Dinasti Tikus   Leave a comment

Drama pengungkapan berbagai kasus yang menimpa para pejabat sepertinya akan terus berlanjut, jika tak tertutup kasus lain. Seperti downline dalam MLM, satu orang ‘tertarik’, ia akan ‘menarik’ tiga atau bahkan lima orang yang lain. Satu orang diseret ke meja hijau, ia akan “bersiul” membeberkan nama yang terkait dan ikut menikmati hasilnya. Suatu sikap yang secara naluri memang ada pada setiap manusia. Barangkali Anda pernah menghardik anak Anda karena merusak mainan temannya, lalu tanpa Anda minta ia akan mengadukan teman-temannya yang berpartisipasi dalam perusakan tersebut dengan harapan mereka juga akan dimarahi. Karenanya, saat satu ‘gayus’ tertangkap, akan menyusul ‘gayus-gayus’ lain, kecuali jika ‘gegayus’ itu berhasil membungkam para pengincarnya.

Kian hari, kasus-kasus ini tidak menunjukkan tren positif. Positif dalam arti, oknum-oknum yang sudah terungkap saja yang melakukan korupsi, suap, jadi makelar kasus maupun terlibat jaringan mafia hukum yang diproses secara hukum. Kasus yang terungkap ibarat pucuk es yang terlihat hanya seperti bongkahan di permukaan tapi ada gunungan dibawahnya. Meski begitu, yang sedikit itu sudah mampu memberi gambaran, betapa korupsi, suap dan kecurangan seperti telah mengurat akar di negeri ini. Membayangkan saja, seorang akan pesimis bisa memberangus sarang tikus di negeri ini sampai bersih. Apalagi melihat realita, para pejuang pembasmi tikus banyak yang kewalahan menghadapi berbagai intrik dan jebakan dari tikus-tikus babon yang telah berpengalaman. Parahnya lagi, para tikus telah berhasil menggerogoti institusi penegak hukum. Sepertinya, dinasti tikus telah berdiri tegak di sini.

Ngomong-ngomong soal korupsi, suap dan kecurangan, telunjuk kita akan menuding pejabat dan level atas. Tapi benarkah cuma pejabat saja yang menjadi atau berpotensi menjadi tikus? Sedang rakyat kecil yang biasa berdemo antikorupsi, yang selalu mencibir saat mendengar kasus korupsi ditayangkan di tv, adalah manusia-manusia bersih dan murni tak memiliki nafsu korupsi maupun kolusi?

Semoga saja iya, dan semoga saja hal itu bukan cuma karena – maaf- kita tidak punya kesempatan saja. Andai saja ada kesempatan, wallohu ‘alam wa na’udzubillah, belum tentu kita tidak ikut-ikutan menjadi tikus. Dan, benarkah kita tidak sama sekali memiliki potensi korup, suap dan senang dengan kecurangan?
Coba kita lihat, setiap kita hampir pasti pernah berurusan dengan institusi hukum seperti polisi, pengadilan, atau pajak dan berbagai urusan perizinan. Apa yang kita lakukan saat kena tilang? ‘damai’ dengan berbagi sedikit rizqi dengan petugas atau sidang di pengadilan? Dan saat sidang, adakah kita benar-benar disidang atau minta tolong calo di lobi pengadilan untuk mengambilkan SIM atau STNK? Dan apa yang kita lakukan saat kesulitan mengurus berbagai surat atau perizinan di berbagai kantor instansi?

Wallohul musta’an. Kita memang masih bisa berdalih tak kuasa mengelak jeratan sistem korup yang seperti sudah mengurat – mengakar, mentradisi dan mengkultur di negeri ini. Tapi jujur, kita juga tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kasus, kadangkala kita melakukan itu karena tak ingin ribet alias cari mudahnya saja. Dimana dengan begitu, kita telah menjadi donator bagi kejayaan dinasti tikus di bumi pertiwi. Kalau begini, sampai kapanpun dinasti tikus takkan mungkin tergoyahkan. Karena ternyata, secara diam-diam kita –saya dan Anda – telah menjadi simpatisan dan menjadi akar serabutnya.

Sumber: Majalah Ar-Risalah No.107/Vol.IX/11 kolom Biah halaman 2-dgn sedikit perubahan. 22/06/2010

Posted April 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Elektabilitas partai, pluralitas dan demokrasi   Leave a comment

Jadwal hari terakhir kampanye tahun 1998 saat itu adalah PDI-P dan PKS. Kami, anak muda berkaos putih tetap berkendara meski kadang bertemu dengan anak muda berbaju merah yang naik motor tak karuan. Langit mendung hampir hujan sore itu menambah khawatir hati saya dan teman di belakang saya karena tak membawa mantel. Tapi tak apalah, semoga partai ini, suatu hari nanti akan menjadi partai Islam yang besar. Demikian tinggi harapan kami, dan kebetulan perolehan suara saat itu sudah lumayan karena masuk sepuluh besar.

Saya bukan kader, waktu itu saya hanya simpatisan. Simpatisan sebuah organisasi ke’ummat’an. Organisasi yang dulunya berjuang di areal dakwah di parlemen. Organisasi yang mempopulerkan nasyid sampai ada band nasyid.

