Anggota Dewan   Leave a comment

“Waktu itu, aku sedang menyiapkan anggaran untuk instansi yang aku pimpin, Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil). Ada utusan dari dewan yang menyatakan jika ingin anggaran Badan ditambah seratus juta, maka masukkanlah anggaran perjalanan dinas sebesar dua ratus juta untuk anggota dewan. Masya Alloh, jumlah yang sangat besar. Akupun mendatangi pimpinan dewan. Lalu katanya sambil jalan, ‘ya kan kalau dua ratus juta itu untuk 14 orang, separuhnya ajalah sekarang yang berangkat’….

Untunglah waktu itu bulan Desember (sebelum anggaran disahkan), ada pemeriksaan di kantor dan menyatakan bahwa itu adalah hal yang tidak benar. Tidak ada anggaran dinas/UPTD/Satker yang tujuannya untuk membiayai perjalanan dinas anggota dewan. Sampai sekarang, aku masih dianggap pengecut oleh sebagian anggota dewan. Hufff….
Pernah suatu kali, ada seorang teman yang ahli di bidang hukum menjelaskan tentang penetapan Peraturan Daerah (Perda) dalam suatu sidang dewan. Dalam salah satu aturan Perda ada yang tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP). Tiba-tiba ada seorang anggota dewan yang menginterupsi, ‘udahlah, yang penting Perdanya ditetapkan, tidak usah melihat PP-nya’. Lalu temanku itu menyahut, ‘apa Bapak tidak tahu hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia??’ Akhirnya, temanku itupun menambah ceramahnya pada anggota dewan.”

Teman-teman, beginilah potret kecil anggota dewan yang kita hormati, yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat awam. Sebagian besar dari mereka, adalah orang yang belum paham tentang aturan-aturan di pemerintahan. Yang mereka tahu, hanyalah uang gaji, sidang dan tunjangan. Mereka yang pandai bicara retorika kesatuan, kesejahteraan, keadilan dan persatuan bangsa. Saat kampanye, janji diobral oleh partai pengusung mereka, men-tazkiah diri mereka sendiri sebagai satu-satunya partai pembela kepentingan wong cilik. Caleg dari artis dan bintang film akan menghiasi kantor-kantor DPR dan DPRD. Dan saat sidang, aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Semoga ke depan, aka ada sistem yang lebih baik dari sistem yang ada sekarang.

Posted Juli 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Selembar Kain   Leave a comment

Jilbab adalah komitmen. Komitmen bahwa seorang muslimah yang baik akan menjaga dirinya dan keluarganya dari hal-hal yang dilarang. Komitmen bahwa “kami mendengar dan kami patuh”. Seorang wanita yang berjibab akan mendorong suaminya untuk berbuat kebaikan, mendidik anak-anaknya menjadi generasi Robbani, dan turut menjaga lingkungan di sekitar ia tinggal dari hal-hal yang bisa merusak. Semua wanita punya pekerjaan, dan pekerjaan teragung adalah menjadi ibu rumah tangga. Siapa bilang, muslimah tak mempunyai peran dalam hal ekonomi, pendidikan dan kesehatan? Sangat bodoh sekali orang yang mengatakan seperti itu.

Allah berfirman:
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ”Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).
Para ulama’ bersepakat bahwa jilbab hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Quran dan sunnah.

ANCAMAN KELUARGA YANG MEMBIARKAN KELUARGANYA TAK BERJILBAB
Seorang mukmin hendaknya menjauhkan dirinya dan keluarganya dari api neraka. Rasulullah bersabda:
Ada tiga perkara, Allah mengharamkan mereka masuk sorga, yaitu pecandu khomer, orang yang tidak taat dan addayus, yang menyetujui istrinya berbuat kejahatan. (HR. Ahmad 5839, Shahihul Jami’: 3052, 2/290).

