan sangat berharga, bagi siapa mau mengambil “ibrah” itu.
Read the rest of this entry »
Ali bin Khasyram berkata:“Seorang tetangga al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah menceritakan, dulu al-Fudhail bin Iyadh membegal (merampok) sendirian. Suatu malam ia keluar untuk membegal, ternyata ia mendapati suatu kafilah (rombongan dagang) yang kemalaman. Seorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya:‘Mari kita kembali ke kampung itu, karena di hadapan kita ada seorang pembegal yang bernama al-Fudhail.’ Ketika al-Fudhail mendengarnya, ia menjadi gemetar lalu berkata:‘Wahai sekalian manusia, aku al-Fudhail. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan. Demi Allah, aku akan berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah selamanya.’ Lalu ia kembali (bertaubat) dari jalan yang pernah ia tempuh (membegal)”.
Diriwayatkan dari jalur lainnya bahwa ia (al-Fudhail) menjamu mereka (mengajak mereka bertamu ke rumahnya) pada malam itu, dan berkata:“Kalian aman dari al-Fudhail.” Lalu ia (al-Fudhail) keluar untuk mencari rumput untuk tunggangan mereka. Lalu ia kembali mendengarkan seseorang yang sedang membaca:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ {16} ‘
”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.”(QS. Al-Hadiid: 16)
Read the rest of this entry »
Tulisan ini saya peroleh dari group STAN 2005, groupnya teman-teman STAN angkatan 2005-2008.
KETIKA ribuan orang dan para elite mencaci-maki Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak gara-gara Gayus Tambunan, lenyaplah morale (spirit,kegigihan,dan kegairahan) para pegawai.
Hal yang sama saya rasakan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat proses “kriminalisasi” pimpinan berlangsung, mulai dari kasus Antasari sampai Bibit-Chandra. Sayang, pimpinan yang tinggal dua di KPK saat itu terlalu sibuk untuk memikirkan masalah morale ini. Informasi yang saya temui menyebutkan, gangguan psikologis mulai membuat mereka lamban bertindak.
Hal serupa bisa saja terjadi di Ditjen Pajak. Apalagi mantan dirjennya, yang dulu mungkin tak berbuat apa-apa, hampir setiap hari muncul di televisi mencacimaki Ditjen Pajak. Dia merasa Ditjen Pajak dulu lebih baik daripada sekarang. Terhadap ocehan seperti ini, secara kritis saya hanya bisa mengatakan,” Apa kata dunia?” Beruntung, pemerintah segera merumuskan pengganti mereka yang tak kalah cekatannya.
Dan beruntung pula di Ditjen Pajak sudah ada hasil yang memadai dari reformasi birokrasi perpajakan jilid satu yang lalu. Beruntunglah Ditjen Pajak segera bertindak, menyatukan morale yang dipelopori para reformer yang “gerah” dikait-kaitkan dengan Gayus. Apa yang harus dilakukan Ditjen Pajak untuk memperkuat pilar bangsa agar dana pajak dapat terus ditingkatkan dan diamankan dari orang-orang rakus?
Halte Bus Gayus
Melalui siaran televisi Anda sudah sering menyaksikan kondektur bus yang melewati Kantor Ditjen Pajak di dekat jembatan Semanggi, menyebut kantor itu dengan nama Gayus. Begitu kerasnya amarah rakyat terhadap Gayus, sampai seluruh insan Ditjen Pajak terkena imbas. Beberapa orang muda pegawai pajak yang naik bus kota bahkan memilih untuk turun di halte bus sebelum atau setelah halte Gayus lalu berjalan kaki sejauh 1-2 km menuju kantor.
Seperti masyarakat umum,mereka juga kecewa pada atasannya, terlebih pada yang terlibat kasus Gayus. Mereka marah besar, apalagi selama ini sudah bertekad antikorupsi. Bekerja di Ditjen Pajak hidup mereka benar-benar berada dalam ujian. Setiap hari orang datang merasakan kompromi beserta amplop tebal.Tapi,kalau Anda tanya kepada pembayar pajak seperti saya, saya yakin jawabnya akan sama: Banyak pembaruan yang telah mereka lakukan.