Sampai pada saat itu terdapat berita penolakan dukungan Piagam Jakarta oleh organisasi tersebut, karena organisasi tersebut mengusung Piagam Madinah, bukan Piagam Jakarta. Mungkin seorang kader akan menganggap Piagam Madinah lebih bagus, namun bagi saya tidak.

Lepas dari kekecewaan tersebut, pada tahun 2004 saya masih mengharapkan partai tersebut berubah. Memang sangat banyak kekurangan, mulai dari ikut hal yang bid’ah sampai pada tidak menanggapi isu religius seperti haramnya merokok atau penggembosan aktivis dakwah dengan cap “teroris”. Tahun 2008, saya sudah tidak sempat ikut mendukung karena sudah jauh dari kampung halaman.

Pada akhirnya, setelah saya baca keputusan Munas partai tersebut untuk membuka diri dan Islam bukan menjadi ideologi tertinggi, saya sudah lepas harapan. Mohon maaf pada teman-teman semuanya. Meminjam istilah dari web PKS Watch, ‘Kini, alhamdulillah, saya mulai bisa melepaskan PKS dari hati saya, dari pikiran saya, dan saya malah merasa plong. Selamat tinggal PKS. Pembicaraan dan pikiran mengenai PKS sudah sama sekali tidak menarik minat saya lagi, sudah sama seperti ketika membicarakan partai-partai politik yang lain.’ Mau dibawa kemana partai kita semua…

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan_Sejahtera

http://urangsunda.blog.friendster.com/tag/pks/

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=140945

http://pkswatch.blogspot.com/

http://www.pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=9173

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/20/1746359/PKS.Dicela.dan.Dipuja

http://munaspks.info/liputan/apakah-ariel-dan-luna-bisa-jadi-anggota-pks.htm

Posted April 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

ESQ di Pusdiklat   Leave a comment

Ktk sdh ada bahan2 makanan yg qt miliki, qt hrs cr th bgmn memasaknya agar sesuai dgn ap yg mw qt buat.
Cara masak yg b’beda akn membuat hasil yg b’beda pula. Bila kokinya pintar, masakan pun enak disantap.

Bgt pula dgn diri qt. Smw qt pny potensi, potensi baik dan buruk. Tinggal dipilih dan dimaksimalkan. Cara t’baik penggunaannya sdh dbrkan oleh Pencipta qt, krn Dialah yg tahu apa kebutuhan qt.

Kesadarn akn tujuan hidup ni, sering dilupakn org. Mengejar materi. Akibatnya, byk yg stress bunuh diri.

Byk yg p’lu dip’baiki dlm diri ni. Smgt tuk menjaga profesionalitas dan independensi. Juga integritas yg hrs dijunjung tinggi. Trmksi Pusdiklat yg udh ngadain utk kami training ESQ.

Posted Maret 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Pezina Diapresiasi, Pencuri Dihabisi Sampai Mati, Betulkah?   Leave a comment

Bismillahirrohmanirrohim

Al-Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina.”

Dan Allah Ta’ala menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang bertaubat …” (Al-Furqan: 68-70).

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menggandengkan zina dengan syirik dan membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan cara bertaubat, beriman dan beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji (fahisyah) dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32).

Di sini Allah Ta’ala menjelaskan tentang kejinya praktek zina dan kata “fahisyah” maknanya adalah perbuatan keji atau kotor yang sudah mencapai tingkat yang tinggi dan dapat diakui kekejiannya oleh setiap orang berakal bahkan oleh sebagian banyak binatang, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Amr bin Maimun Al-Audi, dia berkata: “Aku pernah melihat -pada masa jahiliyah- seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya sampai mati.”
—–
Sa’ad bin Ubadah radhiallaahu anhu berkata: “Sekiranya aku melihat seorang pria berzina dengan isteriku, tentu aku akan memenggal lehernya dengan pedang tanpa pikir panjang lagi.” Maka sampai perkataan ini kepada Rasulullah , lalu beliau bersabda:

“Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, sungguh aku ini lebih cemburu dari dia, dan Allah lebih cemburu dari aku, dan oleh karena betapa agungnya kecemburuan Allah, maka Dia haramkan segala perbuatan keji, baik yang lahir maupun yang batin.”(Muttafaq ‘alaih).

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan sesungguhnya seorang mukmin itu juga cemburu. Dan kecemburuan Allah itu akan timbul bila seorang hamba melakukan apa yang diharamkan kepadanya.”

Dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi :
“Tak ada seseorangpun yang lebih pencemburu dari Allah, oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang lahir maupun yang batin. Tak ada seorangpun yang lebih senang menerima udzur (permohonan maaf) dari Allah, oleh karena itu Dia mengutus para rasul untuk memberikan kabar gembira dan peringatan. Tak ada seorangpun yang lebih senang dipuji melebihi Allah, oleh karena itu Dia memuji diriNya sendiri.”