Addayyus yaitu orang yang mengetahui keluarganya melakukan perbuatan keji seperti zina dan lainnya, tetapi mereka malah mendukungnya atau mendiamkannya. Contoh lainnya lagi: Orang tua yang membiarkan putrinya bergaul bebas dan bersenda gurau dengan pria yang bukan mahromnya. Suami setuju melihat isteri atau putrinya hanya berpakaian pendek, tidak berjilbab, atau membiarkan putri dan isterinya berhadap-hadapan dengan pria bercelana pendek saat nonton telivisi dan Iainnya. (Lihat Mukhtashor Al­Kabaair Adz-Dzahabi: 36).

Demikianlah, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, semoga Allah memberi kesabaran bagi ukhti kita yang berjilbab, semoga kita tidak menjadi penghalang wanita yang berjilbab, semoga kita menjadi pendukungnya walaupun fitnah tidak kunjung padam. Jangan sampai ada dalam pikiran kita, bahkan sampai terucap dalam lisan kita “selembar kain saja kok dirisaukan”. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah ingin menghidupkan cahaya itu. Semoga Allah menunjukkan jalan kebenaran itu pada kita semua.

Posted Juni 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

zakat profesi   Leave a comment

ini ada sedikit bacaan (artikel pendek) untuk teman2 sekalian (dari sekian banyak artikel yang sumbernya bisa googling di internet), bermanfaat, jika tertarik silakan berkunjung ke bawah ini

http://aliph. wordpress. com/2007/ 02/08/zakat- profesi-adakah/

Posted Juni 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

The Island   Leave a comment

Tadi malam, saya bersama Dimaz teman kos saya menonton sebuah film yang berjudul The Island. Dikisahkan di sana, ada perusahaan industry yang menghasilkan produk berupa “manusia”. Produk tersebut dibuat dari cloning sel manusia hidup (sponsor) yang ingin bertahan hidup (sakit atau memperoleh keturunan). Setelah dikloning dan mempunyai tubuh yang lengkap, “mereka” disuguhi dengan video yang menggambarkan masa lalu mereka di dunia, lalu setelah dunia terkontaminasi, mereka ditempatkan dalam perusahaan tersebut. Dalam video itu pula, digambarkan dalam otak mereka bahwa hanya ada satu hal yang mereka inginkan, yaitu kepindahan mereka ke sebuah pulau, dimana disana mereka dapat hidup lebih bahagia.

Selesai film itu, saya beranjak ke kamar, berwudhu dan berbaring. Muncul di kepala saya, menganalogi film itu dalam dunia kita. Kita ditakdirkan mempunyai keccenderungan yang baik dan yang buruk. Itu pilihan, tapi ingat bahwa sebelum kita lahir, kita sudah berjanji bahwa kita akan mengesakan dan beribadah pada-Nya saja. Dan dalam Al-Qur’an, kita telah dijanji oleh Alloh untuk masuk jannah, jika kita hidup sesuai tuntunannya. Makin banyak kita membaca janji-janjiNya tentang surga, maka makin bersemangat kita dalam meraihnya. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Alloh?

Wallohu a’lam.

Posted Juni 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Confessions of an Economic Hit Man   Leave a comment

Sebelum berbicara banyak tentang sebuah buku ini, aku mengucap syukur tak terkira bahwa meskipun aku telat membacanya – buku ini terbit tahun 2004 – tapi setidaknya aku pernah membacanya. Dan buku ini yang telah mengubah sebagian besar paradigma-ku selama aku belajar di ekonomi kapitalis. Aku paham, masih banyak aku-aku lain yang (mungkin) merasa terjebak dalam sistem ini, dan semoga sedikit coretan ini – klo mau banyak ya beli sendiri bukunya ya – bisa memberikan inspirasi bagi rekan-rekan sekalian. Tulisan ini bukan pula hanya dimaksudkan untuk menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, tapi bisa memberi semangat dalam belajar sistem ekonomi yang lebih baik, yaitu sistem ekonomi Islam.

Apa itu EHM?