Seorang mantan pegawai pajak di era lalu mengatakan,“Dulu 8 dari 10 petugas pajak adalah markus dan pemburu amplop. Sekarang jumlahnya sudah jauh berkurang, tetapi masih ada,mungkin 2 dari 10”. Mendengar ucapan itu, saya jadi tersenyum,bagaimana mantan Dirjen Pajak yang sekarang menjadi praktisi dan sering muncul di televisi bisa bilang,zaman dia itu jauh lebih baik dari sekarang.
Tetapi, itulah politik, penuh intrik, balas dendam, tapi tidak kritis, cuma sinis. Yang mereka suka tidak berpikir panjang adalah apa dampaknya bagi nasib bangsa di kemudian hari? Bayangkan kalau orang pajak yang bagusbagus ramai-ramai mengundurkan diri. Atau kalau mereka jadi tak bergairah memburu wajib pajakwajib pajak kakap? Morale kerja adalah modal utama seorang pegawai.Sejak mazhab learning dalam manajemen hidup, aliran Isaac Newton yang kaya dengan logika terstruktur sudah lama ditinggalkan.
Manusia tidak bisa lagi dipandang sebagai komponen yang sama dan standar. Dia juga bukanlah sebuah objek yang duduk dalam hierarki vertikal pada suatu jajaran birokrasi. Manusia adalah makhluk hidup yang dilahirkan dengan nalar, kehendak, dan perasaan. Ketika kita gagal memahaminya,gagal pulalah kita memartisipasikan mereka. Untuk itulah,kita perlu terus menumbuhkan morale birokrasi, terutama jajaran yang ditugaskan untuk menghimpun dana dalam jumlah besar.
Ciri-ciri morale dapat dilihat secara kasatmata dalam daya juang, semangat hidup, daya kreasi, daya tangkal, dan tentu saja besarnya goals yang mereka tetapkan. Sedangkan morale yang memburuk dapat dilihat dari kegairahan yang memudar, bekerja karena diperintah, ketidaksempurnaan pencapaian target, konflik, keinginan untuk berhenti, tak ada inisiatif, dan saling menyalahkan.
Lingkaran Baik
Pekan lalu Rumah Perubahan diminta bantuan untuk membangun kembali morale aparat Ditjen Pajak. Ini untuk kesekian kalinya saya membantu temanteman Ditjen Pajak sehingga saya agak kenal siapa mereka, apa pergulatan yang mereka hadapi, dan bagaimana perubahan menghantam mereka. Sembilan tahun lalu saya mulai bergulat dengan mereka menantang asumsi-asumsi yang mereka anut selama bertahun-tahun dan mengajak keluar melawan belenggu-belenggu.
Lalu ketika Darmin Nasution memimpin Ditjen Pajak, saya juga diminta memberikan pengarahan tentang Strategic Change & Planning dalam mengawal reformasi pajak jilid satu. Semua program perubahan di Ditjen Pajak mereka kerjakan sendiri praktis tanpa bantuan konsultan.Padahal di luar sudah banyak konsultan asing yang menganga di depan mereka. Sebagai guru perubahan, saya selalu mengatakan empat hal ini.
Pertama, perubahan selalu datang bersama teman-temannya yaitu penyangkalan, perlawanan (resistensi), kecurigaan, dan pengkhianatan internal.Kedua, perubahan tidak pernah bergerak lincah seperti garis lurus yang mengikuti pola teratur. Perubahan memiliki dua pola berbentuk spiral yaitu lingkaran baik dan lingkaran setan. Lingkaran spiral itu dapat dijelaskan seperti orang yang menaiki gunung.
Dia melewati lekuk liku kontur gunung yang kadang menanjak,lalu menurun, dan naik lagi.Meski banyak melewati turunan, arahnya menuju puncak dapat dilihat. Sedangkan lingkaran setan tak memberi kepastian tujuan. Bila ada masalah setelah lama berhasil, dia segera menukikkan balik ke titik nol. Seperti kata Chairil Anwar,” Sekali berarti,lalu mati.” Ketiga,tidak semua orang dapat diajak berubah.