Juga dalam kitab Ash-Shahihain , diriwayatkan khutbah Nabi di saat shalat gerhana matahari, beliau bersabda:

“Hai umat Muhammad, demi Allah, tak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah ketika ada seorang hambaNya yang laki-laki atau perempuan berbuat zina. Hai umat Muhammad, demi Allah, sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Ya Allah, adakah aku sudah sampaikan.”

Disebutkannya perbuatan dosa besar ini secara khusus setelah shalat gerhana matahari mengandung isyarat rahasia yang menakjubkan; dan semaraknya fenomena zina ini merupakan tanda rusaknya alam ini, dan itu semua adalah salah satu tanda Kiamat; seperti yang disebutkan dalam Ash-Shahihain , dari Anas bin Malik bahwa dia berkata: Aku akan menceritakan pada kalian sebuah hadits yang tidak akan ada orang yang akan menceritakannya pada kalian setelah aku. Aku mendengar Rasulullah bersabda:  “Di antara tanda-tanda Kiamat yaitu bila ilmu (syar’i) menjadi sedikit(kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta zina juga menyebar (di mana-mana). Pria jumlahnya sedikit dan kaum wanita jumlahnya banyak sehingga untuk lima puluh wanita (perbandingannya) satu orang pria.”

Salah satu sunnatullah yang diberlakukan pada makhlukNya, yaitu bahwa ketika zina mulai tampak di mana-mana, Allah akan murka dan kemurkaanNya sangat keras, maka secara pasti kemurkaan itu akan berdampak pada bumi ini dalam bentuk adzab dan musibah yang diturunkan.

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidaklah merajalela riba dan zina di sebuah daerah, melainkan Allah memaklumkan untuk dihancurkan.”

Sumber: Makalah Jangan Dekati Zina, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, http://www.alsofwah.or.id

Posted Maret 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

PERNYATAAN PERS FUI TENTANG PENANGKAPAN KH. ABU BAKAR BA’ASYIR:   Leave a comment

Assalamu’alaikum wr.wb.

Penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri di Banjar-Ciamis-Jawa Barat seusai melakukan da’wah pada hari Senin pagi, 28 Sya’ban 1431H  bertepatan 9 Agustus 2010, mengingatkan kita semua kepada peristiwa menjelang Ramadhan tahun lalu dimana mabes Polri mengeluarkan pernyataan akan mengawasi dakwah-dakwah di masjid-masjid sebagai bentuk intimidasi kepada dakwah Islam dan para aktivisnya.  Bahkan menyambut intimidasi Polri waktu itu, Pangdam Diponegoro mengintimidasi orang-orang yang memakai jubah dan sorban sebagai teroris.  Namun setelah banyak protes, Mabes Polri mengumumkan bahwa mereka tidak ada program mengawasi dakwah, sekalipun dalam praktek banyak laporan bahwa pengawasan itu tetap berlangsung.

Oleh karena itu, Forum Umat Islam (FUI) menilai bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir bersama sopir dan istri serta keluarganya sepulang dari dakwah adalah bentuk intimidasi Densus 88 Mabes Polri kepada para aktivis dakwah islam, khususnya mereka yang dicap sebagai kalangan radikal, yakni para aktivis dakwah Islam  yang menyerukan ajaran islam yang benar sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, baik aqidah maupun syariah secara kaffah.

Mencermati hal di atas Forum Umat Islam (FUI) menyatakan sikap sebagai berikut :

1.    Menolak segala bentuk upaya TERORISASI Islam dan Tokoh Islam beserta umatnya.

2.    Mengecam penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 Mabes Polri saat sedang SAFARI DA’WAH di Jawa Barat.

3.    Menduga kuat bahwa penangkapan KH. Abu Bakar Ba’asyir merupakan:

a.    POLITIK REKAYASA TERORISME karena berbagai rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan yang dinarkobakan, Kasus Pemulung yang dilinting-ganjakan, kasus Gayus, kasus Bibit-Chandra dan lain-lain.

b.    POLITIK PENGALIHAN ISU dari kasus-kasus besar seperti Century, Kenaikan TDL, Pencabutan Subsidi BBM, Rekening Gendut Perwira Polri, Keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus, teror bom elpiji  oleh pemerintah kepada masyarakat, dan lain-lain, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintahan pimpinan presiden lebay.

c.    POLITIK PEMBERANGUSAN gerakan Islam untuk menakut-nakuti para Aktivis Islam yang memperjuangkan penerapan Syariat Islam.  Politik pemberangusan ini adalah pesanan asing (kafir harby fi’lan).

4.    FUI telah mendapatkan laporan bahwa ada REKAYASA TERORISME yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob yang bernama SUFYAN TSAURI yang telah merekrut dan melatih para tersangka “ PELAKU PELATIHAN MILITER ACEH “ di Mako Brimob Kelapa Dua-Cimanggis-Depok-Jawa Barat serta upaya menawarkan dana kepada kalangan pesantren di Jawa Tengah  untuk mengikuti latihan militer  sejak tahun 2009.  Hal ini menunjukkan bahwa kasus pelatihan militer Aceh tidak ada kaitannya dengan KH. Abu Bakar Ba’asyir.