Economic Hit Man (EHM) adalah professional berpenghasilan sangat tinggi yang menipu Negara-negara di seluruh dunia. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia, USAID, dan organisasi “bantuan” luar negeri lainnya menjadi dana korporasi-korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber-sumber daya alam planet bumi ini. Sarana mereka meliputi laporan keuangan yang menyesatkan, pemilihan yang curang, penyuapan, pemerasan, seks dan pembunuhan. Mereka memainkan permainan yang sama tuanya dengan kekuasaan, sebuah permainan yang telah menentukan dimensi yang baru dan mengerikan selama era globalisasi. Aku tahu itu; aku adalah seorang EHM.

Begitu tulisan pertama dalam buku ini. Kisah selanjutnya bertutur tentang seluk-beluk seorang John Perkins –pengarang buku ini – dalam ‘usahanya’ mengubah dunia menjadi ‘lebih baik’.  Ia telah berada di Indonesia untuk membuat prediksi yang berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh investasi di bidang listrik, berada di Panama dalam rangka negoisasi dengan presiden Omar Torrijos, berada di Arab Saudi demi mendapat pertukaran minyak dengan fasilitas kelas satu dunia dan banyak tempat lainnya.

Ia menulis dalam Kata Pengantar buku ini,, ‘Beberapa orang akan menyalahkan adanya konspirasi yang terorganisasi untuk permasalahan kita sekarang. Seandainya saja itu demikian sederhananya. Anggota sebuah konspirasi dapat dibasmi dan diseret ke muka pengadilan. Akan tetapi, sistem ini dimotori oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada konspirasi. Sistem ini tidak dikemudikan oleh segerombolan kecil manusia, tetapi oleh sebuah konsep yang telah diterima sebagai sebuah doktrin, gagasan bahwa semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi umat manusia dan bahwa makin besar pertumbuhan itu, makin meluas manfaatnya.  Keyakinan ini juga mempunyai konsekuensi: bahwa orang-orang yang menyalakan api pertumbuhan ekonomi seyogyanya diagungkan dan dihadiahi, sementara mereka yang dilahirkan sebagai golongan pinggir disediakan untuk dieksploitasi.

Konsep ini tentu saja salah. Kita tahu bahwa di banyak Negara, pertumbuhan ekonomi hanya bermanfaat bagi segelintir penduduk dan mungkin sesungguhnya mengakibatkan keputusasaan yang makin meningkat bagi mayoritas penduduknya.’ Yang kaya makin kaya,, miskin semakin miskin.

Apa yang dilakukan para EHM?

Pada bagian Pendahuluan, ia menulis, ‘inilah yang kami para EHM upayakan dengan sebaik-baiknya: kami membangun kekuasaan global. Kami adalah sekelompok laki-laki dan perempuan elite yang memanfaatkan organisasi keuangan internasional untuk menimbulkan kondisi yang menjadikan bangsa-bangsa lain tunduk pada corporatocracy yang menjalankan korporasi kami yang paling besar, pemerintah kami dan perbankan kami. Seperti rekan sejawat kami di Mafia, para EHM bermurah hati. Ini berbentuk pinjaman untuk mengembangkan infrastruktur – pembangkit tenaga listrik, jalan raya, pelabuhan, bandar udara, atau kawasan industri. Sebuah syarat pinjaman seperti itu adalah bahwa perusahaan rekayasa dan konstruksi dari kamilah yang mesti membangun semua proyek itu. Pada hakikatnya, sebagian besar uang itu tidak pernah meninggalkan Amerika Serikat; uang itu hanya ditransfer dari kantor perbankan di Washington ke kantor bagian rekayasa di New York, Houston atau San Francisco.’

Posted Mei 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Standar Penghasilan kita, sudahkah cukup?   Leave a comment

Adalah Abu Bakar radiyallohu ‘anhu, seorang pedagang kain, dan melewati hari-harinya dengan berbisnis itu. Ketika beliau diangkat menjadi khalifah, sebagaimana biasanya beliau pun pergi ke pasar pada pagi hari dengan membawa beberapa kain untuk dijiual di sana.

Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan Umar bin Khattab radiyallohu ‘anhu. Umar pun bertanya:

“Hai Abu Bakar, mau ke mana engkau?”

“Ke pasar”, jawab Abu Bakar.

Umar berkata: “Apabila engkau sibuk dengan perdaganganmu, lalu bagaimana dengan urusan kekhalifahan?”

Abu Bakar berkata: “Kalau demikian, bagaimana saya menafkahi anak dan istri saya?”

Umar berkata: “Mari kita menemui Abu Ubaidillah yang diberi Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam gelar Aminul Ummah (orang kepercayaan ummat). Dia akan menetapkan gaji bagimu dari Baitul Mal.” Keduanya pun pergi menemui Abu Ubaidillah, maka Abu Ubaidillah menetapkan tunjangan untuk Abu Bakar , sebagaimana yang ditetapkan bagi setiap muhajir (orang yang berhijrah) tanpa pengurangan dan penambahan.

Pada suatu ketika, istrinya memohon kepada Abu Bakar ra,: “Saya ingin makan manisan”

Abu Bakar berkata: “Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya”

Istrinya berkata: “Kalau engkau setuju, saya akan menyisihkan sedikit uang dari pembelanjaan setiap hari, sehingga dalam beberapa hari uang itu sudah terkumpul”. Maka Abu Bakar  pun mengijinkannya.
Istrinya sudah menyisihkan uang sedikit demi sedikit, sehingga dalam beberapa hari uang itu sudah terkumpul. Istrinya menyerahkan uang itu kepada Abu Bakar untuk dibelikan bahan-bahan manisan. Abu Bakar berkata: “Dari pengalaman ini saya tahu, bahwa kita mendapatkan gaji yang berlebihan dari Baitul Mal.” Oleh karena itulah uang yang dikumpulkan istrinya  dikembalikan ke Baitul Mal dan dia mengurangi gajinya untuk selanjutnya sebanyak yang dikumpulkan oleh istrinya setiap hari.

Subhanallooh! Kisah yang luar biasa. Jika kita membaca kisah seperti itu, kita pun merasa ragu, dan bertanya-tanya: “Apa benar kisah seperti terjadi? Seperti karangan fiksi saja, mengada-ngada dan dibesar-besarkan.” Itulah yang ada di pikiran kita. Hal yang wajar, karena pada setiap hari, apa yang kita lihat sangat jauh berbeda dengan kisah itu. Coba kita bandingkan dengan pemimpin sekarang ini. Mereka hidup dengan penuh kemewahan. Setiap aktivitasnya, seakan-akan ditanggung oleh negara. Uang makan, uang bensin, uang penginapan, mobil, rumah, dan masih banyak lagi, sukar untuk sebutkan, semuanya ditanggung oleh negara.

Tapi lihat kisah itu, Abu Bakar seorang Khalifah, pemimpin negara, gajinya tak mampu untuk membelikan manisan untuk istrinya. Bahkan yang lebih menarik, ketika istrinya mampu menyisihkan uang belanja harian, uang itu pun akhirnya dikembalikan ke Baitul Mal. Yang lebih menakjubkan lagi, uang gaji itupun akhirnya dikurangi karena dianggap berlebihan. Abu Bakar meminta uang gajinya diturunkan.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa, sebelum Abu Bakar meninggal, beliau berwasiat kepada anaknya, Siti Aisyah ra, untuk mengembalikan barang-barang keperluannya yang berasal dari Baitul Mal. Barang-barang itu berupa seekor unta, sebuah mangkok, dan seorang hamba sahaya. Setelah semua barang itu dilkembalikan dan diterima oleh Umar bin Khattab, maka Umar berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, beliau telah memberikan contoh yang sangat sulit ditiru oleh para penggantinya.”

http://elqolam.myblogrepublika.com/2010/05/02/gaji-seorang-khalifah/

Jangankan untuk korupsi, mengambil sesuatu yang menjadi haknya sendiri saja, beliau enggan melakukannya. Itulah Khalifah Umar bin Khatthab, yang terkenal kezuhudannya. Meski beliau berposisi sebagai kepala negara atau amirul mukminin, beliau tak pernah tergiur dengan gemerlapnya harta benda.