Ibarat tanah di perbukitan yang tandus ingin diubah menjadi hutan,hendaknya kita tak perlu berambisi dengan menanam semua titik. Kita cukup menanam benih pada tanah yang subur, dan mendiamkan batu-batu besar berada di sana. Lalu pohon-pohon besar itu akan mengeluarkan biji. Biji-biji dibawa musang, tikus, bajing, dan seterusnya menambah area persebaran. Lama-lama batu tertutup oleh pohon-pohon besar, dan bukit menjadi hijau.Namun, batu tetaplah batu,bukan tanah.
Keempat,perubahan harus dimulai dari kesamaan cara pandang. Dari semua orang yang melihat, bahkan hanya 20% yang bergerak.Maka ketika Ditjen Pajak mendapat serangan,saya kira harus ada orang yang mengambil peran. Bukan untuk melakukan pekerjaan sia-sia mengetuk batu, melainkan melindungi pohon-pohon yang sudah tumbuh. Itulah tugas mulia kita,menjaga agar reformer pajak jangan dijadikan tumbal wajib pajak bermasalah.
Pesan Menteri Keuangan
Harus diakui sudah ada banyak reformer di Ditjen Pajak. Mereka menulis perasaan mereka pada buku berjudul Berbagi Kisah dan Harapan. Cara menulisnya memang masih amatir,tetapi itulah isi perasaan insan pajak yang secara garis besar selalu mengatakan, “Ingat pesan itu dari kampung. Hidup bermartabat bukan dengan uang korupsi.”
Di penghujung acara selama tiga hari pekan lalu itu, Menteri Keuangan (Menkeu) berpesan: Musuh terbesar birokrasi adalah rasa sungkan bawahan terhadap atasannya dan sungkan sesama pejabat. “Beranilah menyampaikan yang benar. Bila perlu, berdebatlah,” ujar mantan CEO Bank Mandiri itu. Saya kira Menkeu Agus Martowardojo sangat tepat. Ini musuh bersama reformasi birokrasi yang harus dihadapi bersama.
Kalau birokrasi kita lebih profesional, mereka akan mendahulukan halhal yang utama ketimbang mementingkan kehendak orang lain yang belum tentu penting. Saya mengerti rasa berang kita terhadap aparat perpajakan belumlah pupus. Namun, mereka yang mau berubah dan menjadi reformer harus diberi apresiasi. Bersama merekalah kita melawan para koruptor dan pengemplang pajak yang berlindung di balik kekuatan atau motif-motif balas dendam politisi kotor.(*)
RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
Bagi pengunjung yang suka dengan Kolom Fuad Rumi yang mengisi kolom Gelitik di Harian Fajar Makassar, Anda bisa membuka di web: http://sanghati.blogspot.com/2011/11/gelitik-ala-fuad-rumi.html
Terimakasih..