5.    Menuntut  pembebasan KH. Abu Bakar Ba’asyir tanpa syarat.

6.    Menyerukan kepada Ummat Islam untuk merapatkan Barisan dan memperkokoh Ukhuwwah Islamiyyah, serta melawan segala KEZALIMAN, sekaligus melakukan Pembelaan Hukum terhadap KH. Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan aturan syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku.

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jakarta, 29 Sya’ban 1431 H/10 Agustus 20
Atas Nama Umat Islam Indonesia
Forum Umat Islam (FUI)

KH. Muhammad Al Khaththath            KH. Mudzakir Shiddiq

Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA      KH. Abu Muhammad Jibril

FORUM UMAT ISLAM:
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizb Dakwah Islam (HDI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), YPI Al Azhar, Majelis Mujahidin, Jamaah Anshorut Tauhid, Gerakan Reformis Islam (GARIS), MER-C, Gerakan Pemuda Islam (GPI), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI), LPPD Khairu Ummah, Syarikat Islam (SI), Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pengacara Muslim (TPM), Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Az Zikra, PP Daarut Tauhid, Korps Ulama Betawi, Hidayatullah, AlWashliyyah, KAHMI, PERTI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang (KAU), PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Pesantren Missi Islam, Forum Silaturahmi Antar-Pengajian (FORSAP), Irena Center, Laskar Aswaja, Wahdah Islamiyah, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

sumber: http://voa-islam.com/lintasberita/suaraislam/2010/08/12/9126/pernyataan-pers-fui-tentang-penangkapan-khabu-bakar-ba%27asyir/

Posted Februari 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Peran Ibu dalam Melahirkan dan Mendidik Generasi Qur’ani   Leave a comment

Melahirkan merupakan tugas dan keutamaan seorang wanita, yang secara otomatis akan menjadi seorang ibu begitu ia melahirkan. Keutamaan ini memang diberikan Allah Swt khusus kepada kaum wanita. Tidak pernah tercatat dalam sejarah seorang lelaki melahirkan.

Mendidik, apakah ia juga dikhususkan kepad kaum wanita saja? Tentu saja tidak. Mendidik anak adalah tugas dan tanggung jawab seorang ayah. Namun dalam kesehariannya, anak lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan ibunya. Oleh karena itu, baik buruknya si anak sangat tergantung dengan pendidikan yang diberikan dan ditanamkan oleh kedua orangtua, terutama ibu.

Memilihkan ibu yang baik bagi anak adalah merupakan tanggung jawab seorang ayah kepada anaknya. Ini berarti si anak berhak untuk mendapatkan ibu yang shalihah. Kalau ini tidak terpenuhi, maka sang ayah telah merampas hak anaknya untuk memiliki ibu yang shalihah.

Untuk mendapatkan pasangan hidup yang shalihah tentu saja tidak mudah. Jika ingin mendapatkan istri seshalihah Fatimah ra, maka jadilah seshalih Ali bin abi Thalib. Begitu juga sebaliknya. Firman Allah Swt, “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).

Berbicara tentang “Peran Ibu dalam Melahirkan dan Mendidik Generasi Qur’ani” tentu saja tidak lepas dari pembicaraan tentang sosok ibu yang shalihah yang dari rahimnya akan lahir generasi qur’ani tersebut. Sebelum menjadi ibu seorang wanita akan melewati fase-fase yang panjang. Bayi perempuan yang menggemaskan, gadis cilik yang lucu, remaja putri yang pandai menjaga pergaulannya, gadis shalihah yang siap menikah dan fase terakhir sebelum menjadi ibu adalah menjadi seorang istri. Jadi, sebelum seorang wanita mendidik, ia juga sudah harus melewati masa-masa dididik oleh kedua orangtuanya. Ini merupakan mata rantai yang sangat panjang, karena akan menentukan bagaimana generasi yang akan lahir dari rahim seorang wanita tersebut. Kita berharap semoga kita semua terdidik dalam lingkungan yang Islami sehingga kita bisa menerapkan segala kebaikan yang telah diajarkan oleh orangtua kita tersebut kepada anak cucu kita.

Bagi kaum lelaki yang ingin memiliki keturunan yang shalih, maka ia berkewajiban mencari dan memilih pasangan yang terdidik dalam lingkungan yang Islami. Rasulullah berabad-abad yang lalu telah menuntun kita dalam memilih pasangan yang tepat. “Wanita dinikahi karena 4 perkara, karena kecantikannya, nasab (keturunannya), hartanya dan agamanya. Maka pilihlah berdasarkan agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” Bila seorang lelaki telah memilih istri berdasarkan hadits Nabi ini maka insya Allah generasi qur’ani yang kita idam-idamkan pun akan terwujud.

Sedangkan untuk pihak wanita, bila ingin memilih calon suami maka panduannya dari Rasulullah adalah hadits berikut, ”Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian suka agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Bila tidak, maka pasti terjadi bencana dan kerusakan besar di muka bumi” (HR At-Tirmidzi).