Ketika menerima utusan dari negara-negara di jazirah Arab yang telah ditaklukkan, beliau menyambutnya dengan mengenakan satu- satunya jubah beliau yang penuh tambalan yang lusuh. Berapa tambalannya? Tambalannya ada di 12 tempat.

Sebagai pengganti Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, mestinya beliau berhak mendapatkan gaji yang lebih banyak dari Khalifah Abu Bakar. Soalnya wilayah kekhilafahan Islam waktu itu semakin luas berlipat ganda, sehingga semakin banyak pula tugas dan kewajibannya. Kehidupan rakyat pun semakin makmur. Ternyata beliau lebih memilih menerima gaji yang sama dengan yang diterima oleh Khalifah Abu Bakar, pendahulunya.

Orang-orang terdekatnya merasa iba dan prihatin atas sikap kesederhanaannya itu. Beberapa kali mereka mengusulkan agar Khalifah Umar mau menerima gaji sesuai tanggung jawabnya. Tetapi usulan itu selalu beliau tolak.

“Mengapa kalian memaksaku untuk menerima gaji yang melebihi kebutuhanku. Ketahuilah, walaupun Rasulullah SAW diampunkan dosanya yang telah lalu dan yang kemudian, namun beliau tetap memilih hidup sederhana, tetapi tetap bersemangat dalam beribadah. Apalagi aku ini?,” kata beliau.

[Disarikan dari 50 Kisah Nyata 5, Ahmad Najieh, cetakan I, 1999, penerbit Pustaka Progressif]

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=180

Menerima gaji dari sebuah pemerintahan bukanlah hal yang memalukan, selama pekerjaan yang kita lakukan bersesuaian dengan kemaslahatan umat. Begitu pula Abu Bakar, yang akhirnya menerima saran dari sahabat Umar tersebut. Namun, bukan berarti Abu Bakar menggunakan fasilitas yang diberikan kepadanya untuk kepentingan pribadi.

Adalah sebuah kisah yang terkenal ,, kisah khalifah di zaman Bani Umayyah. Syahdan, suatu malam datanglah seorang utusan menghadap kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Waktu itu, beliau sudah hendak istirahat setelah seharian bekerja. Namun begitu diberi tahu bahwa yang datang adalah seorang utusan dari jauh, beliau rela menunda istirahatnya dan menemui sang tamu.

Ternyata tamu itu memang utusan dari seorang gubernur yang ingin melaporkan hal ihwal daerahnya kepada khalifah. Tentang keadaan rakyat, keadaan pemerintahan, perkembangan Islam dan sebagainya. Baginda mendengarkan semua laporan dari utusan tersebut dengan seksama. Selama menerima tamu tersebut, baginda mendapatkan penerangan sebuah lilin.

Selesai melaporkan segala sesuatunya, sang tamu kemudian bertanya tentang hal ikhwal Sang Khalifah. Begitu pertanyaan beralih kepada diri pribadinya, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz tiba-tiba memadamkan lilin yang sejak tadi menerangi ruangan. Kemudian beliau menyuruh pembantunya untuk menyulut lampu minyak kecil. Sehingga ruangan itu menjadi remang-remang.

Sang tamu keheranan melihat tingkah laku Sang Khalifah dan bertanya.
“Mengapa paduka memadamkan lilin dan beralih hanya menghidupkan lampu minyak kecil?”

“Lilin ini dibeli dari uang negara, uang rakyat. Tadi engkau melaporkan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan rakyat. Sehingga aku dapat memanfaatkan lilin ini untuk kepentingan rakyat. Sekarang engkau bertanya tentang pribadiku. Maka aku tidak boleh lagi mempergunakan lilin yang dibiayai oleh rakyat itu untuk urusan pribadiku.”