Hari sabtu yang lalu, saya dan teman-teman menghadiri seminar yang diadakan oleh Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Judulnya, “Shari’a Accounting in The Current Global Economic Trend”. Berikut ini adalah promosi yang diletakkan pada website http://www.ima-unhas.com/index.php/undangan.html
Ikatan Mahasiswa Akuntansi Unhas
Presents; “6th Hasanuddin Accounting Days”;
Seminar Internasional – 28 jan 2012 @Baruga A.P.Pettarani Unhas
“Shari’a Accounting in The Current Global Economic Trend” oleh:
-Prof.Dtauk DR. Syed Othman Alhabsi (Chief Academic Officer INCIEF Malaysia)
-Drs.M.Jusuf Wibisana, M.EC, Ak (Ketua Dewan Standar Akuntansi Syariah)
-Aji Dedi Mulawarman (Pakar Akuntansi Syaraiah-Dosen Univ.Brawijaya)
-Dr.H.Abd.Hamid Habbe, SE.M.Si (Ketua Jurusan Akuntansi Unhas)
Workshop – 29 jan 2012 @Gedung IPTEKS Unhas
“Implementation of Shari’a Accounting Standard for Financial Statement in Business Entity” oleh Praktisi Perbankan Syariah
Tiket;
Mhsiswa S1: seminar 35rb, workshop 35rb
Umum: seminar 50rb, workshop 65rb
(inc. Sertfkt, seminar kit, snack, lunch)
Alhamdulillah, saya bisa mengikuti seminar ini sampai selesai. Materi yang disampaikan oleh para pembicara sangatlah menarik. Bapak Profesor Datuk Syed Othman menyampaikan materi tentang perkembangan ekonomi syariah di dunia, terutama di Negara asal beliau yaitu Malasyia. Di sana ekonomi syariah berkembang dengan pesat, banyak muncul bank-bank syariah dan didukung dengan kepercayaan dari masyarakat. Beliau membahas secara global dalam bahasa melayu, dengan makalah yang berbahasa Inggris. Yang paling saya ingat dalam makalah beliau adalah tulisan yang kurang lebih artinya, “Jika kita ingin benar dalam melakukan ekonomi syariah, maka haruslah seluruh pelaku ekonomi itu memahami bahwa syariah itu hanyalah satu yaitu Islam, dan sudah jelas dalam Al-Qur’an dikatakan “Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan” artinya seluruh syariahnya harus kita taati”. Dapat disimpulkan bahwa ekonomi syariah hanya akan terwujud jika masyarakatnya bertauhid dan bertaqwa kepada Allah Ta’ala.
Selanjutnya Bapak Jusuf Wibisana selaku Ketua DSAK dan salah satu dosen di Univ.Brawijaya Malang. Beliau menerangkan dasar-dasar, kerangka konseptual sampai kepada teknis transaksi dalam ekonomi syariah. Sayang sekali, karena presentasi beliau ‘nabrak’ waktu shalat dhuhur, saya tidak mengikuti presentasi beliau hingga tuntas.
Sesi terakhir dari seminar ini diisi oleh Bapak Hamid Habbe dan Bapak Aji Dedi Mulawarman. Bapak Hamid memberikan presentasi yang berjudul “Akuntansi Syariah, Sudah Syariahkah?”. Kesimpulan yang didapat dalam paparan beliau adalah Belum Sesuai Syariah. Selanjutnya, Bapak Aji Dedi Mulawarman melanjutkan pembahasan dengan kajian yang sangat menarik. Beliau berpendapat bahwa akuntansi sebenarnya fungsinya bukan hanya pada pencatatan, namun ia melegalkan sesuatu transaksi melalui sebuah kebijakan dan prinsip akuntansi. Prinsip akuntansi syariah yang sekarang (apalagi yang konvensional) sama sekali tidak mengacu pada ekonomi syariah, bahkan masih pro Neoliberalism.
Sebagai contoh konkrit adalah tujuan dari berdirinya suatu entitas yaitu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Padahal dalam Islam, sebuah organisasi berdiri mempunyai dua tujuan, mencari ridha Allah dan memberi sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain. Jadi, seharusnya bukan keuntungan (net income) yang dikejar – sementara para buruh berdemonstrasi dan alam menjadi rusak – tapi organisasi dianggap berhasil jika karyawannya sejahtera dan memberi manfaat positif bagi lingkungan di sekitarnya.
Contoh yang lain lagi, misalnya perlakuan transaksi atas zakat. Kalau perusahaan mengeluarkan zakat (sebenarnya yang wajib zakat adalah orang-per-orang) atau infak katakanlah, maka perusahaan akan mencatat hal tersebut sebagai beban perusahaan. Padahal, rumus yang dipakai dalam perhitungan laba rugi perusahaan adalah Revenue – Expense = Income (Pendapatan – Beban = Laba/Keuntungan). Tidak ada unsur social dan ilahiah di dalamnya. Jadi, zakat/infaq (kalau pak Dedi menyebut beban Tuhan) harusnya diper-sedikit mungkin agar keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi lebih besar. Dan ini masih dipakai dalam PSAK Syariah. Biar lebih jelas, coba dibuka webnya pak Dedi.