Sekarang marilah kita lihat bagaimana para sahabat Rasul memilihkan jodoh untuk anak-anak mereka. Suatu hari Khalifah Umar ibn Khattab berjalan-jalan di malam hari di kota Madinah untuk mengontrol situasi kota Madinah dan mengecek kebenaran berita para menteri dan walikota tentang keadaan rakyatnya.Saat itu Khalifah mengajak seseorang sebagai temannya.Ketika mereka akhirnya kecapaian, mereka pun bersandar di sebuah dinding rumah penduduk. Tak lama Khalifah Umar mendengar seorang ibu yang tinggal di rumah itu menyuruh anak gadisnya untuk mencampur susu yang akan mereka jual keesokan harinya dengan air. Si gadis menolak.“Apakah ibu tidak mendengar pesan Khalifah Umar agar kita tidak mencampur susu dengan air?” kata si anak gadis itu. Lantas sang ibu berkata, “Kau turuti sajalah perintahku, di sini sekarang tidak ada Khalifah” Lalu anaknya berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya. Memang benar Khalifah saat ini tidak berada di sini, tapi bukankah Tuhan Khalifah selalu memperhatikan kita? Aku tidak mau berbuat maksiat kepada Allah, juga tidak mau melanggar peraturan dari Khalifah”

Umar bin Khattab yang mendengar perkataan si gadis shalihah tadi lantas pulang dan memanggil anaknya yang bernama ‘Ashim. Ia ingin menikahkan anaknya dengan gadis penjual susu tersebut. ‘Ashim setuju, maka si gadis penjual susu itu pun menjadi menantu seorang Khalifah yang terkenal dengan keadilannya, Umar bin Khattab. Hasil perkawinan yang penuh berkah ini melahirkan seorang putri yang shalihah yang kemudian dari rahimnya lahirlah seseorang yang terkenal bertaqwa, zuhud dan adil, Umar bin Abdul ‘Aziz.

Umar bin Abdul ‘Aziz, yang lebih dikenal dengan Khulafaur Rasyidin yang kelima itu mewarisi ketaqwaannya dari neneknya, sang penjual susu tadi. Lihatlah bagaimana seorang perempuan yang shalihah bisa mencetak generasi qur’ani. Dikisahkan bahwa pada salah satu lebaran, putri-putri Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz meminta baju baru untuk menyambut lebaran tersebut. Ketika itu Umar bin Abdul ‘Aziz sedang tidak memiliki uang. Setelah didesak oleh putri-putrinya maka beliaupun memerintahkan pegawainya yang bertugas menjaga baitul mal untuk mengeluarkan gaji bulan depannya.Ternyata si pegawai ini tidak mau melaksanakan perintah Khalifah. Dia berkata,”Apakah Anda ingin mengambil gaji bulan depan Anda? Apa Anda yakin akan hidup sampai bulan depan (sehingga Anda berhak atas gaji itu)?” Lalu Khalifah menepuk kepalanya dan berkata pada pegawainya tersebut, “Sungguh kamu diberkati karena telah menjadi pemberi nasehat yang amanah” Kemudian Umar bin Abdul ‘Aziz menoleh kepada putri-putrinya dan berkata, “Apakah kalian mau memakai pakaian baru sedangkan ayah kalian masuk ke dalam neraka karena itu?”

Selain gadis penjual susu yang menjadi nenek Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz ini, masih banyak lagi nama-nama wanita yang tercatat dalam sejarah telah berhasil melahirkan dan mendidik generasi qur’ani. Beberapa di antaranya adalah Ummul Fadhl yang memiliki putra yang digelar al-bahr(lautan) karena keluasan ilmunya. Dialah Abdullah bin Abbas, yang mendapat doa dari Nabi Muhammad Saw, “Ya Allah pahamkanlah dia agama dan anugrahkan dia kemampuan dalam hal ta’wil” Dengan doa ini dan juga didikan Ummul Fadhl maka Abdullah bin Abbas menjadi ahli fiqh sekaligus ahli tafsir yang terkenal.

Ada lagi Al-Khansa’, yang merelakan bahkan mengharapkan kesyahidan keempat putranya dalam perang A-Qadisiyah melawan tentara Romawi.Kita juga mengenal Ummu Aiman, ibu asuh Rasulullah yang sangat setia dan mencintai Rasulullah. Fatimah binti Asad, wanita yang mendidik Nabi setelah Abdul Muthalib wafat. Dialah ibu dari pejuang yang gagah berani, Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, nenek dari dua pemuda pemimpin para pemuda surga Hasan ra dan Husain ra, ibu dari pahlawan gagah berani yang gugur sebagai syahid dalam perang Mu’tah, Ja’far bin Abu Thalib.

Selanjutnya ada pula Ummu Sulaim, yang mas kawinnya ketika ia menikah adalah islamnya sang calon suami. Dia adalah ibu dari Anas bin Malik, seorang tokoh periwayat hadits Nabi Saw. Sungguh besarlah peran Ummu Sulaim ini yang telah mendidik Anas bin Malik dengan iman dan taqwa sejak ia masih kecil.