Utusan itu mengangguk-angguk tanda memahami jalan pikiran baginda yang benar-benar amat berhati-hati menjaga amanah rakyat itu.

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=180

Begitulah Umar bin Abdul Aziz,, yang aku (dan semoga Anda sekalian) menjadikannya sebagai tolok ukur untuk memisahkan antara mana yang boleh dimakan dan mana yang menjadi kepentingan masyarakat. Pernah kudengar, “ambillah teladan dari seseorang yang sudah mati, karena engkau tahu akhir dari kehidupannya (apakah ia baik atau buruk) dan janganlah engkau ambil teladan dari orang yang masih hidup karena mereka belum diuji (akhir hidupnya belum tentu baik).” Banyak di sekeliling kita yang masih berprinsip seperti bell boy, yang suka menerima tip tiap mengantar barang untuk tamu hotel. Atau merasa sudah banyak sekali berkorban dan berkontribusi sehingga seluruh rumah, mobil, motor, sekolah anak sampai pada membersihkan kamar mandi menggunakan fasilitas dari Negara.

Apakah salah? Pertama, mari kita kembali  pada definisi korupsi yang telah dirumuskan oleh hukum. Menurut perspektif hukum, definisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah Pasal dalam UU No.31 tahun 1999 jo. (baca: junto) UU No.20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan dalam 30 bentuk/jenis tindak pidana korupsi, antara lain: menyebabkan kerugian keuangan Negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, dan perbuatan curang. Tentang hukum ini bisa Anda baca juga dalam UU No.28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Kedua, dari segi etika atau moral. Terkadang, orang yang korupsi tidak merasa bahwa dirinya sudah berbuat korupsi. Seorang yang sejak kecil dididik bahwa menerima imbalan saat pengurusan KTP atau SIM adalah wajar, maka a (bahkan) akan menuntut seandainya ia tidak menerima imbalan tersebut. Ia (boleh jadi) akan mencari sumber lain di luar gaji pokoknya demi mencukupi kebutuhannya (padahal sebenarnya bukan kebutuhan tapi keinginan).

Yang ketiga dan ini yang pokok, adalah bahwa tidak ada God’s responsibility, tanggungjawab pada Alloh Ta’ala. Bahwa dalam masalah harta,, aka ada 2 pertanyaan, darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan. Dalam sebuah hadits, Rasululah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan , hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan”� (Hadits Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi). Dan rasa bersyukur kita atas apa yang kita dapatkan dari yang halal itulah nantinya yang akan menjadi barokah dalam hidup kita. Karena dengan melihat yang lebih bawahlah,, kita bisa bersyukur.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah: 2)

Mungkin terasa tulisan ini serasa ‘mendulang air di kolam, terpercik muka sendiri’. Mungkin sistem yang tidak mengijinkan, juga pribadi yang masih jauh dari kesempurnaan. Namun lebih dari itu, semoga gonggongan dan gigitan dari tulisan ini tidak menjadi kegiatan tanpa arti. Semoga tulisan ini bisa ditendang dan dioper untuk menjadi sebuah gol. Gol cantik yang berarti aksi nyata, dan bila itu butuh proses yang lama, setidaknya tulisan ini bisa menjadi perenungan bagi Anda sekalian, karena bagaimanapun sebuah tindakan dan kebijakan berasal adalah buah dari pikiran dan perasaan..

Sumber:

http://elqolam.myblogrepublika.com/2010/05/02/gaji-seorang-khalifah/

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=180

http://cerita-anak-islami.blogspot.com/2010/05/menjaga-amanah.html

http://www.dakwah.info/biografi-tabien/145-khalifah-umar-abdul-aziz

Posted Mei 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Dinasti Tikus   Leave a comment