Pandangan bahwa akuntansi yang diajarkan sekarang menjadikan kita berpikir materialistis dan Neoliberal, tentu masih bisa diperdebatkan. Dan apa yang saya dapat hari itu, memberikan saya kesadaran baru bahwa ilmu yang saya peroleh hari ini masih sangat sedikit. Saya harus lebih banyak belajar.
Tetap semangat untuk belajar! Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bishawab.
.
Indonesia, Negara Politik bukan Negara Hukum
Terus terang, saya sudah jenuh mengikuti berbagai pemberitaan, baik di TV maupun di media cetak karena didominasi oleh pemberitaan politik. Semua persoalan dipolitisasi, dijadikan isu politik, sehingga jika kita menggunakan pendekatan hukum dan politik, tampak jelas betapa masalah hukum pun, semua diangkut ke ranah politik.
Kalau di Negara-negara hukum banyak beredar joke-joke hukum, maka di Negara politik, yang banyak juga joke-joke politik, salah satunya adalah yang berikut ini.
Salah seorang petinggi Singapura berkunjung ke Indonesia. Di pelabuhan udara, petinggi Indonesia menyambutnya dengan gembira, kemudian duduk bersama di mobil kehormatan.
Selama di perjalanan, dengan bangga petinggi Indonesia menunjuk pada ribuan orang yang berdiri di pinggir jalan, yang telah dipersiapkan sebelumnya, sambil mengibar-ngibarkan bendera Singapura dan Indonesia. Tapi petinggi Singapura mengerutkan keningnya.
“Banyak sekali pengangguran di Negara Anda”, kata petinggi Singapura. “Di Negara kami tak seorangpun mau membuang-buang waktunya seperti itu. Mereka bekerja dan tak punya waktu berdiri di pinggir jalan.”
Mendongkol hati si petinggi Indonesia mendengarnya. Begitu si petinggi Singapura pulang, ia menyusun rencana untuk berkunjung ke Singapura, ingin membuktikan apakah benar tak ada pengangguran di Singapura. Beberapa hari kemudian, si petinggi Indonesia dan rombongan tiba di Singapura, dan sejawatnya si petinggi Singapura menyambutnya di pelabuhan udara dan bersama-sama menuju kantor si petinggi Singapura. Di sepanjang jalan, tak ada seorangpun yang berdiri di pinggir jalan menyambut mereka.
“Anda lihat,” celetuk si petinggi Singapura, “tak ada yang menganggur”. Keesokan harinya, si petinggi Indonesia bersama ajudannya mengelilingi kota di Singapura, ternyata memang tidak ada seorangpun penganggur yang mereka temui.
Setelah beberapa hari mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka bermaksud pulang kembali ke Indonesia. Dengan ditemani teman sejawatnya yaitu si petinggi Singapura, mereka menuju bandara. Tiba-tiba tampak seorang lelaki duduk termenung di pinggir jalan.
“Nah, itu dia!” teriak si petinggi Indonesia. “Kita berhasil menemukan satu orang!” Dia menyuruh ajudannya menghampiri orang tersebut. Tak lama kemudian, ajudannya kembali sambil berlari-lari, “Pak, Pak..!” teriaknya, “Dia warga Negara Indonesia, Pak. Namanya Nazaruddin Pak, yang ramai diberitakan di tanah air. Konon sudah beberapa kali dipanggil KPK untuk diperiksa, tapi tidak mau datang dengan alasan sakit dan sedang berobat di Singapura ini Pak!”.
just relax…
Sumber: Gelitik Kolumnis Harian Fajar Makassar.Fuad Rumi.
Pesan Penting Syaikh Usamah Bin Ladin ( Bagian I )
Berikut kami sajikan wawancara eksklusif wartawan Al-Jazeera dengan Syaikh Usamah Bin Ladin. Kami sajikan berseri dalam enam bagian.