Ada lagi Ummu Umarah, wanita gagah yang terjun langsung dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah Saw, di antaranya perang Uhud, Khaibar, Hunain, dan perang Yamamah menumpas kaum murtad. Dari rahimnya juga lahir seorang mujahid yang tak takut mati, Habib bin Zaid. Ia syahid karena dibunuh oleh Musailamah al Kadzab dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu.

Masih ingat dengan ‘Asma’ binti Abu Bakar yang membantu mempersiapkan perjalanan hijrah ayahnya dan Rasulullah? Sahabat Rasul yang satu ini termasuk wanita pertama yang memeluk Islam.Dari rahimnyalah lahir bayi pertama yang dilahirkan di negeri hijrah, Madinah. ‘Asma’ binti Abu Bakar adalah istri dari Zubair bin Awwan, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga, dan ibu Abdullah bin Zubair yang syahid di tangan al Hajjaj.

Kabsyah binti Rafi’, ibu dari seorang mujahid yang kematiannya mengguncangkan ‘Arsy di langit. Kabsyah binti Rafi’ dikenal dengan kunyah Ummu Sa’ad. Ketika terjadi perang Badar, dua putranya yakni Sa’ad bin Muadz dan ‘Amr bin Muadz ikut ke Badar untuk berjihad di jalan Allah. Ummu Sa’ad sangat bahagia dengan bergabungnya kedua putranya dalam peperangan tersebut. Dia tidak khawatir sedikitpun dengan kehilangan kedua anaknya tersebut jika mereka gugur di medan juang, dan semangat itu ditanamkannya kepada kedua anaknya sehingga mereka tidak gentar sedikitpun menghadari peperangan tersebut, meski jumlah pasukan muslimin sangat kecil dibanding pihak Quraisy.

Kita juga tak mungkin lupa dengan Sumayyah, wanita pertama yang syahid dalam Islam. Dia beserta suami dan anaknya dengan keimanan tinggi mempertahankan agama sampai nyawanya berpisah dengan jasad. Begitu juga dengan Shafiyyah binti Abdul Muthalib yang mendidik putranya Zubair bin Awwam dengan keras dan penuh keprihatinan. Ia mengajari Zubair yang ketika itu masih kecil menunggang kuda dan menggunakan senjata, serta mengarahkan Zubair agar permainannya terfokus untuk belajar memanah dan memperbaiki busur. Shafiyyah juga tidak segan-segan menyuruh putranya untuk melaksanakan tugas-tugas yang beresiko tinggi dan berbahaya.

Itulah beberapa di antara wanita-wanita di zaman Rasul dan sahabat yang telah berperan besar dalam melahirkan dan mendidik generasi qur’ani.Bagaimanakah dengan zaman kita ini? Masih adakah wanita-wanita seperti para shahabiyat tersebut? Jawabannya tentu ada dan akan terus ada selama kita memegang teguh ajaran Islam yang dibawa oleh Rasululah Saw ini. Ummu Farhat adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang mampu melahirkan dan mendidik generasi qur’ani di zaman era globalisasi ini. Ia memiliki 5 orang anak lelaki yang kesemuanya berjihad di jalan Allah untuk membebaskan Palestina dari jajahan Israel. Tiga orang anaknya telah syahid, sedangkan yang satunya cacat karena disiksa oleh tentara Israel. Anaknya yang satu lagi adalah seorang anggota parlemen di Gaza dan sampai sekarang masih mendekam dalam penjara Israel dengan hukuman 500 tahun penjara.Kelima anaknya ini adalah para penghapal alqur’an.

Ahlam At-Tamimi, seorang wanita Palestina yang ditawan Israel dalam penjaranya dengan hukuman 16x penjara seumur hidup, karena dia telah membunuh beberapa orang tentara Israel. Dia juga membantu menyediakan fasilitas untuk mujahidin yang melakukan bom syahid, yang menewaskan puluhan tentara zionis Israel.

Subhanallah, sungguh mereka adalah para wanita yang mulia. Akankah kita mencontoh mereka? Tentu saja, Insya Allah. Namun bagaimanakah caranya agar kita dapat berperan sempurna sebagai ibu pencetak generasi qur’ani? Mampukah kita mendidik anak-anak kita jika kita sendiri masih belum terdidik? Ditambah lagi dengan pengaruh lingkungan yang sangat membahayakan ini?

Seperti yang telah disebutkan di atas tadi, jika ingin mendapatkan istri seshalihah Fatimah ra, maka jadilah seshalih Ali bin abi Thalib.Jika ingin mendapatkan anak yang shalih dan menjadi generasi qur’ani, maka kitalah sebagai orangtua yang pertama sekali harus menjadi shalih dan shalihah. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi” Karena itu jika ingin memberikan pendidikan agama yang baik pada anak-anak kita, maka kita harus memiliki dan menjalankan ajaran agama tersebut terlebih dahulu.

Ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak-anaknya, Karena pada ibulah seorang anak banyak belajar.Begitu lahir, anak belajar menyusui dari ibu, belajar tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, mengucapkan kata pertama, semuanya dengan bantuan ibu. Ibulah yang paling banyak menghabiskan waktu untuk mengurus sang anak dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya dari ke hari ke hari. Maka tidaklah salah jika kita katakan bahwa setiap tokoh besar yang memiliki andil penting dalam menaklukkan berbagai belahan negeri dan kerajaan musuh, serta memiliki nama harum yang disebut-sebut sepanjang masa, selalu dibesarkan dan belajar dari kepribadian seorang ibu yang agung lagi mulia.