Drama pengungkapan berbagai kasus yang menimpa para pejabat sepertinya akan terus berlanjut, jika tak tertutup kasus lain. Seperti downline dalam MLM, satu orang ‘tertarik’, ia akan ‘menarik’ tiga atau bahkan lima orang yang lain. Satu orang diseret ke meja hijau, ia akan “bersiul” membeberkan nama yang terkait dan ikut menikmati hasilnya. Suatu sikap yang secara naluri memang ada pada setiap manusia. Barangkali Anda pernah menghardik anak Anda karena merusak mainan temannya, lalu tanpa Anda minta ia akan mengadukan teman-temannya yang berpartisipasi dalam perusakan tersebut dengan harapan mereka juga akan dimarahi. Karenanya, saat satu ‘gayus’ tertangkap, akan menyusul ‘gayus-gayus’ lain, kecuali jika ‘gegayus’ itu berhasil membungkam para pengincarnya.

Kian hari, kasus-kasus ini tidak menunjukkan tren positif. Positif dalam arti, oknum-oknum yang sudah terungkap saja yang melakukan korupsi, suap, jadi makelar kasus maupun terlibat jaringan mafia hukum yang diproses secara hukum. Kasus yang terungkap ibarat pucuk es yang terlihat hanya seperti bongkahan di permukaan tapi ada gunungan dibawahnya. Meski begitu, yang sedikit itu sudah mampu memberi gambaran, betapa korupsi, suap dan kecurangan seperti telah mengurat akar di negeri ini. Membayangkan saja, seorang akan pesimis bisa memberangus sarang tikus di negeri ini sampai bersih. Apalagi melihat realita, para pejuang pembasmi tikus banyak yang kewalahan menghadapi berbagai intrik dan jebakan dari tikus-tikus babon yang telah berpengalaman. Parahnya lagi, para tikus telah berhasil menggerogoti institusi penegak hukum. Sepertinya, dinasti tikus telah berdiri tegak di sini.

Ngomong-ngomong soal korupsi, suap dan kecurangan, telunjuk kita akan menuding pejabat dan level atas. Tapi benarkah cuma pejabat saja yang menjadi atau berpotensi menjadi tikus? Sedang rakyat kecil yang biasa berdemo antikorupsi, yang selalu mencibir saat mendengar kasus korupsi ditayangkan di tv, adalah manusia-manusia bersih dan murni tak memiliki nafsu korupsi maupun kolusi?

Semoga saja iya, dan semoga saja hal itu bukan cuma karena – maaf- kita tidak punya kesempatan saja. Andai saja ada kesempatan, wallohu ‘alam wa na’udzubillah, belum tentu kita tidak ikut-ikutan menjadi tikus. Dan, benarkah kita tidak sama sekali memiliki potensi korup, suap dan senang dengan kecurangan?
Coba kita lihat, setiap kita hampir pasti pernah berurusan dengan institusi hukum seperti polisi, pengadilan, atau pajak dan berbagai urusan perizinan. Apa yang kita lakukan saat kena tilang? ‘damai’ dengan berbagi sedikit rizqi dengan petugas atau sidang di pengadilan? Dan saat sidang, adakah kita benar-benar disidang atau minta tolong calo di lobi pengadilan untuk mengambilkan SIM atau STNK? Dan apa yang kita lakukan saat kesulitan mengurus berbagai surat atau perizinan di berbagai kantor instansi?

Wallohul musta’an. Kita memang masih bisa berdalih tak kuasa mengelak jeratan sistem korup yang seperti sudah mengurat – mengakar, mentradisi dan mengkultur di negeri ini. Tapi jujur, kita juga tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kasus, kadangkala kita melakukan itu karena tak ingin ribet alias cari mudahnya saja. Dimana dengan begitu, kita telah menjadi donator bagi kejayaan dinasti tikus di bumi pertiwi. Kalau begini, sampai kapanpun dinasti tikus takkan mungkin tergoyahkan. Karena ternyata, secara diam-diam kita –saya dan Anda – telah menjadi simpatisan dan menjadi akar serabutnya.

Sumber: Majalah Ar-Risalah No.107/Vol.IX/11 kolom Biah halaman 2-dgn sedikit perubahan. 22/06/2010

Posted April 14, 2014 by 4n1ef in Uncategorized

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.