Ayat (At taubah: 12-13): “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti. Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu ? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Kepada Amerika, saya ingin menyampaikan beberapa kalimah ini:
Demi Allah yang meninggikan langit tanpa tiang, Amerika tidak akan mengecap rasa aman Sebelum kami merasakannya di bumi Palestina. Dan sebelum semua tentara tentara kafir itu keluar meninggalkan bumi Muhammad saw. Allahhu Akbar…kemuliaan hanyalah bagi Islam ..wassalam
Si Bush bapak, dan Bush anak, bersama Clinton dan Sharon, mereka semua adalah kepala penjahat-penjahat dunia. Yang telah banyak mencabuli hak-hak kaum Muslimin, mereka telah membunuh anak-anak kaum Muslimin tanpa dosa. Darah mereka tidak akan hilang begitu saja, Insya Allah, selagi kita memerangi mereka dengan dasar agama ini.
Read the rest of this entry »
Puji Ale, istilah Bugis, artinya memuji diri sendiri. Sama dengan ujub dalam bahasa Arab yang artinya kagum atau takjub pada diri sendiri. Sama juga dengan narsisisme dalam bahasa Inggris atau narsisme dalam bahasa Belanda yaitu cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan. Ketiga istilah ini tampaknya kurang lebih sama maknanya. Tentu masih banyak istilah lainnya dari berbagai bahasa untuk menyebutkan hal yang sama.
Makhluk pertama yang mengidap penyakit kejiwaan ini adalah iblis. Iblis punya semboyan kebanggaan diri yang diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu ana khairun minhu, saya lebih baik dari dia. Lalu iblis pantang mengakui kelebihan orang lain (Nabi Adam).
Dalam khazanah sekarang ini, tampaknya istilah narsis yang lebih dikenal. Istilah yang digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos yang dikutuk sehingga mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh menjadi bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis (liat di sini). Michelangelo Caravaggio membuat sebuah lukisan terkenal tentang Narkissos atau Narsisus yang jatuh cinta dengan dirinya sendiri ini.
Narsis ternyata tidak hanya merusak kepribadian seseorang. Dalam ajaran Islam, ujub dikatakan merusak nilai amal, sebab ia berbuat baik hanya agar ia dipuji dan dikagumi. Semakin ia dipuji dan dikagumi maka semakin sombonglah ia. Lebih-lebih lagi jika ia seorang pemimpin, maka berkumpullah di sekelilingnya para tukang puji, penjilat, yang terus-menerus melambungkan citranya tinggi-tinggi. Orang-orang di sekitarnya itu tentu saja juga kecipratan berbagai macam fasilitas yang menyenangkan.
Pemimpin yang narsis sudah pasti tidak bisa jujur menilai hasil kepemimpinannya. Ia tidak pernah melihat kekurangannya sebab ia yakin dirinya adalah yang terbaik. Padahal yang terjadi adalah kerusakan dan kesengsaraan rakyat yang dipimpinnya.
Menyadari potensi diri dan kelebihan yang dipunyai, jika dikelola dengan baik dan dimanfaatkan untuk memberi manfaat pada sebanyak mungkin orang, sebenarnya adalah suatu hal yang positif. Tapi ketika potensi itu membuat seseorang menjadi sombong, memuji diri sendiri, membangun citra diri dengan diiringi sikap merendahkan orang lain, maka itu menjadi negatif.
Sikap yang paling bijak mempunyai berbagai kelebihan adalah berkarya dalam bentuk benda atau pemikiran. Karya-karya itu cepat atau lambat pasti akan diketahui orang dan pasti akan mendapat apresiasi atau pujian. Tanpa harus memuji diri sendiri.
Pandai-pandailah memuji anak sejak kecil, jangan sampai kelebihan dan berlebihan, sehingga tanpa sadar ia tumbuh menjadi sosok yang haus pujian. lalu, untuk memehuni hasratnya, pujian itu dia alirkan dari dirinya sendiri. Jadilah ia sosok narsis atau ujub alias puji ale itu.
Gelitik Fuad Rumi, harian Fajar tanggal 23 Desember 2011.