Bagi setiap ibu yang ingin keturunannya menjadi generasi qur’ani, hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Susukanlah mereka dengan Air Susu Ibu secara eksklusif selama 6 bulan dengan lanjutan ASI dan makanan tambahan sampai mereka berusia 2 tahun. Sedapat mungkin hindarkan memberi anak-anak susu formula, karena sebaik apapun susu formula, ASI tetaplah yang paling utama, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi yang telah disediakan Allah Swt dalam tubuh seorang ibu.
2. Doakanlah anak-anak kita dengan kebaikan, karena doa seorang ibu adalah doa yang maqbul. Biasakanlah berkata yang baik di depan anak-anak, dan jangan ucapkan kata-kata keji, seperti cacian dan makian terhadap anak. Ingatlah, betapa banyak orangtua yang mengatakan anaknya, “bodoh, pemalas, cengeng” dan ungkapan-ungkapan bernada negatif lainnya menghasilkan anak-anak yang sesuai label atau cap yang diberikan.
3. Ajarkan anak-anak untuk selalu berdoa di setiap saat, agar tertanam di hati mereka rasa takut dan berharap hanya kepada Allah.
4. Ajarkan mereka Alqur’an, kebaikan dan akhlaq karimah, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.
5. Jauhkan mereka dari pengaruh buruk tv, hp, komputer dan segala media yang merusak fisik dan mental mereka.
6. Gunakan metode dongeng dan cerita dalam mendidik anak.
7. Perbanyak waktu bersama anak-anak, sehingga kedekatan anak dan ibu akan terjalin. Jika anak dan ibu memiliki ikatan batin yang kuat, maka akan mudah bagi si ibu untuk mendidik dan mengarahkan anaknya.
8. Beri mereka makanan bergizi yang halal, karena dengan makanan halal lah generasi qur’ani akan terwujud.
9. Ajari mereka permainan yang dapat mengasah otak, fisik dan mental mereka.
10. DIDIK ANAK SEJAK DALAM KANDUNGAN.

Dengan beberapa hal di atas, disertai tekad dan semangat yang tinggi, mudah-mudahan cita-cita setiap ibu yang ingin mendapatkan anak yang shalih dan menjadi generasi qur’ani akan terwujud. Amin. Wallahu a’lam bishshawab.

by : Ummu Ayyasy Ar Rantisi

sumber: http://www.isykarima.com/Ummahaat/peran-ibu-dalam-melahirkan-dan-mendidik-generasi-qurani.html

Posted Januari 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Melajang…..   Leave a comment

Untuk ketiga kalinya aku membuka file under KeluargaSakinah di http://www.alsofwah.or.id, isinya masih dengan topik yang sama. Buruknya melajang, indahnya pernikahan. Ketiga artikel itu berjudul, “Melajang, Enak yang Tidak Enak” tanggal 20 Oktober 2010, “Melajang, Kebebasan Sunyi” tanggal 15 Oktober 2010 dan “Melajang, Nikmat atau Adzab” tanggal 11 Oktober 2010.

Berikut kutipan dari artikel tersebut:
Melajang memang pilihan dengan seabrek alasan dan segunung latar belakang, dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal, dari yang bisa diterima sampai yang mengada-ada, dari yang terdorong oleh pertimbangan syar’i sampai pertimbangan nafsu hewani, apa pun alasan dan latar belakangnya, judulnya tetap satu, muaranya tetap sama, tidak menikah alias membujang. Bahkan di zaman yang katanya modern ini, gaya hidup ini semakin menjadi tren yang membanggakan, orang tidak lagi risih menyandang jejaka lapuk atau perawan STW alisa setengah tuwa, dulu anak-anak muda menikah dalam kisaran umur di bawah dua puluh lima, namun saat ini, umur segitu masih terlalu dini untuk menikah, nunggu sampai kepala tiga bahkan empat.

Rada sulit memang mengendus kegelisahan dalam jiwa dan kegundahan dalam dada, sementara mereka yang memilih jalan ini secara lahiriyahnya tampak enak dan enjoy dengan kesendiriannya. Muncul pertanyaan, apa iya membujang itu ada nikmatnya?

Kayaknya sih demikian, tapi eits ntar dulu, saya katakan sepertinya. Bebas dan merdeka. [Bebas, kesannya menikah adalah penjara atau pasungan. Merdeka, kesannya menikah adalah penjajahan]. Dua kata yang sering dibanggakan oleh orang-orang yang memilih jalan hidup ini. Mau apa, ke mana, di mana? Tidak ada yang nggandoli, tidak ada yang bertanya dan mempersoalkan. Intinya bebas memilih dan melakukan tanpa perlu khawatir izin anu atau ani. Beda dengan orang yang menikah menurut mereka, dia harus ini dan itu dulu dengan istri atau suaminya saat hendak ini dan itu. Ribet dan repot.

Dari perasaan bebas dan merdeka inilah, lahir optimisme pada mereka bahwa urusan lainnya akan lebih lancar, bahkan di sebagian kalangan optimisme ini telah mengakar menjadi sebuah keyakinan. Tidak asing kalau ada yang bilang, “Pantes karirnya lancar, melambung, lha wong dia bujangan.”

Tapi nanti dulu, kita sering terjebak menilai orang dengan kaca mata diri sendiri, orang yang hidup membujang dengan karir meroket, kita kira dia hidup tenang, tenteram dan berbahagia, tetapi belum tentu bukan? Ya belum tentu, kalau Anda ingin membuktikan, silakan mencoba. Berani? Saya yakin tidak, karena kebahagiaan yang sepintas dari melajang hanyalah fatamorgana dan kamuflase. Di saat yang sama berbagai julukan dan gelar yang tidak terhormat tersandang di dadanya: perawan tua, jejaka tua, bujang lapuk, susah jodoh, master jomblo dan lain-lain. Memang enak?

Kalau kita mau jujur, tidak ada orang yang bebas merdeka dalam hidup, tanpa kecuali para pelajang, hidup selalu memiliki ikatan yang Anda suka atau tidak, parti terikat olehnya. Ada ikatan keluarga, tempat kerja, pertemanan dan norma masyarakat bahkan ajaran agama. Hidup ini juga tidak menyisakan ruang untuk kesendirian abadi sampai mati, karena hidup adalah sosial dan manusia adalah makhluk sosial. Lalu di mana letak bebas dan merdeka? Melajang membebaskan satu ikatan dari seseorang, tetapi tidak untuk seluruh ikatan.

Di sisi seberang, menikah. Tidak dipungkiri, menikah juga terkadang bukan memecahkan masalah secara keseluruhan, bahkan bisa jadi ia memicu masalah, sama dengan orang yang membujang, dia juga memiliki masalah. So dari sisi ini, apa enaknya membujang? Toh masalah tetap datang juga, artinya melajang bukan jalan berlari yang baik dari masalah. Hidup kok mau bebas dari masalah, terus mau ke mana? Mati? Justru ini masalah besar. Bukan matinya, tetapi apa yang sesudah mati.

Kembali ke masalah kita kawan, sama-sama menghadapi masalah. Menikah ada masalahnya. Melajang juga sama. Tetapi tetap menikah lebih nikmat, kalaupun kenikmatan melajang terletak pada kebebasannya, tetapi ia adalah kebebasan sunyi, kemerdekaan yang sepi. Sebaliknya menikah, ada masalah? Okey, tapi ada teman dekat yang benar-benar dekat dalam arti sebenarnya, namanya saja garwo, sigarane nyowo, belahan jiwa. Tetapi deman dekat kan bisa didapat dengan membujang? Tidak salah, tetapi sedekat apa? Sedekat-dekatnya teman dekat, toh Anda tidak tidur dengannya dalam satu selimut kan? Toh Anda pasti tidak selalu bersamanya kan?

Suami atau istrinya adalah teman dekat sejati, hakiki, dalam arti yang sebenar-benarnya, tempat kita menumpahkan segala apa yang layak ditumpahkan, teman bebas bercengkerama, ngobrol ngalor-ngidul, gurau bahkan sampai gulat segala, dengan itu kesucian diri terjaga, rasa cinta kasih tumbuh, sikap tanggung jawab berkembang. Di sisi yang sama, lihatlah para pelajang. Mau bercengkerama dan bergulat dengan siapa? Ada sih, yaitu kesepian dan kesunyian.

Betapa tenangnya hati Anda saat Anda curhat kepadanya, sambil meletakkan kepala di dadanya atau di pangkuannya, lalu Anda meremas jari-jemarinya atau memeluk pinggangnya. Duh nyaman dan damainya. Itu kalau dia adalah suami atau istri Anda. Kalau Anda membujang dan melakukannya kepada teman wanita atau laki-laki Anda, apa yang Anda dapatkan? Dosa kawan.

Dari sisi pandangan agama, saat pembujang tertatih meniti jalan agama, orang yang menikah telah mengisi separuh agamanya. “Barangsiapa menikah maka dia telah mengusai sepruh agamanya, maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuh lagi.” Diriwayatkan oleh al-Hakim.

Rumah tangga memang bukan urusan sederhana atau remeh, tetapi di sana terdapat solusi dan penawar hati. Suami istri berbagi, berbicara tanpa sekat dan pembatas, apa adanya, bahkan bermesra dan bercinta yang mendatangkan kenikmatan, ketenangan dan pahala. Sekarang pertanyaannya, adakah semua ini dimiliki oleh pembujang? Yang ada adalah kesepian saat teman-temannya pergi, yang tertinggal adalah bantal dan guling, apa yang bisa dilakukan dengannya? Tidak salah kalau membujang itu merdeka tapi sepi dan sunyi? Mau? Jangan deh. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

Let’s check this out on http://www.alsofwah.or.id

Posted Desember 14, 2013 by 4n1ef in Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.