Kasih ibu, kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Bait lagu di atas pastinya sering kita nyanyikan sejak zaman kanak-kanak. Lagu yang menggambarkan betapa kasih sayang ibu kepada kita takkan pernah habis dan berhenti. Seorang ibu telah rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan buah hatinya. Sebesar apapun badai menerjang, dan sekeras apapun ombak menghantam, ibu akan berdiri tegar melindungi anak-anak tercinta.
Kita mungkin sering menyepelekan peran seorang ibu, padahal tugas dan kewajibannya sama sekali tidak mudah. Bahkan ibu seringkali dianggap sebagai orang yang lemah. Padahal tak ada yang mampu menggantikan peran seorang ibu, yang bersedia hamil, melahirkan, menyusui, membesarkan anak dan mengantar mereka menuju kesuksesan. Adakah yang lebih mulia dari hal itu?
Memang sudah seharusnya kita mengakui bahwa betapa mulia tugas dan peran seorang ibu. Maka janganlah kita menyakiti hatinya. Jangan buat ia bersedih karena tingkah perbuatan kita. Bahagiakan ibu-ibu kita. Ukirlah senyum di wajah mereka. Dan buktikan bahwa kami, ananda tercinta, mampu membuat ia bangga.
Disuatu hari , di musim semi di Indonesia ( ceritanya Indonesia ada 4 musim ) , seorang anak laki-laki berjalan bersama ayahnya . Berdua saja , menenteng ember dan alat pancing. Sepanjang jalan anak itu bertanya banyak hal kepada ayahnya . Beruntungnya , ayahnya tidak bosan menjawab
Tiba-tiba , sang ayah berhenti ketika berjalan , melihat seorang anak kecil yang membeli es krim , kemudian membuang uang kembalian berupa sekeping Rp 50,- . Uang itu dibiarkan begitu saja , bahkan mas2 yang jual eskrim juga tidak peduli . Memperhatikan , anaknya ikut berhenti tidak mengerti . Ketika anak itu pergi , sang ayah kemudian mengambil uang lantas memasukkannya kedalam saku.
- – -
Ketika di pemancingan
Anak : Yah,kenapa tadi uangnya diambil , kan cuma Rp 50,- , mending kalo Rp 100.000,- . Lagian uang ayah udah banyak banget kan
Anak itu bertanya tidak mengerti kenapa ayahnya mengambil uang kecil itu dan menyimpannya.
Sang ayah tersenyum , menoleh kepada anaknya. Kemudian menjawab
Ayah : Nak , orang yang menyepelekan hal-hal kecil tidak pantas menerima hal-hal yang lebih besar lagi .
Anak : maksudnya yah ?
Ayah : kalo kamu dikasih kepercayaan uang sekedar Rp 50,- dan tidak menghargainya sama sekali , kamu tidak pantas sedikitpun untuk menerima uang yang lebih besar.
Anak : masih belum mengerti yah !
Ayah : hmmmm … bukankah kamu sering lihat nak , orang yang diberikan amanah yang sederhana,bahkan terlihat sepele , tapi tidak dilaksanakan dengan baik , tidak dikerjakan , atau justru meninggalkan amanah itu , maka orang seperti tidak pernah pantas untuk menerima amanah yang lebih besar.
Anak : masih bingung yah !
Ayah : kelak kamu akan mengerti , jangan pernah menganggap sederhana hal hal kecil , dosa kecil juga bukan hal sederhana nak , amanah sekecil apapun , juga bukan hal sederhana , Allah nanti akan menghitung bahkan yang sekecil zarah pun ada balasannya. Kelak kau akan mengerti ketika dewasa. Sekarang , ayo kita memancing !!!
- – - -
Hari yang menyenangkan di musim semi , memancing entah menjadi hal aneh atau wajar di musim semi , tapi mereka memancing di kolam rumah eyang, jadi tidak masalah. Selalu ada air dan pasti ada ikannya . Nenek sedang memasakkan menu kesukaan menantunya dan cucunya itu di dapur.
Kurniawan Gunadi
sumber